Sudah tahu belum apa itu insecure? atau justru sering mengalaminya?

Iya, perasaan insecure kerap kali terjadi pada masa remaja. Hal tersebut karena di fase remaja terjadi transisi emosional, kognitif serta terjadi perubahan hormonal sehingga lebih sering terjadi di masa remaja. 

Pada masa remaja ini, dunia dan cerita kamu dalam menjalani kehidupan seolah baru saja akan dimulai. Di posisi ini kita tidak hanya bersenang-senang akan tetapi kita juga akan merasakan tanggungan dan beban yang lebih besar dari sebelumnya serta akan lebih sering membandingkan kemampuan kita dengan orang lain. 

"Ih dia kok bisa ya, kok aku engga." 

Jika kamu memiliki pemikiran seperti itu, artinya saat ini kamu terjebak dalam perasaan insecure

Seharusnya di masa remaja ini kita bisa lebih percaya diri untuk mengoptimalkan kemampuan dan menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan. Setiap langkah dan gerakan kita akan berpengaruh terhadap masa depan. Seperti pepatah yang terkenal berikut ini:

“Masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan di masa sekarang.” Mahatma Gandhi

Pepatah tersebut menekankan bahwa setiap tindakan, perilaku, perasaan, dan mindset kita saat ini  sangat mempengaruhi masa yang akan datang. Namun apa jadinya jika kita memiliki perasaan inferior dan insecurity??

Perasaan insecure merupakan perasaan cemas, inferior, ketakutan, kekhawatiran dan menganggap diri sendiri kurang mampu sehingga muncul perasaan tidak aman. 

Pada dasarnya perasaan insecure itu wajar dimiliki oleh setiap individu, namun perasaan tersebut akan menjadi masalah  dan tantangan terbesar bagi remaja apabila kita terbawa dengan suasana dan berlebihan dalam menghadapinya. 

Sudah jelas bukan, kalau perasaan insecure yang berlebih dapat menghambat peran dan potensi remaja? 

Lantas apa sih yang menyebabkan kita memiliki perasaan insecure dan inferior?

Perasaan insecure tidak serta merta terjadi begitu saja namun perasaan tersebut terbangun dari beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut: 

1. Interaksi dengan lingkungan sosial

Berinteraksi dengan lingkungan sekitar terkadang menjadikan kita terdoktrin dengan standar ideal orang pada umumnya dan biasanya menjadikan diri untuk membanding-bandingkan dengan standar ideal orang lain yang jelas-jelas berbeda dengan kemampuan diri kita sendiri. Alhasil ketika kita tidak bisa mencapai dan memilikinya kita merasa rendah dan insecure atas kelebihan yang dimiliki oleh orang lain.

2. Bullying

Orang yang sering mendapatkan perundungan di lingkungannya akan lebih rentan merasakan insecure. Umumnya orang yang sering mendapatkan bullying akan memiliki mental yang lemah karena dampak penindasan menyebabkan dia merasa takut, membenci diri sendiri dan susah dalam berinteraksi dengan orang lain. 

Perasaan insecure bukanlah perasaan yang permanen, jadi jangan khawatir kita masih dapat mengubah dan mengatasinya dengan beberapa hal berikut ini:

1. Tanamkan pemikiran positive thinking


Setiap individu memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Namun sebagian orang menyikapi problemnya dengan tenang dan santai, akan tetapi ada juga yang menyikapinya  dengan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. 

Sebagai contoh, nilai ujian tidak sesuai ekspektasi, jangan sampai kita diliputi perasaan amarah dan kecewa yang berlebihan dan menganggap diri sendiri telah gagal. 

Contoh lainnya overthinking sebelum melakukan sesuatu. Orang yang overthinking cenderung pesimis dan merasa takut duluan sebelum melakukan kegiatan. Orang overthinking sering kali berpikir secara negatif terkait dampak kegagalan secara berlebih.

 "Kalau saya gagal, bagaimana?" 

Pemikiran tersebut harus diubah dengan berpikir positif dengan menstimulus diri sendiri dengan kata-kata positif.

"Saya mampu kok" 

Dari sisi ini positive thinking sangat berperan penting karena dengan berpikir positif kita akan mentransmisikan energi positif  ke dalam performa kita sehingga kita merasa bersemangat dalam melakukan sesuatu. Orang yang menerapkan pikiran positif akan mampu melakukan sesuatu dengan bijak dan menganggap kegagalan sebagai bagian dari evaluasi diri.

2. Jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain

Membandingkan diri dengan orang lain sebenarnya boleh saja karena ada kalanya kita membutuhkan orang lain untuk menginspirasi dan memotivasi sehingga kita terpacu untuk menjadi diri yang lebih baik lagi. Namun, apabila membandingkan diri sendiri dari segala aspek kehidupan sehingga kita memiliki perasaan iri, ingin memilikinya dan menjadikan diri kita frustrasi karena orang lain tentu saja tidak diperbolehkan karena membandingkan diri yang demikian itu termasuk melakukan toxic terhadap diri sendiri. 

Orang yang kerap membandingkan diri tidak terlepas dari perilaku toxic yang pada akhirnya akan menuntut diri sendiri dari segala aspek agar terlihat sempurna. 

Apa kamu merasa seperti itu? Jika iya, maka berhentilah membandingkan diri dengan orang lain please to be yourself dan coba lebih menghargai diri sendiri!

3. Hadapi Ketakutan

Orang yang insecure merasa bahwa dirinya kurang mampu. Padahal jika kita berani mencoba, bisa jadi ketakutan-ketakutan yang dipikirkan hanyalah pemikiran saja yang tak pernah terjadi. 

Orang yang merasa takut justru tidak akan pernah maju dan tidak akan berkembang dengan baik. Selain itu orang yang merasa takut dalam menghadapi sesuatu maka persoalan-persoalan yang sedang dihadapi juga tidak akan dapat terselesaikan dengan baik. Perasaan takut tidak ingin mencoba justru akan membuat diri sendiri merasa menyesal karena kita tidak akan tahu hasil akhirnya. 

Sebagai penutup, yuk ubah kebiasaan dan mindset kita dalam membanding-bandingkan diri dengan orang lain karena masa depan tak butuh penilaian akan tetapi aksi dan tindakan nyata!!