Saya pernah tinggal dan belajar di Jawa, hidup dengan identitas subaltern berlipat ganda. Saya tidak putih, dari Papua, beragama Kristen, dan perempuan. Kalau Anda pernah punya pengalaman seperti ini, Anda tentu tahu bagaimana rasanya diskriminasi itu.

Syukurnya, itu hanya segelintir situasi yang saya alami secara subjektif. Dalam banyak kesempatan, saya juga bertemu dengan teman-teman sebangsa dan senegara yang sangat terbuka dan ramah. Banyak dari mereka tidak memahami Papua dengan baik, namun dengan bersahabat ingin mengetahui ke-Papuaan itu sendiri.

Mengalami bentuk keramahan dan kenyamanan hidup di Jawa selama bertahun-tahun membuat saya sedih berkali lipat menyaksikan bagaimana sauadara-saudara saya di Asrama Mahasiswa Papua, Kalasan, Surabaya diperlakukan dengan tidak arif. Bahwasanya mereka dihujani dengan kalimat-kalimat verbal yang rasis dan tidak Njawani menurut saya.

Satu dari rangkaian olok-olok dan perlakuan tidak mulia yang dilakukan itu adalah olokan “Monyet”. Olokan ini menjadi yang paling mencuat karena menjadi suatu kata kunci yang ditanggap dengan serius oleh khalayak Papua. Menurut Homi K. Bhaba, momentum seperti ini disebut Mimikri.

Suatu keadaan di mana yang terjajah menerima pelebelan yang ditawarkan oleh penjajah, namun memberi suatu pengertian yang baru sehingga di sana dihasilkan suatu keadaan yang disebut almost same but not quite. Dalam konteks ini, “Monyet” menjadi lebel yang diterima dari sekian rangkaian olok-olok yang diberikan, kali ini Sang Monyet tampil dengan suatu makna yang baru.

“Berikan hak menentukan nasib sendiri bagi Monyet-Monyet di Papua,” “Monyet melawan, kami berjuang untuk bebas dari Indonesia,” “Jangan paksa Monyet kibarkan Merah-Putih!” Begitu bunyi pernyataan-pernyataan balik khalayak Papua meresponi peristiwa Kalasan. Para Monyet sudah berbicara balik, kami sudah menjawab. Can you handle it?

Sayang-disayang bahwa pernyataan balik ini memang kemudian belum juga dapat ditangani dengan serius oleh Pemerintah, sebagai penanggung jawab persaudaraan yang luas mencakup dari Sabang sampai Merauke ini. Pernyataan Presiden Joko Widodo yang meminta ada sikap saling memaafkan rasanya tampak terlalu menyederhanakan apa yang terjadi.

Betapa menyedihkannya menjadi bagian dari suatu lingkup persaudaraan di mana sesuatu yang pelik dianggap cilik. Betapa menyedihkan hidup dalam persaudaraan di mana kita tidak dianggap sebagai bagian yang hakiki dalam kekerabatan itu.

Ada semacam superioritas kelompok tertentu yang merasa lebih unggul, lebih terpelajar, lebih “manusia” daripada yang lain, sehingga kita memang belum benar-benar menjadi saudara dalam 74 tahun ini.

Menariknya adalah, dalam catatan Perjanjian Baru, Yesus juga pernah terjebak dalam suatu superioritas semacam ini. Memandang kepentingan keyahudian sebagai suatu tanggung jawab utamanya lalu mengabaikan kepentingan kemanusiaan lain yang ada di sekelilingnya.

Injil Matius 15:21-28 dan Injil Markus 7:24-30 menceritakan bagaimana dalam suatu kesempatan Yesus bertemu dengan seorang perempuan asing, dari Kanaan (Siro-Fenisia). Ibu ini datang kepadanya dengan suatu pergumulan tentang anak perempuannya yang kerasukan setan dan sangat menderita.

Ia memohon Yesus untuk mengusir setan yang ada dalam diri sang anak, lalu jawab Yesus kepadanya: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

Dalam teks Injil Matius, pernyataan ini sebelumnya diawali dengan suatu percakapan di antara murid-murid: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Di sini dengan jelas Matius sedang menegaskan konteks superioritas keyahudian itu.

Meski menurut beberapa penafsir, Yesus di sini sesungguhnya sedang memanfaatkan superioritas itu sebagai suatu tolok ukur akan ketekunan iman si perempuan Kanaan. Justru bagi saya, apa pun tujuannya, sikap superioritas seperti itu menunjukkan hakikat ideal Yesus sebagai seorang laki-laki Yahudi seutuhnya dan Tuhan seutuhnya.

Sehingga menurut saya, adalah lebih baik untuk memahami itu sebagaimana adanya, yaitu sebagai suatu bentuk konsekuensi manusia hidup dan bergumul dalam suatu konteks.

Dengan demikian kita dapat memandang dengan lebih terbuka keutuhan konteks yang melahirkan suatu sikap superioritas dan bagaimana dengan mudah orang dapat terseret dan terjebak dalam perasaan selalu ingin memuliakan kelompoknya, mengganggap diri superior, padahal ia tahu itu sikap yang tidak mulia.

Maksud saya, semua orang sebagai produk dari suatu konteks berpotensi untuk menjadi superior terhadap sesamanya yang lain. Superioritas adalah konsekuensi dari suatu konteks sosial. Siapa yang menjadi superior kepada siapalah yang berubah-ubah. Dinamika ini ya selalu begini.

Sederhananya, kalau kita menarik peristiwa Yesus ini kepada konteks mimikri "Monyet" ini. Yesus pun pernah terjebak dalam suatu konsekuensi kedaerahan semacam itu, mengganggap Keyahudiaan lebih utama daripada yang lain.

Superioritas ini ia bahasakan dengan cukup sopan meski sangat tidak bersahabat. Ia pakai suatu analogi etika makan menurut konteks budayanya untuk menolak permintaan sang perempuan. Yesus mengambil bentuk sebagai pelaku dan menempatkan sang perempuan sebagai objek superioritasnya.

Komunikasi semacam ini merupakan suatu komunikasi penting yang menurut Bhaba, akan melahirkan suatu konteks baru, yaitu tempat ketiga.

Alih-alih terbuai dengan penolakan itu, sang perempuan Kanaan memilih untuk mengambil alih atau melakukan suatu mimikri atas pernyataan Yesus ini sebagai jalan komunikasi dirinya memperoleh apa yang ia tuju.

Katanya: "Benar tuan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Anjing yang dalam bahasa Yunani disebut kuon menjadi kata kunci yang membuka pintu komunikasi antara Yesus dan sang perempuan Kanaan. The end of the day, dalam cerita itu, sang perempuan kanaan mendapatkan apa yang ia inginkan dari Yesus.

Beberapa hari ini saya menatap dengan dalam pada mimikri “Monyet” ini dan memandang babak ini sebagai suatu proses yang menyedihkan, tapi penting dalam hidup bernegara bersama dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sungguhlah “Monyet” telah menjadi suatu kata kunci yang membuka selubung ketidaktulusan dalam persaudaraan di antara kita.

Sungguhlah “Monyet” telah membuka channel-channel siaran tentang penderitaan di atas Tanah Papua yang tersembunyi di balik gunung tambang emas, tenggelam di dasar pasir, laut biru. Hilang di belantara hutan, paru-paru bumi.

Demikianlah Viktor Yeimo dalam suatu pidato di hadapan ribuan massa yang berdemo mengatakan: “Jangan pernah emosi dengan kata "Monyet", tapi sadarilah hari ini bahwa Anda rakyat Papua adalah statusnya terjajah, di dalam wilayah yang terjajah penindasan akan selalu ada.”

“Kamu khawatir hari ini dengan kata "Monyet", tetapi Anda bayangkan 436.000 hutan Anda setiap hari habis, setiap tahun habis, 436 hektare hutan Papua setiap tahun habis. Diizinkan oleh Jakarta. Pulang ke kampung-kamung entah berapa banyak hutan yang habis.”

“Anda katakan hari ini, Anda tangisi hari ini ribuan rakyat Nduga mengungsi ke mana-mana, tidak bisa makan tidak bisa tidur, Bupati sudah desak Jakarta, Gubernur sudah desak Jakarta, tapi Jakarta masih tidak mau dengar hal ini. Apakah kita terus mengemis Jakarta?”

Mimikri “Monyet” telah menjadi suatu momentum kesedihan Papua selama bertahun-tahun lamanya yang kini terbuka bagi mata bangsa. Mata-mata yang buta sudah pulih dan mulai melek.

Degan demikian, semoga kita tidak terjebak dalam kesedihan dan kemarahan yang terlalu panjang yang berpotensi menjebak kita dalam lingkaran superioritas atau bahkan rasialisme lainnya.

Seperti sang perempuan Yunani dalam Injil Matius 15:21-28 dan Injil Markus 7:24-30, semoga kita cukup cerdas membaca arah angin, menjemput peluang, lalu menjawab balik dengan bijaksana: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

Please, jangan beri kami remah-remah pisang! Kembalikan saja kami ke hutan, dan kami akan hidup dengan tenang!” kata sang Monyet.