Wiraswasta
2 bulan lalu · 351 view · 2 min baca · Puisi 99838_59155.jpg

Resah yang Tumpah

Semuanya untukmu

Telah kucuri fajar dari timur
Bersama segudang mimpi yang menjelma ilusi
Agar ketika kau mencari
Kau menemui hati ini

Telah kurebut mentari tengah hari
Dari kerumunan segala keluhan
Agar ketika kau berkeringat,
Tetap terus semangat

Telah kupotret sinar jingga,
Dari amarah-amarah polusi roda.
Agar ketika kau pulang dengan setumpuk persoalan,
Kuhidangkan di dalam matamu.

Kekasih.

Telah kupenjarakan bulan dan bintang,
Di dalam jeruji diri kesunyian.
Agar ketika kau dirundung gelap,
Kukirim mereka untuk mendekap.


Aku enggan

Aku enggan mencintaimu seperti pelangi
Mengundang hujan
Membelokkan cahaya mentari
Larut dalam kesementaraan

Aku enggan menyayangimu seperti bulan dan bintang
Menuntut gelap datang
Enggan seperti matahari
Menuntut gelap pergi

Aku enggan memilikimu seperti kandang
Mengurungmu
Seperti tali
Mengikatmu

Aku, enggan.
Mencintai, menyayangi;
Memilikimu. Kasih.
Aku dan kamu, tanah. Kan hancur.


Celoteh sebelum tidur

Ada yang tak pernah hilang ditelan waktu,
kenangan.
Kala sisa-sisa puing perjalanan masih melekat dalam dada,
terus menyala dalam kepala.

Tembok dalam diri telah roboh oleh sebab hati yang sudah kokoh.
Pada kesengsaraan yang tak pernah lelah dijalani tanpa menyerah.
Putus asa telah tiada disetiap memandang wajah orang-orang tersayang.
Seluruh ku hari ini untuk masa depan mereka; di hari nanti.

"Nak, jauh sebelum kau lahir. Aku pernah hampir mati diberondong peluru yang pistolnya sudah ku arahkan pada diriku. Padahal, pistol itu milikku."

"Nak, jauh sebelum ibu mu datang membawa kesejukan, ketenangan, serta kebahagiaan. Aku pernah hampir terbawa hanyut oleh arus keputusasaan. Hingga pada dibawah jembatan kota pada waktu itu, aku menangis sejadi-jadinya; sembari menggenggam pisau yang ku letakkan di urat nadi tanganku."

Nak, tumbuhlah dengan gagah berani. Sebelum kau berceloteh ingin taklukkan dunia, taklukkan dirimu sendiri.


Rumah cinta

Aku menjelma matahari, dan kau menjelma bulan.
Saling berbagi penerangan,
memberi kebermanfaatan.
Kita sama-sama menjelma penghidupan.

Aku tanah dan engkau cangkul,
Anak-anak kita menjelma benih.
Sama-sama kita memikul, tanpa pamrih.
Untuk keseimbangan peradaban.

Aku kursi dan engkau meja,
anak cucu kita di beranda.
Merawat suka duka,
dalam rumah cinta.


Nasib

Wajahnya yang teduh
Dengan hidup ia bertaruh
Tanpa berkeluh
Terus mengayuh

Sekali terhenti
Sekadar menyeka keringat
Yang mengalir di pipi hingga dahi
Terus merawat amanat

Terlihat bayang berharga di muka
Anak istri menunggunya
Berharap membawa nasi
Beserta apa-apa yang ia beli


Buah hidup

Pada suatu perjalanan yang tanpa tujuan
Diri ini kembali tak dipertemukan dengan jawaban atas pertanyaan yang selama ini tersesat dalam rimba alam pikiran

Pada suatu pelayaran tanpa hembusan angin
Diri ini kembali dihantam gelombang yang entah darimana datangnya
Menenggelamkan diri pada kedalaman yg paling dasar

Barangkali, iya. Hidup bukan sekedar menyoal keindahan pada setiap khayalan. Lebih dalam lagi, hidup adalah melawan kejutan-kejutan segala prahara yang entah kapan saja datangnya.

Teruntuk nurani, biasakan untuk tegar menghadapi. Juga kepada nalar, jangan dibiasakan menghadapi dengan langsung menggelegar.

Aku mencintai hidup dengan segala keajaiban semesta disetiap harinya.


Kelimpungan

Langkah-langkah telah menunaikan tugasnya
Arah-arah tak kunjung memberi jawaban
Segumpal badan terombang-ambing dalam dunia
Menerka-nerka sekumpulan harapan

Doa-doa menggumpal di udara
Buah hasil uap keringatnya
Mengembun di awan-awan
Meneteskan tangisan-tangisan

Buku dan pena telah habis,
keduanya telah menemukan muara.
Di lembar terakhir yang berbaris,
guratan tentang suka - duka.

Inikah hidup yang lupa ruang dan waktu,
Semua terasa membelenggu.
Inikah hidup yang penuh tanda tanya,
Tak cepat menemukan jawabannya.


Mimpi-mimpi

/1/
Pagi telah tiba
Dirinya terbangun seperti biasa
Kemeja merah tua dicarinya
Untuk dipakai di badannya

/2/
Sehelai dasi di ambilnya
Dipasangkan disela kerah kemejanya
Merapikan letak dasinya
Dan ia tersenyum bahagia

/3/
Wajahnya menghadap cermin sembari berkaca-kaca
Menangis ia sejadi-jadinya
Melemparkan seluruh yang ada di badannya
"Bu, cita-citaku dulu seperti ini." Katanya


Harap-harap waktu kecil

/1/
Dulu, disela-sela bermain
Mereka selalu berucap angan yang keluar dari batin
Sembari tertawa
Pandai mencipta gembira

/2/
Di arungi mimpinya yang tinggi
Tanpa penopang diri
Tanpa berpikir lagi
Untuk menasehati dirinya sendiri

/3/
Di dinding malam
Dirinya muram
Tak kuasa melawan dunia
Yang dulu diharapkannya

Artikel Terkait