Mahasiswa
4 minggu lalu · 1162 view · 4 menit baca · Politik 84132_71288.jpg
Twitter

Republik Indonesia Garis Lucu

Musim kemarau ini, suhu udara memang bisa dibilang lagi panas-panasnya. Sudah panas, puasa lagi. 

Namun soal panas-panasan, Twitter juga tak mau kalah. Apalagi menjelang pengumuman pemenang resmi pemilu tanggal 22 Mei ini meski ternyata tanggalan milik KPU dipercepat sehari. Diperkirakan suhu Twitter naik sebanding garis waktu menuju tanggal itu. Isinya dikit-dikit politisasi, dikit-dikit kontroversi, dikit-dikit emosi.

Memang Tuhan tidak salah menciptakan dua jempol untuk memprovokasi.

Setelah berbaku hantam scrolling-scrolling di twitter yang isinya cuma pemila-pemilu aja, eh la dalah kok masih ada ya yang malah bahas sandal hilang di masjid. Yang reply dan retweet non-muslim pula. Berani-beraninya mereka. Nggak takut dikira penista agama?

Pindah ke reply-reply di bawahnya, kok malah pada dibuat guyonan? Hati-hati! Agama loh ini, bukan mainan.

Sumber: akun twitter @KatolikG

Fenomena GL (Garis Lucu)

Ketika mengisi kolom telusur dengan keyword “garis lucu” di Twitter, maka yang akan muncul kemudian adalah @Nugarislucu, @MuhammadiyahGL, dan lainnya.


Meskipun masih banyak lagi akun-akun dengan embel-embel garis lucu, namun kelucuan yang benar-benar authentic adalah milik akun-akun GL masing masing ormas. sebut saja @BuddhisGL, @KatolikG, @KonghucuL, @HkbpLucu, @ProtestanGL, @HinduGL, dan GL-GL lainnya.

Bahkan yang dikata ormas garis keras pun ikut-ikutan nimbrung macam @WahabiLucu, @salafigarislucu, sama @HTIgarislucu.

Twit-twit yang dihadirkan oleh akun-akun tersebut agaknya dapat sedikit mencairkan keadaan. Meskipun tak jarang nggak ngeh dan harus googling dulu demi memahami guyonan-guyonan yang dilontarkan, namun inilah yang menjadi keistimewaannya. Masing-masing melempar anekdot-anekdot sesuai kearifan budayanya.

Tak jarang akun-akun tersebut saling lempar jokes hingga perang jokes. Saling me-roasting satu sama lain. Namun ending-nya tetap sama: semua tertawa, semua bahagia.

Melihat fenomena ini di tengah-tengah kondisi yang dikit-dikit tegang, dikit-dikit marah ini, benar-benar seperti menemukan oase dengan mbak-mbak macam Maudy Ayunda yang siap menyambut beserta segelas es degan ijo. Sueger tiga ribu.

Humor dan tawa yang menyatukan

Victor Borge, pelawak asal Denmark, pernah menulis, “Tawa adalah jarak terdekat antara dua orang.”

Sebagai metode komunikasi, humor dapat meningkatkan hubungan antarindividu. Ketika sesorang melempar humor kepada orang lain lalu direspons dengan tawa, maka telah terjadi transfer emosional yang positif di antara mereka. 

Proses transfer emosional inilah yang akan menghadirkan rasa nyaman sehingga dapat lebih terbuka satu sama lainnya. Munculnya tawa juga mengindikasikan bahwa humor tidak hanya dinikmati, tapi juga dipahami.

Menurut teori Relief  Tension, humor dan lelucon dipandang sebagai sarana untuk mengurangi tensi ketegangan. Berdasarkan tinjauan ini, lelucon-lelucon yang muncul merupakan bentuk reaksi terhadap keadaan sekitar yang penuh dengan ketegangan.

Munculnya akun-akun GL tersebut secara tidak langsung juga merupakan respons akan keadaan saat ini yang serbaserius dan tegang. Mereka berupaya untuk membuat cair keadaan dengan membuat jokes-jokes jenaka dengan bumbu latar belakang masing-masing.

Netizen pun merespons positif kehadiran akun-akun tersebut. Reply-reply yang ditunjukkan pun mengindikasikan bahwa kebanyakan dari mereka sudah bosan dengan keadaan yang panas ini. Mereka berbaur dalam tawa tanpa memandang latar belakang suku, ras, maupun agama.

Melawan dengan Humor

“Dalam lelucon terselip revolusi kecil.” Kiranya seperti itu seorang kritikus sastra asal Inggris, George Orwell, menggambarkan betapa bahayanya lelucon dan anekdot untuk menggiring opini masyarakat.

Suatu keadaan yang tidak semestinya akan direspons lalu disampaikan oleh para kritikus agar mendapat perhatian dari masyarakat. Yang lantas menjadi persoalan adalah tingkat pemahaman masyarakat yang berbeda-beda. “Apakah masyarakat mampu merasakan apa yang dirasakan kritikus tersebut?”

Ketika kritik disajikan dalam bentuk opini panjang nan njelimet di koran-koran terkenal sekalipun, maka ending-nya bisa ditebak: lumayan iso digae bungkus lombok.

Kritik harus diolah seringan dan sehalus mungkin agar mampu dicerna oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, senjata ampuh yang mudah dicerna dan nggak bikin mikir abot adalah lelucon dan anekdot.

Gus Dur, Presiden RI ke-4, sering kali menggunakan anekdot dan lelucon dalam mengkritisi pemerintah zaman Orde Baru. Dalam salah satu tulisannya di koran Tempo, Gus Dur pernah menggelitik pemerintah yang tak memberikan kebebasan berbicara dan pers kala itu.

Dia bercerita bahwa saat itu (zaman Orde Baru) banyak orang Indonesia yang berobat dan memeriksa gigi harus pergi dulu ke luar negeri. Kemudian timbul pertanyaan: Kenapa harus ke luar negeri? Apakah di Indonesia kekurangan dokter atau kualitas dokternya jelek? 


Rupanya bukan karena itu. Karena di Indonesia, membuka mulut saja susah, tidak diperbolehkan oleh pemerintah.

Metode yang sama digunakan oleh akun-akun GL ini. Dalam humor dan lelucon yang mereka bawa sesekali diselipi kritik. Namun yang menjadi target dari kritikan akun-akun ini adalah kondisi politik dan masyarakat yang terlalu terbawa politik saat ini.

Kondisi yang ada saat ini lantas menjadi materi jokes untuk akun-akun ini. Tak jarang kritik-kritik ini dilemparkan kepada mereka yang terlalu terbawa pemilu yang hanya lima tahunan ini. Ada misi yang lebih besar (menurut penulis) yang dibawa oleh mereka: menjaga kesatuan lewat canda dan tawa.

Sumber: akun twitter @NUgarislucu

Maka dari itu, jika Indonesia benar-benar bubar tahun 2030 nanti, rasanya masyarakat, khususnya warganet Twitter, tidak akan risau. Lihat saja, tak lama lagi pasti akan muncul Republik Indonesia Garis Lucu dengan tagline berlucu-lucu tetapi tetap satu jua.

Artikel Terkait