Manusia, alam, dan kebudayaan, merupakan tiga hal yang saling bersinergi. Kehidupan yang harmonis ketiga hal tersebut senantiasa hadir dalam kehidupan dalam realitas. Alasan penulis mendalami relasi harmonis antara manusia, alam, dan kebudayaan karena penulis sebagai makhluk yang berakal budi ingin dapat mengetahui dan memaknai bahwa manusia di dunia tidak sendiri saja. Menurut Xunzi, segala yang baik dan bernilai pada manusia itu adalah hasil dari upayanya sendiri. Menurutnya, nilai itu ada dalam kebudayaan dan kebudayaan itu adalah tanda serta hasil keberhasilan manusia. Budaya adalah penggaungan dari kata “budi” dan “daya” yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Istilah kebudayaan atau culture berasal dari kata kerja bahasa Latin yakni colere  yang berarti bercocok tanam atau cultivation. Cultivation atau kultivasi yang berarti pemeliharaan ternak, hasil bumi, dan upacara-upacara religius yang darinya diturunkan istilah cultus atau cult.

Manusia dan Pengelolaan Alam

Alam semesta merupakan keseluruhan zat dan energi, khususnya dalam bentuk esensinya. Ini termasuk binatang, tanaman, dan seluruh sumber daya alam dan peristiwa alam lainnya. Alam semesta yang ada dalam realitas ini merupakan tempat bagi seluruh makhluk hidup, termasuk juga manusia. Keagungan alam semesta yang begitu besar membuat manusia terpesona karenanya. Melalui akal budi manusia, manusia memunculkan ilmu pengetahuan. Manusia memiliki akal budi. Akal budi manusia ini senantiasa berkembang. Dengan berkembangnya akal budi manusia ini muncul ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan eksperimental memunculkan kuatnya daya akal budi manusia. Dalam ilmu pengetahuan tersebut muncul kreativitas, interpretasi, argumentasi, dan refleksi manusia terhadap alam semesta.

Menurut pandangan Aristoteles, alam fisik yang saat ini dipahami oleh manusia terdiri dari dua unsur dasar yakni anorganis dan organis. Dalam kenyataannya unsur yang organis ini terdiri dari 2 hal lainnya seperti halnya tumbuh-tumbuhan (botanik) dan hewan (zoologik). Dalam kaitannya dengan hal tersebut, manusia tergolong masuk dalam unsur organik tersebut. Sekalipun manusia tergolong dalam unsur organik bersama dengan tumbuhan dan hewan, manusia tidak semata begitu saja seperti hewan dan tumbuhan. Dalam sejarah kehidupan manusia di dunia, manusia memiliki sebuah usaha yakni mengubah sejarah alam menjadi sejarah kebudayaan manusia.

Faktor-faktor kebudayaan memberikan rentang yang sangat luas antara manusia dengan alam yang begitu kompleks. Alam sekitar mendorong manusia untuk memperkembangkan daya budinya dengan akibat, bahwa manusia sendiri yang akan menciptakan alam sekitarnya. Habitat digunakan oleh manusia menjadi sebuah ekosistem, bioma dijadikan masyarakat. Hal tersebut bertujuan untuk dapat menguraikan segalanya yang nampak jelas dalam proses kebudayaan. Alam fisik sekitar mempunyai pengaruh besar pada proses kebudayaan manusia. Manusia tak dapat mempertahankan diri di hadapan alam sekitarnya selain dengan menjawab tantangan tersebut. Itu terutama berlaku untuk alam sekitar yang dahsyat seperti daerah kutub utara atau padang gurun pasir. Meskipun situasi alam membatasi atau mempermudah proses kebudayaan, manusia sebagai berbudi dan berikhtiar mengatasi daya-buta dari alam. Manusia dapat mengubah dan menguasai, memilih, dan menghindari daya-daya alam menurut perencanaan. Manusia tidak tergantung secara mutlak dari alam sekitarnya, manusia berdaulat di atas alam semesta.

Manusia bukan sekadar menyesuaikan diri dengan alam, melainkan juga mengelola alam (cultivate) seluas-luasnya dan pada taraf terakhir juga mengendalikan dan ada gejala hendak menguasainya pula. Kebudayaan manusia sudah mulai terbentuk ketika manusia menjalankan semua upayanya. Kebudayaan itu awalnya berasal dari respons manusia terhadap alam dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar untuk melangsungkan kehidupannya. Respons terhadap alam serupa ia sangatlah relevan, terbatas pada masa ketika manusia baru memulai berbudaya. Manusia tidak membatasi dirinya untuk sekadar merespons dan waspada terhadap alam yang dihadapinya, karena alam hanya merupakan salah satu faktor saja yang ikut membentuk kebudayaan. Manusia bahkan berusaha untuk memanfaatkan dan pada tingkat yang lebih jauh juga menguasai serta mengekploitasi alam sekelilingnya. Manusia juga mencoba untuk merekayasa alam. Dalam proses tersebut, berkembang juga perebutan dan persaingan untuk menguasai alam.

Manusia dan Pembebasan dari Determinisme

Dalam segi tiga antara manusia, alam, dan kebudayaan, manusia mengambil posisi yang proaktif dan tidak sekadar membudaya untuk merespons alam, sehingga kebudayaan sekaligus juga menjadi lambang bagi upaya manusia untuk melepaskan diri dari belenggu determinisme. Menurut pendapat John Locke, manusia memiliki kebebasan dan bisa memanfaatkannya untuk mewarnai tabula rasa hidupnya dan mengubah nasibnya. Sejarah kebudayaan menjadi saksi usaha manusia untuk mengungguli determinisme dan menerobos batas hingga pada akhirnya manusia tidak mampu menembus batas akhir yakni kematian. Sejarah kebudayaan semakin mencerminkan sejarah upaya pembebasan manusia dari apa saja yang membelenggu manusia dari keterbatasan.

Relasi Sosial Antar Manusia

Lingkungan sosial manusia atau sosiopsikis harus diteropong untuk dapat menentukan sejauh mana hal tersebut tergolong masuk dalam faktor kebudayaan. Semua kapasitas itu tidak ada artinya dan juga tidak akan terjadi jika manusia tidak mempunyai relasi sosial. Aristoteles menegaskan bahwasanya manusia ialah anthropos physei politikon zoon yang artinya bahwa dari alamnya, manusia adalah makhluk yang berpolitik. Negara merupakan puncak institusionalisasi yang politis dari relasi-relasi sosial. Dalam kelompok yang terjalin dari relasi-relasi sosial, melalui segala kapasitas yang terekspresikan sebagai perilaku individual atau pola perilaku sosial itulah manusia menjalankan responsnya terhadap alam maupun memenuhi berbagai kebutuhannya untuk melangsungkan hidupnya.

Kebudayaan menghimpun realisasi diri manusia dalam merespons sesamanya, namun respons tersebut ada yang negatif dan positif. Pola perilaku sosial itulah yang ikut berperanan menentukan dalam menghasilkan apa yang kita kenal sebagai kebudayaan. Secara keseluruhan, manusia selalu terdorong untuk mencari alternatif baru, meskipun ada kelompok manusia yang malas melakukannya.

Relasi Segitiga Manusia, Alam, dan Kebudayaan Dewasa Ini

Relasi segitiga antara manusia, alam, dan kebudayaan saat ini telah berkembang pesat. Alam sekitar mendorong manusia untuk dapat menggunakan akal budinya supaya dapat mengelola dan memanfaatkan alam dengan baik. Hingga pada akhirnya dengan alam pula manusia dapat berproses untuk menumbuhkan sebuah kebudayaan dalam kehidupan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan perkembangan sejarah kebudayaan manusia dan relevansinya di zaman dewasa ini. Dulu manusia masih menggunakan peralatan sederhana yakni dengan menggunakan barang-barang tradisional untuk mengerjakan suatu hal seperti halnya dalam berkomunikasi masih menggunakan surat-menyurat yang memakan waktu lama, menggarap sawah dengan menggunakan cangkul, pergi dengan jalan kaki atau kereta kuda yang membutuhkan waktu lama serta jangkauan yang terbatas.

Saat ini manusia telah memanfaatkan akal budinya dan alam sekitarnya untuk dapat membentuk kebudayaan baru yakni dengan menggunakan teknologi yang mutakhir seperti halnya penggunaan traktor bajak untuk menggarap sawah dengan cepat, kendaraan menggunakan mesin seperti pesawat, motor, mobil dan sebagai, serta berkomunikasi dengan hanya menggunakan telepon genggam yang dapat menjangkau setiap orang di belahan dunia dengan waktu yang sangat singkat.

Pembuatan rumah yang semakin berkembang beraneka ragam, pembuatan makanan dengan pelbagai bentuk dan selera serta pakaian yang warna-warni bentuknya sesuai mode yang berkembang juga menjadi bukti bahwa manusia dapat mengelola alam dengan baik serta menciptakan kebudayaan yang terus berkembang dari zaman ke zaman. Selain itu pula, hal ini telah menjadi kebudayaan baru yang berkembang di zaman dewasa ini, zaman modern. Memang, nampaknya hal-hal tersebut awalnya mustahil terjadi, namun manusia memiliki kapasitas idealisasi yang memungkinkannya untuk dapat bercita-cita serta menggambarkan masa depan sesuai dengan pemikiran akal budinya.

Selain itu, pada saat ini juga dunia telah dilanda pandemi COVID-19. Hal ini memaksa manusia untuk dapat beradaptasi dengan keadaan sekitar yang tentunya melibatkan alam sekitar. Situasi yang terbatas karena bahaya penyebaran virus COVID-19 membuat manusia menerapkan tindakan baru sebagai respons atas keadaan alam sekitarnya. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya pelbagai perubahan tindakan yang saat ini disebut sebagai kenormalan baru (new normal). Tindakan tersebut telah dilakukan oleh seluruh manusia saat ini yang bertujuan untuk menanggulangi persebaran COVID-19 yang begitu masif. Hal tersebut pula telah ditanamkan dalam kehidupan masyarakat yang telah berubah menjadi kebudayaan baru dalam masyarakat.

Relasi sosial telah berpindah di dunia virtual yakni segala rutinitas pertemuan diselenggarakan melalui media dalam jaringan (daring) yang menghubungkan satu dengan yang lain tanpa adanya kontak fisik secara langsung. Hal ini merupakan bukti keberhasilan manusia dalam mengembangkan akal budinya dan merespons gejala-gejala alam untuk dapat memunculkan sebuah kebudayaan baru yang dinamakan kenormalan baru (new normal). Tak hanya itu, untuk dapat menanggulangi virus tersebut manusia juga memanfaatkan akal budinya serta virus tersebut dalam menciptakan vaksin sebagai antibodi bagi manusia lainnya. Pembuatan vaksi COVID-19 ini menjadi bukti bahwa manusia memanfaatkan akal budi dan alam untuk dapat menyembuhkan manusia lainnya

Kesimpulan

Berdasarkan hubungan segitiga antara manusia, alam, dan kebudayaan serta relevansinya di tengah zaman dewasa ini yang senantiasa berkembang dapat diambil sebuah kesimpulan bahwasanya manusia selalu menggunakan akal budinya untuk dapat merespons alam sekitar yakni dengan cara memanfaatkan alam sekitarnya untuk dapat mencukupi dan memenuhi kebutuhan harian hidupnya. Hal tersebut tentu akan selalu dilakukan dan selalu berkembang, sehingga hari demi hari akan memunculkan kebudayaan baru lagi. Berdasarkan pengelolaan alam, pembebasan dari keterbatasan, relasi sosial, serta kapasitas idealisasi, manusia selalu berperan aktif di dalamnya. Sebab manusialah yang menjadi pemeran utama bagi pengelolaan alam dan proses terbentuknya kebudayaan. Sejarah kebudayaan tak akan lepas dari sejarah perkembangan manusia.

Sekalipun demikian, dalam kenyataannya manusia tentu tak lepas dari sikapnya yang melebihi batas yakni lebih pada tindakan eksploitasi terhadap alam. Hal ini tentu juga akan mempengaruhi segitiga hubungan manusia, alam, dan kebudayaan. Tindakan manusia yang mengeksploitasi alam ini apabila dilakukan terus-menerus akan membuat kebudayaan baru yang merusak alam. Sebab kebudayaan merupakan buah dari cipta manusia dan tindakan tersebut merupakan salah satu tindakan cipta manusia.