Sebagai masyarakat yang tinggal di Indonesia, kita mengenal berbagai macam budaya, tradisi ataupun kearifan lokal yang tebentang dari Sabang hingga Merauke yang memiliki ciri khas masing-maisng yang menjadikan budaya tersebut sangat unik dan berbeda dari budaya lainnya. Keunikan inilah yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menngenal lebih dalam bahkan dipelajarinya. Sehingga warisan budaya yang turun-temurun ini masih ada dan lestari.

Berbicara mengenai budaya yang masih lestari atau ada hingga saat ini, penulis tertarik dengan budaya yang ada di Yogyakarta dan memperdalamnya melalui tulisan ini. Bukan tanpa sebab, banyak warisan budaya yang ada di Yogyakarta memiliki makna dan nilai yang sangat mendalam, salah satunya yang ada di tradisi Labuhan Keraton ini.

Dalam tradisi Labuhan Keraton yang ada di Yogyakarta ini memang tradisi milik keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang memiliki relasi erat antara manusia, alam dan roh nenek moyang yang mana sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dalam kaitan ini, keluarga Keraton mempercayai bahwa laut khususnya Laut Selatan memberikan rejeki kepada masyarakat Yogyakarta dengan hasil laut yang melimpah.

Teori Filsafat Alam

Filsafat alam atau natural philosophy yang pada awalnya sama dengan kosmologi, namun dalam perkembangannya filsafat alam ini dipisahkan dengan kosmologi, karena kosmologi merupakan disiplin ilmu tentang jagat raya ini. Kosmologi itu sendiri berasal dari cosmos yang berarti dunia dan logos yang berarti ilmu, sehingga kosmologi ialah ilmu tentang dunia.

Dalam filsafat alam yang mengkaji secara menyeluruh tentang alam raya ini memiliki objek formal dan objek materialnya. Objek formalnya ialah mengungkapkan hakikat yang mendasar dan mutlak yang menajadikan dunia itu dunia. Sedangkan objek material dari filsafat alam ini ialah alam (keutuhan dunia), yaitu makhluk hidup yang ada di dunia ini, termsauk juga manusia dan juga apapun makhuk hidupnya (macam bentuknya atau apapun itu).

Alam dapat dikatakan sebagai yang tak terhingga sebab alam ini tidak terbatas pada angka, tidak terbatas pada gambar. Alam raya ini sangat luas dan besar dan panjang umurnya. Alhasil, alam memiliki kelompok-kelompok yang membentuk sebuah sistem tersendiri yang mana akan menghasilkan sebuah energi dan energi ini akan menjadi sumber kekuatan alam tentang besarnya kemampuan alam.

Menurut Plotinos (204-270) bahwa dunia dan manusia merupakan yang mengalir dari jiwa. Sedangkan jiwa itu emanasi dari Ruh (Nous) dan Roh itu emanasi pertama dari Yang-Satu. Dunia bersatu karena dirasuki oleh jiwa dunia sebagai emanasi dari jiwa. Memang jiwa dunia dan manusia dibedakan, tetapi pada dasarnya semuanya diresapi oleh daya dan sumbernya, yaitu yang-Satu.

Manusia dan alam ada keselarasan tetapi bukanlah sebagai sebuah identitas karena manusia dengan memiliki hawa nafsu dan kebatiniahnya yang serupa dengan keteraturan kosmos besar. Seluruh kosmos ini terdiri dari zat kejiwaan yang mana mendominasi di manusia. Kesatuan tersebut menjadikan manusia, benda hewan dan makhluk hidup lainnya menjadi sebuah kolektivisme. Tetapi kenyataannya, kosmos terbagi-bagi menajdi variasi benda, manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya yang berbeda-beda.

Namun, dunia adalah pengkosmos-pengkosmos bersama dan suatu totalitas yang utuh. Adanya dunia dikemukakan dari hasil refleksi manusia sebagai hasil dan kesimpulan dalam proses pemikirannya dan juga atas hakikat manusia yang bereksistensi di alam ini karena hakikat manusia meliputi dunia dan hakikat dunia merangkum manusia.

Manusia manyadari diri sebagai sebuah substansi yang adalah anggota dari keutuhan alam ini. Kepastian itu diperoleh karena hubungan dengan substansi-substansi kosmis lainnya. Sehingga manusia dan semuanya yang ada di alam ini dapat bekerjasama. Bisa juga disebut untuk bersinergi. Dalam KBBI bersinergi berarti melakukan kegiatan atau operasi gabungan. Yang mana dalam keterkaitan ini saling bahu-membahu dalam mengelola alam ini.

Manusia Dan Alam Dalam Tradisi Labuhan Keraton

Alam ini sangat luas dan besar sekali dan di dalam alam ini tinggalah manusia, hewan serta makhluk hidup lainnya dan juga benda-benda. Manusia dan subjek lainnya yang tinggal di bumi dan bumi itu sendiri ialah bagian dari alam ini. Manusia yang adalah bagian dari keutuhan alam ini, maka manusia juga memiliki kontribusi terhadap alam ini.

Salah satunya ialah tradisi Labuhan Keraton yang ada di Yogyakarta. Tradisi ini sejatinya ialah peninggalan dari keluarga keraton Ngayogyakarta Hadinigrat. Kata labuh atau larung yang memiliki arti melarung sesuatu ke sungai atau laut. Latar belakang adanya tradisi ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kerajaan Mataram Islam di era raja Sri Rultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755 sebagai bentuk ungkapan syukur atas melimpahnya hasil panenan alam dan juga membuang bala.

Sama seperti pandangan Mbah Maridjan yang melihat bahwa Gunung Merapi yang bagian dari alam ini yang “memiliki” nafas, pikiran dan perasaan, maka tidak heran Merapi bisa saja bergejolak karena sang penunggu Merapi murka terhadap tindakan manusia yang serakah, rakus dan enggan untuk menjaga kelestarian alam. Maka untuk itu, keluarga keraton mengadakan upacara labuhan keraton agar terhindar dari hal-hal yang buruk.

Tradisi Labuhan Keraton ini dilaksanakan setiap tahunnya pada tiap 1 Suro. Tradisi ini dilaksanakan di 4 lokasi yang masing-masing tempatnya memiliki sejarahnya tersendiri, yaitu Pantai Parangksusumo (terjadinya pertemuan antara Kanjeng Ratu Kidul dan Panembahan Senopati yang kemudian membangun hubungan asmara), Perbukitan Dlepih Khayangan (kisah pertapaan Kangjeng Panembahan Senopati sebelum diangkat atas amanat rakyat sebagai raja pertama Mataram Islam), Gunung Lawu (tempat bertapanya Prabu Brawijaya dan Raden Gugur) dan Gunung Merapi (dianggap sbeagai “pusar bumi tanah jawa”).

Tradisi Labuhan Keraton yang ada di Yogyakarta merupakan salah satu contoh bentuk kearifan lokal yang masih ada hingga saat ini. Upacara ini sebagai bentuk persatuan manusia terhadap alam yang memiliki banyak peran, khususnya Pantai Parangtritis (Laut Selatan) yang menjadi tempat pencaharian dan mencari pundi-pundi uang.

Dalam prosesi Labuhan Keraton ini juga mempersembahkan sesajen atau uborampe yang memiliki makna sebagai bentuk sedekah dari keluarga Keraton. Adapun sesajen terssebut ialah kain batik dengan beragam motif, potongan rambut, kuku serta minyak wangi milik sultan serta bunga wangi-wangian. Sesajen tersebut dilarung di Pantai Parangtrisis. Keluarga Keraton mempercayai bahwa alam telah memberikan yang terbaik untuk manusia maka manusia pun juga harus memberikan yang terbaik untuk alam.

Dalam tradisi Labuhan Keraton ini sudah jelas bahwa alam dan manusia sangat bersatu dan kepercayaan itu masih ada hingga saat ini. Tradisi Labuhan Keraton ini dimaknai sebagai usaha manusia untuk selalu ingat akan bumi yang telah memberikan ruang dan lingkup untuk hidup dan uborampe atau sesaji tersbut dimaknai sebagai bentuk dikembalikannya apa yang menajadi alam ini.

Alam ini dapat dikatakan sebagai yang terhingga, tetapi kesadaran akan kesatuan manusia dengan alam membawa manusia berusaha untuk menjalin hubungan dengan alam, sehingga terjadi konfigurasi sedemikian menunggal antara manusia dan alam.

Kesimpulan

Ada cara berpikir manusia yang salah yang mengatakan bahwa alam ini milik manusia maka manusia dapat memanfaatkan semaunya sendiri. Pandangan yang salah inilah yang bertolak belakang dengan filsafat alam yang mengkaji alam dari segi filosofis. Filsafat alam memandang bahwa alam dan manusia ini memiliki keterkaitan, Alam menjadi sumber hidup bagi manusia, maka dari itu manusia tidak boleh merusak atau menguasai alam dengan seenaknya karena alam harus diajaga dan dirawat agar eksosistem alam tetap seimbang.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengadakan prosesi Labuhan Keraton sebagai bentuk perwujudan dari filosfi Jawa yaitu “Hameayu Hayuning Bawana”, yaitu upaya menghormati dan menjaga keselarasan dan keseimbangan alam sehingga manusia tetap bersatu dengan alam.