Tak jarang kita menemukan perempuan ditindas, direndahkan, dan dilecehkan. Ketidakadilan yang dialami perempuan terus bergulir dari hari ke hari. 

Ketidakadilan yang dialami lewat kekerasan dan pelecehan tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia bertumbuh dan merambat lebat melalui ideologi, lalu menyusup melalui propaganda setua usia sejarah manusia. Dan, patriarkilah yang diusung untuk menjadi monofaset ideologi, kalau bukan dalang kekerasan itu sendiri.

Dalam budaya patriarki, perempuan ditempatkan pada posisi yang jauh rendah ketimbang laki-laki. Pria yang disimbolkan sebagai kepala dianggap pembuat keputusan mutlak. Dan perempuan hanya mengikuti apa pun kehendak laki-laki. Tak ubahnya ekor, ikut ke mana kepala bergerak. Patuh adalah cara untuk membuat perempuan yang “lemah” untuk “aman”. Karena itu, perempuan harus taat agar selamat.

Maka setiap tindak tanduk perempuan diatur menurut cara pandang laki-laki. Pakaian perempuan harus sopan, supaya laki-laki terlindung dari godaan dan tidak melakukan pelecehan.

Faktanya, tidak sedikit perempuan berpakaian sopan yang jadi korban pelecehan. Batasan waktu keluar perempuan pun diatur. Perempuan tidak boleh keluar malam karena dapat memancing laki-laki berbuat jahat. Padahal tidak sedikit kejahatan dan pelecehan terjadi di siang hari.

Selain itu, perempuan pun diatur norma hidupnya. Diposisikan sebagai “soko guru keluarga”, perempuan harus serbabisa dalam mengurus rumah, bisa masak, bisa mencuci, bisa mengurus keluarga. Perempuan harus berkeringat untuk itu.

Sebaliknya, tak satu pun tuntutan ditujukan kepada laki-laki, tidak dalam urusan tetek bengek rumah tangga itu. Pekerjaan rumah tangga yang lebih banyak yang dikerjakan perempuan tidak juga membuat perempuan mendapat penghormatan.

Umumnya penghormatan itu mengikuti yang maunya laki-laki. Maka tidak heran Bourdieu pernah menyebut ini sebagai “symbolic violence”. Perempuan seolah-olah dihormati, padahal sebenarnya ditindas secara halus. Bukankah bentuk penindasan yang sebenarnya jika dikatakan dengan kata-kata "itu memang tugas perempuan”?

Pil pahit kehidupan memang bak kutuk pada perempuan. Sudahlah direndahkan, dilecehkan, pun tetap disalahkan jika laki-laki tak kuasa mengontrol nafsunya.

Maka feminis hadir untuk mencoba memberi sedikit ruang kepada perempuan. Feminis hadir agar keadilan dapat dirasakan perempuan. Feminis yang artian kesetaraan antara perempuan dan laki-laki adalah upaya untuk memerdekakan perempuan. Dan, menjadi feminis berarti menentang ketidakadilan, kekerasan, pelecehan, memecah lensa maskulin yang dipelihara patriarki.

Fotarisman Zaluchu, P.hD, dosen USU dalam sebuah diskusi menyampaikan bahwa hanya ada dua perbedaan perempuan dan laki-laki. Perempuan bisa melahirkan dan bisa menyusui. Hanya itu. Lain tidak.

Doktor jebolan Belanda itu adalah laki-laki, tapi bicara atas nama feminis. Dalam menyoroti rumah tangga, baginya, perempuan tidak harus menjadi ibu rumah tangga. Tidak harus sepenuhnya menyapu, memasak, dan mengurus anak. Pekerjaan rumah itu juga bisa dilakukan laki-laki.

Dalam banyak hal, perempuan dan laki-laki sebenarnya bisa bertukar peran, asal saja kedua belah pihak memiliki kesadaran akan pentingnya saling berkeadilan peran.

Mungkin kesannya tak pantas laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah tangga bagi masyarakat yang disetir patriarki. Namun feminis justru memantaskan itu. Inilah yang disebut keadilan, adanya kesetaraan. Saling bekerja sama membangun kehidupan yang lebih baik, dengan tidak membedakan pekerjaan yang harus dikerjakan perempuan atau laki-laki.

Kenapa feminis harus ditanamkan di masyarakat? Supaya patriarki terkoyak. Ruang gerak perempuan diberikan keluasan. Perempuan boleh berkarier, boleh menjadi pemimpin dan tidak hanya melulu menjadi pelayan di “sumur”, “kasur”, dan “dapur”. Dan lagi, perempuan harusnya punya kuasa atas tubuhnya sendiri, termasuk dalam hal seks dan reproduksinya. 

Kita tak bisa lagi berpuas diri dengan mengekang perempuan menggunakan bahasa “adat ketimuran”. Adat dan tradisi adalah produk budaya, yang terbukti hanya menindas kaum perempuan. “Kodrat perempuan” adalah luaran proses patriarki, di mana mesin-mesin produksinya adalah politik, sosial, militer, bahkan sistem sosial.

Biasanya, masyarakat memandang feminis perlu diluruskan. Harusnya tidak demikian. Feminis bukanlah untuk merendahkan laki-laki. Feminis adalah bentuk perlawanan agar perempuan setara dengan laki-laki.

Kita tahu banyak masyarakat yang sinis dan mengutuk feminis. Seolah feminis adalah ancaman bagi masyarakat yang kuat menjunjung tradisi  laki-laki punya tempat istimewa. Namun, apa jadinya jika dunia ini melulu mempraktikkan maskulinitas ala patriaki? Apa kurang cukup suara-suara korban perang dunia, korban kekerasan atas sipil, korban arogansi kekuasaan ala militer, yang di baliknya adalah patriarki itu sendiri?

Feminis adalah masa depan. Supaya perempuan menjadi manusia kembali. Perempuan bukan objek seks, yang hanya memuaskan laki-laki. Perempuan bukan pabrik pembuat anak.

Apa hati kita tidak perih melihat perempuan selalu jadi sasaran tembak atas laki-laki? Yang punya berahi seks tak terkendali adalah laki-laki melecehkan, malah perempuan yang organ intimnya diatur. Laki-laki yang suka jajan, malah perempuan yang selalu digunjing.

Lihatlah di sekitar kita. Perempuan masih bau kencur sudah dinikahkan. Kalau tidak punya suami, dianggap aib. Perempuan yang sudah menikah, harus punya anak. Kalau tidak, dianggap tidak subur. Perempuan yang akan melahirkan, harus menunggu keputusan keluarga. Kalau tidak, persalinannya tak akan selamat. Itu hanya sebagian kecil kisah perempuan.

Itulah mengapa feminis bergema, agar tak perlu ada penindasan antarmanusia. Laki-laki dan perempuan sama, sama-sama berharga.