Jika mendengar kata kekerasan pasti akan terbesit di benak kita terkait tindakan-tindakan yang merugikan salah satu pihak dan pastinya ada yang menjadi korban dalam kekerasan tersebut. Kekerasan berarti perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain (KBBI).

Adapun penjelasan kekerasan menurut Johan Galtung yang merupakan seorang pemikir penting mengenai perdamaian dan kekerasan. Konsep kekerasan menurut Johan Galtung terbagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu kekerasan langsung, kekerasan struktural, serta kekerasan kultural.

Kekerasan langsung ialah kekerasan yang bisa dilihat secara nyata, baik itu tindakannya maupun pelakunya. Sedangkan kekerasan struktural ialah kekerasan yang melukai kebutuhan dasar manusia, tetapi tindakan pelaku tidak bisa diminta pertanggung jawaban mengenai tindakan kekerasannya secara langsung.

Sementara kekerasan kultural merupakan keterangan yang mengesahkan atau membenarkan atas kekerasan langsung dan kekerasan struktural secara budaya. (Galtung, 1990: 291-305)

Secara sadar atau tidak, kekerasan sering kita temui dan terjadi di sekitar kita. Bentuk-bentuk kekerasan terbagi dalam beberapa kategori, ada kekerasan seksual fisik dan bahkan kekerasan psikis. Pelecehan seksual fisik berupa pemerkosaan, penyiksaan organ vital dan pelecehan seksual non-fisik yang berupa catcalling, serta tatapan yang mengarah pada bentuk tubuh.  

Kekerasan seksual dapat dialami oleh semua jenis kelamin, namun yang rentan mengalami kekerasan seksual adalah perempuan yang dimana pelakunya adalah laki-laki.

Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan, faktor tersebut bisa berupa perbedaan fisik dimana laki-laki memiliki 45% otot yang memenuhi tubuhnya, sedangkan perempuan hanya memiliki 35% otot ditubuhnya, serta lemak yang ada pada tubuh laki-laki dan perempuan memiliki jumlah yang juga berbeda.

Perempuan memiliki 27% lemak yang terkandung dalam tubuhnya sedangkan laki-laki hanya memiliki 16% jumlah kadar lemah yang terkandung. Dengan adanya perbedaan fisik antara perempuan dan laki-laki tersebut menjadi salah satu penyebab perempuan rentan mengalami kekerasan seksual. (100 Things to Know about Science karya Alex Firth)

Namun, perbedaan fisik antara perempuan dan laki-laki bukanlah faktor utama terjadinya kekerasan seksual. Adanya relasi kuasa juga menjadi salah satu faktor penyebab kekerasan seksual terhadap perempuan.

Kuasa atau kekuasaan, biasanya dikaitkan dengan orang yang memiliki kuasa lalu kemudian menguasai seseorang, maksudnya ketika seseorang memiliki dominasi yang lebih, maka ia mendapatkan kekuasaan. Dimana kekuasaan tersebut dapat memicu seseorang melakukan penekanan pada salah satu pihak, sehingga secara langsung pihak tersebut akan dikuasai.

Biasanya kasus relasi kuasa banyak ditemukan di ranah institusi, seperti perkantoran atau bahkan pendidikan, di mana karyawan perempuan atau murid perempuan bisa mengalami pelecehan seksual fisik maupun non-fisik, namun mereka tidak bisa melakukan perlawanan karena akan mendapatkan ancaman, ini juga termasuk dalam kategori kekerasan struktural.

Yang di mana pelecehan relasi kuasa ini juga bisa mengakibatkan rusaknya psikis sang korban. Contohnya korban pelecehan seksual di sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, Jawa Timur, yang di mana pelakunya adalah pendiri atau pemilik dari sekolah itu sendiri.

Kasus ini mengakibatkan korban mengalami gangguan psikis karena dilecehkan sebanyak 15 (lima belas) kali, korban takut untuk melakukan perlawanan atau melaporkan kepada pihak berwajib sebab adanya ancaman dari pelaku. Sebelumnya, korban merasa malu untuk membicarakan hal ini karena takut diberi sanksi sosial, sehingga korban memilih untuk diam. (YouTube: Deddy Corbuzier)

Tidak hanya itu, pelaku kekerasan relasi kuasa ada dari pihak aparatur sipil negara (ASN). Karena penyalahgunaan wewenang serta eksploitasi korban oleh pelaku yang seharusnya menjadi pelindung dan pihak yang dihormati. Adapun pelaku kekerasannya yaitu; guru, dosen, tokoh agama, tenaga medis, tokoh public, pejabat, anggota TNI, Polri, serta penegak hukum.

Ada 7 (tujuh) kasus kekerasan seksual yang disikapi oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yaitu kekerasan seksual oleh tokoh publik atau pejabat, aparatur sipil negara (ASN), serta anggota TNI dan Polri.

Bentuk kekerasan seksualnya seperti pemerkosaan, pencabulan, pemaksaan aborsi, dan kekerasan seksual berbasis gender yang dilakukan oleh beberapa oknum. Mirisnya lagi kasus tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun, dilansir dari data KPI tahun 2012 terjadi 135.170 kasus dan melonjak drastis menjadi 338.495 pada tahun 2021.

Jika melihat data dari KPI tersebut hanya merupakan sebagian kasus dari korban pelecehan yang terlaporkan, yang mana itu berarti masih banyak lagi kasus-kasus pelecehan yang tidak terlaporkan oleh para korban pelecehan.

Korban yang tidak melapor karena adanya hambatan psikologis seperti merasa takut, malu, merasa bersalah, juga ada yang tidak tahu harus melapor kemana. Munculnya alasan ini karena adanya stigma negatif oleh masyarakat terhadap korban, terutama jika korban adalah perempuan, korban justru disalahkan oleh masyarakat maupun aparat penegak hukum.

Karena itu korban lebih memilih tidak melaporkan pelecehan seksual yang dialami, karena tidak merasa menemukan tempat yang aman dan mendukung mereka untuk mendapatkan keadilan, padahal seharusnya para korban yang mengalami pelecehan ini harus diberi dukungan yang baik dari lingkungan sosialnya. (Indonesia Judicial Research Society IJRS)

Karena adanya para korban yang masih enggan melaporkan pelecehan seksual yang dialami, maka seharusnya ada tempat aman bagi para korban untuk menjadi tempat mereka menceritakan mengenai pelecehan apa yang dialami tanpa adanya pelabelan negatif terhadap korban.

Serta adanya sosialisasi atau pun edukasi yang lebih masif dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mengenai harus melaporkan kemana jika mengalami pelecehan seksual.