Tanpa disadari, film Arwah Goyang Jupe-Depe yang saya unggah kembali melalui akun Facebook ARS mendapat tanggapan luar biawak dari pemirsa [lihat]. Tak kurang sebanyak 814 ribu orang dijangkau dalam unggahan Facebook tersebut. Artinya, pemirsa masih menganggap film Arwah Goyang Jupe-Depe sebagai bahan hiburan yang enak untuk disaksikan.

Film Arwah Goyang Jupe-Depe menceritakan tentang kisah seorang penari jaipong yang bernama Lilis yang diperankan oleh Julia Perez. Dalam film ini, Lilis ditampilkan dengan kostum dapat mengundang daya tarik seks. Tujuannya agar saat Lilis menari jaipong, maka penonton yang umumnya lelaki akan memberinya saweran yang lebih banyak karena Lilis tampil seksi dengan menonjolkan keindahan tubuhnya.

Secara common sense, ketika daya tarik seksual ditonjolkan, maka akan timbul hasrat seksual dari lawan jenisnya.

Film kerap mengambil fenomena yang terjadi dalam masyarakat untuk kemudian diolah kembali. Proses pengolahan antara lain adalah pembuatan adegan, sinematografi, alur cerita, dan sebagainya. Sehingga hal-hal tersebut menjadi faktor pendukung untuk memaparkan kepada masyarakat fenomena yang berhasil ditangkap oleh si pembuat film. 

Sehingga, film tersebut merepresentasikan apa yang sebenarnya telah jadi di tengah masyarakat. Dengan kata lain, dalam masyarakat pun, khususnya penonton, penampilan Lilis dan Sherly juga merangsang hasrat seksual lelaki.

Penampilan Lilis dalam berpakaian yang serba-minimalis tersebut merupakan tanda yang hadir pada tataran denotasi yang berantai dengan konsep tubuh seksi di tataran konotasi. Heteroseksual dalam diri seorang lelaki, meskipun citra tubuh perempuan merupakan faktor penting dalam menghasilkan hasrat seksual lelaki, ini tidak mencukupi.

Agar hasrat seksual tersebut dihasilkan, maka citra tersebut harus dipasangkan (secara eksplisit atau implisit) dengan petanda (signified) yang tepat. Artinya, penampilan dan kostum Lilis tepat untuk menghasilkan hasrat seksual lelaki, karena penampilan keduanya dapat memicu imajinasi seksual penonton dan menghasilkan hasrat seksual.

Kamera tidak pernah netral ataupun value-free karena terdapat kepentingan sang pembuat film yang harus mengangkat angle tertentu sebagai fokusnya.

Dalam beberapa adegan film Arwah Goyang Jupe-Depe, ketika Lilis sedang menari jaipong di atas panggung, angle kamera pada adegan ini diperlihatkan close up dan terfokus pada payudara Lilis yang hanya menggunakan pakaian dalam. Sedang fokus kamera tertuju pada payudara Lilis dan didramatisasi dengan pencahayaan yang terfokus pada pada satu titik, yaitu payudara Lilis.

Angle close up memilki efek yang kuat sehingga menimbulkan perasaan emosional karena audience hanya melihat hanya pada satu titik interes. Jadi pada beberapa potongan adegan ini, penonton akan terfokus pada satu titik, yaitu bagian-bagian tubuh masing-masing tokoh, sehingga akan terbentuk imajinasi penonton tentang keindahan tubuh masing-masing tokoh.

Dunia sakral atau kesucian menjerat perempuan pada proteksi terhadap tubuh karenanya harus ditutupi setiap bagiannya agar tidak tersentuh agar tetap menjadi bersih. Dunia sakral atau kesucian begitu mengagungkan keperawanan, sebuah tanda mati lambang kejujuran perempuan lajang dalam memasuki perkawinan dan hanya dengan selaput tipis itu para suami mengukur dan menilai kejujuran sang istri.

Dunia profan atau kebejatan sebaliknya, mengadili tubuh perempuan sebagai godaan sekaligus hinaan. Oleh karena itu, bila tubuhnya terlihat begitu indah, ia harus ditangkap. Karena dari payudaranya ia meracuni kesusilaan dari kedua pahanya, dan selangkangannya membuat lelaki tergiur memperkosa; dan dari tatapan serta bibirnya, ia membuat jantung lelaki berdebar keras dan segera meninggalkan istri-istri mereka.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa cara lelaki berimanijasi akan merangsang hasrat seksualnya bila melihat tubuh perempuan yang ditampilkan dengan menonjolkan daya tarik seksual perempuan tersebut. Selama bertahun-tahun, peran perempuan di media digambarkan hanya sebagai seorang objek seks atau memiliki peran dalam hal domestik saja.

Perempuan sebagai objek seks adalah sebuah boneka yang harus sempurna, tidak boleh ada keriput, lemak berlebih, tidak berkomedo, langsing, berkaki indah, muda, dan segar. Artinya, perempuan sebagai objek seks haruslah sempurna secara fisik, sebagai pemuas hasrat lelaki ataupun dalam kalangannya sendiri.

Pandangan tentang organ dan bentuk tubuh berubah manakala terjadi dramatisasi yang sensasional dalam pikiran penonton. Dramatisasi itu kemudian mengalirkan imajinasi-imajinasi yang beraneka rupa tentang daya tarik seks dan sensualitas perempuan maupun lelaki. 

Jadi, sensualitas merupakan tataran imajinasi seksual individu terhadap objek yang dilihatnya. Dramatisasi tentang penis, vagina dan payudara, serta organ tubuh lainnya yang dianggap menarik makin memiliki ruang yang luas dan terbuka.

Di salah satu adegan film Arwah Goyang Jupe-Depe, terdapat adegan Lilis dan Neneng yang sedang menari jaipong erotis. Terlihat bagaimana goyangan tubuh, bentuk tubuh mereka berdua mempunyai tujuan tertentu, yaitu ingin menonjolkan daya tarik seksualnya kepada lawan jenis, khususnya kepada pengunjung kafe tersebut. Hal ini terbukti dari bagaimana antusiasme para pengunjung kafe yang ikut bergoyang dan terlihat jelas bahwa hasrat seksual mereka terpenuhi dari ekspresi dan suasana kafe.

Diperkuat lagi dengan dialog dua pengunjung kafe yang menyatakan, “Goyangannyeee, digoyang goyang, di sini kerasa kaya di uleg.

Dari pernyataan tersebut, terlihat bagaimana imajinasi tentang tubuh perempuan terjadi. Pria tersebut berimajinasi Lilis sedang bergoyang di atas tubuhnya. Dengan kata lain, Lilis adalah komoditas utama bagi kafenya dalam sistem ekonomi libido, yakni sistem ekonomi yang di dalamnya terjadi eksplorasi ekstrem yang mengangkat potensi libido sebagai komoditas dalam rangka mendapatkan keuntungan maksimal.

Adanya eksploitasi tubuh perempuan yang tak bisa lepas dari keberadaan tubuh perempuan yang dianggap sebagai objek yang dikomoditaskan sebagai alat penghibur. Ketika perempuan cenderung intens ditampilkan sebagai objek seks, maka hal tersebut akan membuat lelaki beropini bahwa fungsi perempuan memang sebagai pemuas nafsu lelaki.

Bila direfleksikan dalam kehidupan nyata di masyarakat, pornoaksi dianggap sebagai kegiatan yang menghasilkan sejumlah uang dan menjadi sumber penghasilan bagi individu-individu tersebut. Di sisi lain, keberadaan pornoaksi diyakini ada karena diinginkan oleh masyarakat sendiri. Artinya, masyarakat mengambil bagian yang besar terhadap munculnya pornoaksi ini.

Karena itu, terdapat dua pihak yang diuntungkan dalam keberadaan pornoaksi, yaitu pihak yang meraup keuntungan dari pornoaksi tersebut maupun pihak yang merasa kebutuhan seksualnya terpenuhi. Hal inilah yang menyebabkan komoditas pornoaksi makin banyak dalam masyarakat.

Eksotisme dan kemolekan tubuh perempuan seakan menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah ada habisnya dalam karya-karya audio-visual. Penggunaan politik tubuh dan representasi perempuan ini tak lepas dari adanya degradasi perempuan dalam statusnya sebagai objek seksual lelaki yang masih sangat melekat pada masyarakat patriarki.

Dalam kehidupan sosial, pada hubungan perempuan dan lelaki, posisi perempuan selalu ditempatkan pada posisi “wingking”, “orang belakang”, “subordinasi”, perempuan selalu yang kalah, namun sebagai “pemuas” lelaki, pelengkap dunia lelaki. Hal inilah yang direkonstruksi dalam media audio-visual, termasuk film dan video, bahwa media massa hanya merekonstruksi apa yang ada di sekitarnya, sehingga media massa juga disebut sebagai refleksi dunia nyata, refleksi alam sekitarnya.

Dapat dikatakan bahwa sensualitas perempuan dalam film horor ini direpresentasikan melalui kostum dan penampilan tokoh perempuan yang menonjolkan daya tarik seksual dari perempuan. Sebagai objek seks, di film ini, dikonstruksikan keidealan sosok perempuan, sosok perempuan yang berkulit putih, berkaki indah, berpayudara besar, berpakaian minim, dan menonjolkan aurat melalui angle kamera yang tidak pernah netral.

Selain itu, gerakan-gerakan erotis yang disengaja untuk membangkitkan imajinasi seksual lawan jenis, lalu adegan-adegan yang mengesankan hubungan seksual antara lelaki dan perempuan, ditunjang dengan suara-suara bernada manja, rayuan, sampai suara desahan yang merangsang imajinasi seksual lelaki.

Dan yang terakhir, dialog-dialog yang mengandung imajinasi seksual dari tokoh lelaki, di mana perempuan hanya ditempatkan sebagai objek pemuas nafsu berahi mereka.

Dalam film Arwah Goyang Jupe-Depe, juga dapat ditemukan bahwa peran film itu sendiri yang membangun citra tubuh dan seksualitas perempuan menjadi bagian dari pornografi, tentunya dengan berbagai representasi dengan sudut pandang patriarki dalam menggambarkan perempuan sebagai objek seksual secara berbeda-beda. 

Konstruksi erotisme muncul dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Namun eksplorasi keindahan tubuh tersebut pada umumnya digambarkan berupa penonjolan unsur-unsur ciri fisik perempuan yang mendominasi.