Ketika bus sudah masuk terminal, mendadak rasa kangennya kepada Mirana datang. Ia segera turun saat bus sudah parkir. 

Ketika sepatunya menginjakkan aspal, segera pikiran tentang Mirana menyerbu. Rambutnya, jidatnya, senyumnya, kerling matanya, dan suaranya. 

Ia menengok sekeliling. Debu sesekali beterbangan. Sinar matahari siang tak terlalu panas. Udara bebas terasa lebih dingin olehnya jika dibandingkan dengan di Padang. Segera langkah kakinya menuju tempat angkot berada.

“Aku butuh kamu. Aku tidak mau nikah sama Rep. Dijodohkan, kawin paksa, apalah namanya, aku tidak suka. Aku ingin kabur dari rumah,” chat Mirana kepadanya.

Ia pulang cepat dari kantor. Bilang ke atasan, ibunya masuk rumah sakit. Nyatanya ia ke rumah mengantarkan tas kantornya, makan, berganti pakaian; dan pergi ke tempat bus melintas. Lantas menunggu bus jurusan Bukittinggi. Sengaja tak bawa tas, karena ia tidak bermaksud bermalam.

Ia dan Mirana jarang bertemu. Itu karena kesibukannya tak lama setelah lulus kuliah jadi pegawai bank swasta di Padang. Kadang timbul keinginannya untuk ke Bukittinggi bila sudah weekend, tapi urung--ia tak begitu yakin Mirana sedang merindukannya. 

Untunglah Mirana sesekali ke Padang. Menyempatkan diri meneleponnya untuk bertemu. Lalu, mereka menghabiskan siang di taman, dan malam di beberapa tempat yang kiranya bisa membuat Mirana terhibur selama di Padang.

Mirana pernah jadi mantannya. Balikan lagi. Lalu, mereka menjalani hubungan jarak jauh yang renggang.

***

Di atas angkot, ia dengar dua orang bercakap seru dengan bahasa Minang-Bukittinggi yang kental. Ia menceritakan kepada Mirana, lewat chat, suasana angkot yang dinaiki. Tak ia sangka ceritanya itu bisa membuatnya saling pandang dengan Mirana ketika sudah turun dari angkot--setelah bayar ongkos.

Sesaat ia memerhatikan perempuan itu. Yang berbaju kaos putih dan celana jins ketat biru--sedikit tomboi dengan rambutnya yang dikuncir. Kecantikan innear yang aduhai. Sandalnya. Tas kecilnya. Juga, posisi tangannya yang teramat welcome.

Baca Juga: Iyung Cemburu

Hari hampir sore. Suara kendaraan berlalu lalang. Lalu, mereka berjarak 20 senti, dengan pandangan masing-masing yang begitu kangen.

“Aku ingin kita sekarang juga ke Padang. Aku ingin bersamamu di Padang,” kata Mirana dengan nada yang membujuk.

Ia ajak Mirana duduk di kafe terlebih dahulu. Tempat pertemuan mereka seperti dalam chat Mirana. 

Awalnya Mirana tak mau. Namun, setelah ia membujuk dan berjanji paling lama 30 menit, mereka pun menyeberang jalan, bergandengan. Menuju kafe yang dimaksud.

***

Hampir malam. Mereka masih di kafe. Mereka indehoi sambil mendengarkan musik slow.

Mereka lalu baca buku di sofa. Bersisian. Belum ada rencananya mengajak Mirana beranjak.

Sedang bersisian, Jes menyapa mereka. Jes teman sama kuliah mereka dulu di Padang, tinggal tak begitu jauh dari rumah Mirana. Mirana hanya tersenyum ketika Jes minta permisi pulang. Jes dan pacarnya di situ juga, habis bersantai.

Tak lama Jes berlalu, ia membuka percakapan, yang sedari tadi terhenti karena baca buku.

“Kalau ke Padang, kamu tidak mungkin tinggal di rumahku. Apa kata tetangga nanti? Pasti digerebek kalau kita serumah,” katanya.

“Untuk malam nanti aku akan menginap di hotel. Besoknya kita cari kos-kosan.”

“Terus, pakaianmu mana?”

“Itu soal gampang. Bisa dititip.”

Ia memandang kedua mata Mirana dengan kedalaman yang kelu.

Hingga lampu-lampu jalan menyala, lampu-lampu kafe pun menyala. Mereka masih di kafe. Seorang laki-laki dan seorang perempuan, suami-istri, terburu-buru masuk kafe. Menuju sofa mereka di dalam--di pojok.

Di luar rintik rinai mulai turun. Sekali-kali angin bertiup kencang, hingga ke dalam kafe. Pohon dan tiang listrik seperti berkawan akrab dengan kedinginan, menggigil.

Lalu, malam yang hujan.

“Rupanya benar kata Jes. Kamu di sini. Papa telepon, tidak aktif. Ternyata kamu di sini,” kata si lelaki dengan wajah lega.

Mirana terkesiap. Ia dan Mirana sedang berpegangan ketika laki-laki itu datang dan berkata.

“A...o..., kenalkan ini pacarku. Dari Padang. Namanya Jef,” kata Mirana.

“Cepat pulang. Etekmu baru datang dari Bandung. Dia menanyakan kamu,” kata si lelaki yang diikuti anggukan istrinya tanpa menengok ke mukanya.

“Tidak mau, ingin sama Jef.”

“Cepat,” kata si lelaki, meraih pergelangan tangan Mirana dengan kuat. Memaksanya berdiri.

Hingga Mirana berdiri dengan sedikit merengek, perlahan berjalan menjauh dengan pandangan yang menengok ke belakang minta dihentikan.

Ia terus menengok lewat dinding kaca kafe. Di luar, mereka diguyur hujan; masing-masing menutup kepala dengan telapak tangan, kecuali Mirana. Sampai mereka hilang, masuk ke dalam mobil yang menyalakan lampu depan-belakangnya.

Terdengar bunyi klakson, tanda ada mobil yang keluar area.

***

Setelah perpisahan di kafe itu, ia tak lagi sering chat dengan Mirana. Dan, Mirana tak pernah memberi tahunya lagi kalau sedang di Padang.

Hubungan makin renggang. Lewat sebuah chat, Mirana mengeluhkan tentang orang tuanya yang menjodohkannya dengan Rep. Mirana menolak Rep walau lelaki itu bekerja di luar negeri. Jika sudah menikah, Mirana dengan Rep segera tinggal di luar negeri--itu andai jadi, tapi Mirana mengetikkan kata TOLAK sampai tiga kali di chat.

Ia tahu dan menyadari kemudian, tidak ada lelaki yang namanya Rep dalam hidup Mirana.

Ia terus mengingat keberadaan mereka yang terlalu lama di kafe hari itu--sampai malam--sehingga orang tua Mirana datang.

Dua hari lalu, ia dapat kabar dari seorang kawannya yang bekerja di Bukittinggi, juga di fesbuk, bahwa Mirana sudah menikah.

Ia memang tak pernah lagi menginjakkan kaki di Bukittinggi semenjak perpisahan di kafe itu. Tapi perasaanya, berharap waktu bisa berbalik.

Ah, cinta yang datang terlambat, selam-berselam jiwanya kini dengan rindu.