Sebuah cerita rakyat tentang asal-muasal nama pulau Lombok. Nama Lombok menurut orang Sasak berasal dari bahasa Sasak, yaitu Lomboq yang artinya Lurus. Saya masih ingat dengan salah satu ucapan kiyai tempat sering mengaji pada malam Jum’at.

Salah satu ucapannya yang membuat saya bertanya: ”Seseorang semestinya harus jujur, tidak sesat, dan berbudi pekerti. Sesuai dengan arti kata pulau Lombok. Sekarang pertanyaannya, masihkah ada orang jujur? Tidak sesat? Atau berbudi pekerti?"

Saya yang lahir di sebuah desa terpencil di daerah Lombok bagian selatan, nama daerahnya Bilekedit Gerung Lombok Barat. Saat itu masih hijau, sungainya masih berair bening dan bersih, gunungnya masih rimbun akan pepohonan hijau nampaknya dari kejauhan.

Namun, setelah besar dan dewasa, saya melihat banyak perubahan. Bukan tambah hijau, bersih, dan ditata rapi, melainkan tambah menjadi buruk dan kotor. Banjir kala itu datang, sampah berserakan terbawa arus air, dan gunung pun longsor.

Pertanyaanya, siapakah yang membuang sampah ke sungai? Yang menebang pohon di gunung? Tidak lain tidak bukan masyarakat desa setempat.

Ternyata mental nyampah desa saya relatif tinggi. Selokan yang mengalir ke aliran sungai menjadi tempat pembuangan sampah, tidak pernah dibersihkan, tidak ada yang peduli.

Bagaimanapun juga, sampah adalah tanggung jawab kita bersama agar menjadi orang yang tidak sesat, berbudi pekerti terhadap lingkungan. Saat ini bulan penghujan, sampah yang semestinya dipisah dan dipilah menjadi kerajinan dan olahan bernilai, perlulah adanya edukasi berkelanjutan. Kalau tidak dari keluarga dan diri kita, lalu siapa lagi yang akan peduli?

Revolusi Mental

Saya mulai paham dengan tujuan Joko Widodo selaku orang nomor wahid di nusantara menetapkan hari lahirnya ideologi Pancasila sebagai dasar Negara kita. Melalui Keputusan Presiden No.24 Tahun 2016 diharapkan dapat memicu persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan serta dapat mengamalkan dari setiap asas lima sila pancasila tersebut sebagai landasan dan sebagai penuntun terbentuknya mental kita.

Di samping itu juga masa kampanye, pak Jokowi pernah mencanangkan slogan revolusi mental. Itu tak lain dan tidak bukan bertujuan untuk merubah mental bangsa ini. Saya sadar bangsa ini cukup tenggelam dalam hal-hal buruk. Kita selalu juara untuk hal-hal buruk dan selalu terpuruk untuk hal-hal yang baik jika dibandingkan dengan Negara lain.

Kita bisa lihat saja, Indonesia selalu masuk papan atas untuk urusan membuang sampah ke laut kita. Padahal seharusnya ekosistem laut harus dijaga. Pada Headline foto, Kompas, (11/10/2017) terlihat seorang pemulung sedang memilah sampah di pinggir pantai yang ada di Padang sungguh memprihatinkan.

Jika merujuk pada arti “Revolusi” adalah bagaimana perubahan dari keburukan menjadi lebih baik, namun berbeda dengan kondisi lingkungan saat ini yang dalam keadaan “darurat” dalam mengatasi permasalah “sampah” yang mulai menghiasi aliran sungai-sungai yang ada di tengah kota.

Berbeda dengan Negeri kincir angin, Belanda yang merupakan Negara yang tidak teralu besar namun memiliki sistem pengelolaan sampah yang sangat necis. Namun, bukan tidak mungkin tidak terdapat sampah yang berceceran di pinggir jalan dan tempat-tempat umum. Namun, menurut pekerja sampah (cleaning service), itu adalah perbuatan orang yang telah “mabuk”.

Belanda mencoba mempertahankan tata kelola dengan cara yang lebih baik, sehingga tidak memakan waktu untuk merevolusi hal yang sudah “rusak” menjadi lebih baik. Negeri kincir angin juga tidak sedang dalam kondisi “mabuk” pada tahap merevolusi sistem tata kelola “sampah” yang datang dari berbagai penjuru.

Sistem penyadaran mulai bekerja sesuai tugasnya, dari hulu (di rumah tangga) penggolongan jenis sampah sudah dilakukan sehingga mudah mendaur ulang berbagai jenis sampah pada pengolahan akhir. 

Lalu apa kaitan dengan Lomboq pada tulisan saya di atas tadi? Masyarakat sudah seperti maling yang “mabuk” membuang sampah seperti takut ketahuan, namun ketika ketahuan seperti orang mabuk, bukan merasa bersalah namun tidak takut dipersalahkan. Inilah problema yang tidak Lomboq (lurus) merasuki mental masyarakat kita. Bukan tidak mungkin, krisis budi pekerti terhadap lingkungan sudah akut.

Lalu pertanyaannya, akankah Indonesia akan melakukan studi banding ke Belanda untuk mempelajari tata kelola sampah?