Aktivitas ngopi, bagi saya, bukan sekadar menikmati secangkir kopi dan ditemani sebatang-dua batang rokok. Lebih dari itu, menikmati waktu senggang di warung kopi bisa menjadi ajang silaturahmi. Bertemu dengan teman, yang itu-itu saja, sembari menceritakan harinya menjadi salah satu ajang pelepas penat. 

Ada yang curhat soal pekerjaan, pasangan, sampai sedikit-sedikit membahas politik dengan nalar seadanya. Apa pun itu, yang penting ada bahan omongan. 

Terkadang ada perasaan jengkel yang hadir mendadak saat salah satu teman mojok, diam, dan memengang hape secara horizontal. Apa gerangan yang dilakukan? Jangan bertanya seperti itu; kecuali Anda orang yang gaptek atau hape Anda masih Java, itu bisa dimaklumi.

Mereka yang diam seribu bahasa dan memegang hape secara miring bisa dipastikan sedang download film bokep bermain salah satu gim yang sedang booming saat ini. Entah gim tawuran lima lawan lima atau tembak-tembakan yang selalu berteriak chicken saat memenangkan permainan.

Kedua jenis golongan ini, bagi saya, sama-sama menyebalkan dan perlu disadarkan. Memainkan salah satu gim tersebut bukan menjadi salah satu penyebab rasa kesal saya, tapi ketidakpedulian mereka dengan sekitar yang terkadang membuat saya jengkel. 

Saya pernah mengalami kejadian menjengkelkan saat berjanji bertemu teman semasa kuliah.

Saya beserta tiga teman saya berjanji bertemu di salah satu warung kopi di daerah dekat kampus saya, tempat saya dan teman-teman dulu sering menghabiskan waktu semasa kuliah. Rasa kangen yang membuncah membuat saya senyam-senyum saat menuju lokasi. 

Perjalanan dari rumah menuju lokasi janjian, sekitar tiga puluh menit jika tidak macet, bukan menjadi penghalang untuk bertemu teman seperjuangan semasa kuliah. Setibanya di warung kopi, saya mendapati tiga orang teman saya sedang fokus bermain ponsel.

Saking fokusnya, kedatangan saya tidak mereka sadari. Sembari memesan kopi dan mengambil sebatang rokok, saya lantas duduk sembari menyumpahi mereka bertiga dalam hati.

Pada saat itu, saya bersumpah, selepas kopi yang saya pesan hanya meninggalkan ampasnya, dan rokok yang diisap sudah mencapai batas filternya, saya akan cabut. Pulang. Saya merasa tidak perlu hadir di antara mereka.

Keberadaan saya seperti spanduk Caleg yang tidak diacuhkan para pengguna jalan. Ketiga teman saya tidak sendiri karena hampir 34 juta orang di Indonesia keranjingan bermain game online (Pikiran-rakyat.com, 6 Agustus 2018)

Ada yang pernah mengalami hal seperti saya? Semoga saja tidak. Jika ada, harap bersabar dan jangan meniru apa yang sudah saya perbuat. 

Pergi tanpa pamit dan memutus tali pertemanan bukan kultur bangsa ini. Menyadarkan bukan meninggalkan, itulah yang perlu dilakukan. Anggap saja mereka sebagai korban. Korban dari kejamnya kapitalsme gim hape pembuat candu yang berujung berkurangnya intensitas komunikasi secara langsung. 

Seiring berjalanya waktu dan merenung di warung kopi, saya menemukan beberapa cara yang bisa digunakan untuk menyadarkan para penggila gim ini. Setidaknya cara-cara ini bisa sedikit mengalihkan perhatian mereka dari layar ponsel.

Ajak Mereka Bicara, Jangan Didiamkan

Salah satu cara yang sering saya praktikan adalah mengajak bicara. Terdengar sulit memang karena orang-orang yang datang ke warung kopi dan mengharapkan koneksi WiFi yang bagus untuk bermain gim biasanya enggan untuk diajak berbicara. 

Biasanya mereka langsung menghentikan kita untuk mengajaknya bicara karena masih fokus mendapat chicken dinner.

Tapi, sebisa mungkin ajak mereka bicara saat jeda bermain. Persetan jika kalian dianggap berisik karena mengganggu keasyikan mereka. Cari topik pembicaraan yang masih berhubungan dengan mereka. Misalnya teman Anda seorang pengangguran, ajak dia bicara soal lowongan pekerjaan.

Beri mereka bahan obrolan soal lowongan pekerjaan yang ada di tempat kerjamu. Jangan langsung to the point saat membicarakan soal lowongan pekerjaan yang ada di tempatmu bekerja. Mulailah percakapan dengan pembuka seperti ini: “mencari pekerjaan susah ya zaman sekarang?"

Atau, "gimana, sudah naruh lamaran di mana saja?” Tujuanya agar percakapan bisa lebih lama dan mengalihkan perhatian mereka dari gim. Saya yakin, hati kecil mereka pasti tergerak dan memperhatikan Anda yang sedang membicarakan pekerjaan. 

Percayalah bahwa orang yang menganggur hanya menggunakan gim sebagai pelampiasan sulitnya mencari pekerjaan.

Bagaimana jika yang kita hadapi lebih dari satu orang, seperti pengalaman saya? Apa cara ini masih berhasil?

Jika kondisinya demikian, memang agak sulit. Perlu sedikit keberanian saat menjadi berbeda di antara orang banyak. Perlu mental baja saat menjadi minoritas di antara mayoritas.

Jadilah sedikit radikal dengan memulai kebisingan di antara mereka yang terdiam menatap hape. Gunakan sindiran seperti ini: “Ealah, hape teroooss! Ngomong sama hape? Jomblo sok sibuk sama hape?”

Atau, kalau mau sedikit greget, gunakan ancaman: “Oke, aku balik dulu.” Kalau tidak berhasil dan dicueki, ya sudah, perbanyak istighfar. Minta diberi kesabaran lebih oleh yang di Atas. Dan daripada sakit hati, lebih baik ngobrol saja sama pemilik warung kopinya.

Membajak Koneksi WiFi

Membajak dalam hal ini bukan secanggih yang dilakukan para hacker dalam film Who Am I. Cara membajak yang saya maksud di sini adalah menganggu sinyal WiFi yang digunakan teman kalian saat bermain gim dengan cara membuka video live stream atau men-download file berukuran besar. 

Mengunduh file berukuran besar bisa membuat koneksi WiFi menjadi lemot. (Merdeka.com, 7 April 2016)

Koneksi yang buruk bisa menjadi salah satu penyebab kekalahan dan berujung umpatan: “Ngeleg, cuk.” Dijamin teman Anda akan berhenti bermain gim, dan percakapan bisa dimulai.

Cara ini sebenarnya terdengar egois, karena mengambil hak orang untuk menikmati koneksi WiFi yang disediakan warung kopi. Bagi saya, orang yang tidak memedulikan teman di hadapannya hanya untuk sekadar mengejar chicken dinner jauh lebih egois.

Meminjam istilah Jurgen Habermas, sosiolog, warung kopi merupakan bagian public sphere atau ruang publik tempat orang-orang berkumpul dan berdiskusi. 

Warung kopi sejatinya bisa digunakan lebih produktif sebagai ajang tukar pikiran atau sekadar berkeluh kesah antar-sesama. Warung kopi bukan hanya tempat untuk sekadar mengharap koneski WiFi dan mengasingkan diri.