Religiositas dan spiritualitas merupakan dua hal yang berbeda walaupun sebagian orang menganggapnya sama. Perbedaannya terletak pada pengaplikasian dalam memaknai ke-Ilahi-an Tuhan.

Religius selalu identik dengan bentuk kesalehan seseorang terhadap agamanya, yang diaplikasikan lewat aturan aturan kaku seperti ritual ibadah dan akidah yang dikonsepkan lewat dogma, sehingga Tuhan menjadi personal yang amat dihormati, ditakuti sekaligus dilindungi dari orang yang menduakanNya apalagi melecehkanNya.

Personalisasi Tuhan menjadi kekuatan simbol komunal yang terorganisasi lewat otoritas agama, yang dijalankan oleh pihak-pihak yang merasa punya kedekatan dengan Tuhan (pemuka agama). Seseorang yang menjadi religius akibat dari konsep-konsep kaku keimanan tadi akan membuahkan sifat egosentris terhadap agamanya hingga menyampingkan keberadaan atau eksistensi agama lain.

Oleh karena itu, banyak kita dapati kesalehan ibadah kadang tak beririsan dengan kesalehan sosial, karena cara memaknai Tuhan yang harusnya bersifat universal justru terbingkai dalam pandangan sempit komunal/keberpihakan.

Berbeda dengan religiositas, spiritualitas didapat bukan dari aturan aturan kaku agama yang diformalkan, melainkan dari hasil olah batin seseorang, yang masing-masing personal mendapatkan pengalaman berbeda dalam mencapai makna ke-Ilahi-an Tuhan. Seseorang yang religius belum tentu spiritualis, tetapi seorang spiritualis biasanya religius; memiliki kesalehan ibadah yang berbanding lurus dengan kesalehan sosialnya, walaupun ada juga orang yang spiritualis, tetapi orang tersebut tidak religius.

Standar kesalehan kaum spiritualis bersifat universal sedangkan kesalehan kaum religius bersifat komunal. Kaum spiritualis mendapatkan pencapaian ke-Ilahi-an Tuhan lewat pencarian tanpa batasan-batasan aturan formal keagamaan, sedangkan kaum religius terintervensi lewat aturan aturan ketat keagamaan dalam pencapaiannya memaknai ke-Ilahi-an Tuhan.

Untuk mempersempit pemahaman, saya ingin memberikan definisi pada religiositas sebagai suatu kondisi atau keadaan di mana seseorang menjalankan ritual keagamaan dengan baik dan komprehensif berdasarkan aturan dan doktrin yang ada di dalam agamanya. Kalau seorang muslim, maka artinya dia menjalankan salat, puasa, zakat dan lain-lain dengan baik. Kalau seorang kristiani, maka dia pergi ke gereja, membaca kitab suci dan sebagainya.

Demikian juga dengan pemeluk agama lainnya. Jadi intinya, religiositas saya artikan sebagai kondisi seseorang menjalankan ritual keagamaan yang diyakininya, dengan baik dan menyeluruh berdasarkan aturan kaku dalam agamanya dan biasanya kebanyakan orang menyebutnya sebagai orang yang saleh.

Sedangkan spiritualitas di sini saya artikan sebagai motivasi dan emosi pencarian seorang individu yang berkenaan dengan hubungan dengan Tuhannya yang meliputi seluruh aspek dalam hidupnya, sehingga selalu merasa terhubung dengan Tuhan dan alam semesta. Karena bentuknya pencarian, maka tentunya hasilnya lebih bersifat universal, karena nilai-nilai luhur itu sifatnya universal. Berbeda dengan doktrin pada religiositas, hasilnya akan sangat kaku sesuai dogma dalam agama tersebut saja.

Seandainya ada pertanyaan, mengapa orang beragama bisa berbuat jahat? Ya karena agama hanya memberitahu manusia risiko dari perbuatan jahat dan cara menghindarkan diri dari kecenderungan untuk berbuat jahat. Tetapi tidak ada agama yang memberikan jaminan bisa menghapuskan nafsu dan menanamkan kecerdasan serta empati pada diri manusia.

Tragisnya lagi, ada agama-agama yang justru memberikan green light kepada umatnya untuk melakukan kejahatan (merampas, merampok, menyiksa, bahkan membunuh) atas nama perjuangan agama. Tidak hanya sampai di situ, perbuatan jahat tersebut justru dipandang terpuji karena Tuhan merestuinya.

Banyak sekali contoh yang kita bisa jumpai di sekeliling kita, banyak kejadian yang mengatasnamakan agama, tapi perbuatannya sangat tidak bisa diterima dengan akal sehat atau norma universal. Ambil saja sebagai contoh misalnya ada pendeta pimpinan gereja yang melakukan sexual abuse terhadap jemaatnya. Atau tokoh-tokoh dari kalangan keagamaan melakukan tindakan korupsi dan lain sebagainya.

Kondisi kita yang notabene adalah negara agamis—di Indonesia setiap individu wajib beragama—justru banyak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan prinsip kebaikan secara universal. Padahal hal tersebut seharusnya tidak terjadi dalam negara yang agamis, karena semua agama mengajarkan kebaikan.

Kondisi tersebut kemudian banyak melahirkan kegiatan pengembangan karakter untuk menciptakan manusia-manusia unggul. Agama dianggap belum cukup untuk bisa mewujudkannya.

Pelatihan-pelatihan pengembangan karakter ini pada dasarnya adalah pengembangan tingkat spiritualitas manusia, seperti contohnya yang dilakukan oleh ESQ Training besutan Bapak Ary Ginanjar.

Di sana diajarkan bahwa untuk menjadi manusia unggul tidak cukup hanya mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional saja, ada satu lagi jenis kecerdasan yang perlu dikembangkan, yaitu kecerdasan spiritual. Untuk bisa mencetak pribadi unggul yang berakhlak mulia, maka ketiga jenis kecerdasan tersebut harus dimiliki dan dikembangkan oleh setiap individu.

Lalu apa yang harus kita lakukan dengan fakta-fakta berdasarkan uraian di atas? Sebagai hasil akhir, tentu yang ingin dicapai adalah menjadi individu yang religius dan juga spiritualis. Karena kalau dua hal tersebut bersatu, maka hasilnya akan luar biasa, melahirkan manusia unggul yang secara universal maupun agama berjalan dengan baik.

Kalau kita merasa bahwa kita sudah menjadi individu yang religius, maka tanyakan pada hati nurani, apakah kita sudah menjadi individu yang baik berdasarkan tolok ukur universal dan tolok ukur agama—berkaitan dengan kesalehan individu dan kesalehan sosial?