Relativitas meupakan suatu teori yang hingga kini masih diperdebatkan karena ada berbagai penyimpangan dari hukum-hukum fisika klasik mulai dari penyimpangan waktu, panjang material, massa benda, gerak, ruang,  hingga terkait energi yang dihasilkan. 

Banyak rumus transformasi yang di subsitusikan ke rumus lain hanya untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang diamati oleh orang lain, dimana menurut pengamat semua keadaan benda saat bergerak itu relatif dari orang yang mengamati benda tersebut.

Perbedaan ini dapat dilihat dari teori fisika klasik yang dipelopori oleh Sir Isaac Newton yang berpaku pada rumus transformasi Galileo yang menyatakan bahwa selang waktu pengamatan terhadap suatu peristiwa yang diamati oleh pengamat yang diam dengan pengamat yang relatif bergerak terhadap peristiwa adalah sama.

Sedangkan teori fisika modern yang dipelopori Albert Einstein yang berpaku pada transformasi Lorentz menyatakan bahwa selang waktu pengamatan antara pengamat yang diam dan pengamat yang bergerak relatif adalah tidak sama.

Dari pernyataan tersebut diketahui pembeda teori fisika klasik dan modern tentang relativitas terletak pada “selang waktu pengamat yang diam dan pengamat yang bergerak”. Tentunya efek yang terjadi pada benda yang bergerak tersebut juga akan berbeda bila dilihat dari kedua teori tersebut.

Pada relativitas Newton, semua besaran akan sama saat diukur oleh pengamat yang diam maupun pengamat yang bergerak. Besaran yang berubah hanyalah kecepatan relatif. 

Sedangkan efek yang terjadi padabenda yang bergerak jika mengacu pada teori relativitas Einstein semua besaran akan berbeda saat diukur pengamat yang diam maupun pengamat yang bergerak, baik dari pengukuran ruang, waktu, panjang, massa dan energi benda tersebut. 

Ketika berbicara tentang relativitas dan penyimpangannya, maka harus terus diikuti dengan teori “kerangka acuan” karena hal inilah yang membedakan benda diam dan benda bergerak. 

Namun teori relativitas banyak membicarakan benda yang bergerak dengan kecepatan yang hampir menyamai dengan kecepatan cahaya, sementara hingga sekarang belum ada satu benda pun yang kecepatannya mendekati cahaya. lantas apakah teori yang diajukan Albert einstein itu benar?

Faktanya efek relativitas  yang dikemukakan Einstein tersebutlah yang banyak dijumpai dalam kasus sehari-hari. Dan sampai saat ini teori ini terus berkembang dan dijadikan acuan untuk menghitung Blackhole, Dark energy, teori pembentukan alam semesta, hingga memprediksi umur alam semesta.

Tentunya hal ini menjadi sebuah pertanyaan yang sangat sulit dijawab dimana ketika sebuah benda bergerak dengan cepat, mengapa massa dan energinya bisa bertambah menjadi lebih besar?. Padahal ketika benda tersebut diam semua orang memandang hal yang sama pada benda tersebut.

Dari berbagai pertanyaan dan ketidakmungkinan yang telah disebutkan diatas, banyak orang yang belum dapat menerima teori relativitas. Namun tidak bisa dipungkiri hal-hal yang terkait relativitas  tersebut benar-benar terjadi di kehidupan nyata. 

Seperti kereta api yang tampak lebih pendek ketika berjalan lebih cepat. Pesawat yang terlihat lebih kecil ketika terbang dan banyak kasus lainnya. Jadi bagaimana semua itu bisa terjadi ?. Padahal benda-benda tersebut kecepatannya masih jauh untuk mendekati kecepatan cahaya?

Satu hal lagi yang tak kalah penting dari teori relativitas ini ialah terjadinya dilatasi masssa dan energi yang bertambah ketika kecepatannya mendekati kecepatan cahaya. 

Dalam teori Einstein menyatakan bahwa pertambahan energi yang dihasilkan sebuah materi berbanding lurus dengan pertambahan massa materi tersebut (materi tersebut kecepatannya mendekati kecepatan cahaya yang dikenala dengan rumus E=mc2.

Dengan konsep tersebut manusia melakukan eksperimen-eksperiman seperti fusi dan fisi atom (energi radioaktif/nuklir) yang menghasilkan energi yang sanagat besar. Bahkan mungkin bisa menggantikan energi minyak bumi dan gas dimasa depan.

Adanya teori tersebut yang menyatakan pertambahan energi dan massa tersebut ketika benda bergerak cepat, tentunya akan berlawanan dengan teori klasik fisika terkait hukum kekekalan energi. Dimana energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Lantas dari mana energi tersebut berasal?

Dalam teori ini sebenarnya telah menyinggung dengan konsep ketuhanan, dimana Tuhan lah yang menciptakan serta mengendalikan energi dimuka bumi ini. Permulaan energi ialah ketika Tuhan itu ada. Namun Tuhan ada sebelum kata “ada” itu ada.

Untuk menjelaskan penyimpangan-penyimpangan pada teori relativitas dibutuhkan waktu yang lama dan pemahaman yang tinggi. Selain itu hal ini masih menjadi sebuah “teori”. Dimana teori tersebut masih dapat terus berkembang mengikuti pemahaman, pemikiran dan teknologi manusia yang berkembang.

Namun satu hal yang perlu diketahui bahwa pemikiran manusia tentang alam semesta ini terbatas, hanya penciptanyalah yang tahu jawaban atas semua yang terjadi di alam semesta ini. Karena tidak semua pertanyaan yang diajukan di alam semesta ini memiliki jawaban yang logis.

Sebagai manusia ada hal-hal yang seharusnya kita tidak ketahui. Dialam semesta ini kita hanya perlu belajar memanfaat energi yang telah diberikan Tuhan untuk kesejahteraan umat manusia, bukan belajar untuk menjadi Tuhan.