Pada Kamis, 8 November 2018 di Fisipol UGM diadakan aksi #KitaAgni untuk mendukung Agni (bukan nama sebenarnya) dalam memperjuangkan tuntutannya sebagai korban kekerasan seksual. Kasus yang mencuat setelah diberitakan oleh lembaga pers kampus setempat, Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung UGM Yogyakarta menuliskan laporan terkait tindak pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang mahasiswa UGM dengan judul “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan”.

Dari laporan tersebut, tertulis bahwa seorang mahasiswi UGM, Agni, yang melakukan KKN di Pulau Seram, Maluku, mengalami pelecehan seksual dari rekan sesama kampus berinisial HS.

Kasus kekerasan seksual (perkosaan) seperti di UGM tidak hanya sekali terjadi. Sebelumnya banyak kasus serupa yang terjadi. Data dari HopeHelps—organisasi nirlaba yang dibentuk para mahasiswa Universitas Indonesia yang berfokus pada isu kekerasan seksual di kampus mengatakan ada 30 kasus pelecehan seksual yang terekam terjadi di UI selama 2015-2016. 

Sementara tahun 2017 jumlahnya lebih dari 10 kasus. Belum lagi kampus lainnya yang mungkin mempunyai kasus yang sama. Kekerasan seksual tidak hanya terjadi di lingkungan kampus saja, tetapi bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Hal ini disebabkan oleh budaya patriarki yang masih menguat di masyarakat. Dan masih banyak orang yang belum sadar bahwa pentingnya kesadaran gender untuk mewujudkan keadilan gender.

Rape culture alias budaya perkosaan merujuk pada fenomena ketika perkosaan dan kekerasan seksual sering terjadi dan dinormalkan atau dianggap biasa. Teori ini berkembang pada 1970-an di Amerika Serikat. Dalam buku Against Our Will: Men, Women, and Rape (1975), Susan Brownmiller menggambarkan pemerkosaan sebagai proses intimidasi secara sadar oleh laki-laki kepada perempuan, lewat peran penting mereka yang ditopang patriarki. 

Tujuannya, agar perempuan terus berada dalam ketakutan. Teori budaya perkosaan melihat pemerkosaan sebagai gejala yang sudah dianggap umum dan normal dalam masyarakat, dibentuk dari nilai-nilai sosial yang misoginis dan seksis, buah dari ideologi patriarki. Dalam ideologi itu, perempuan dan segala yang feminin ditempatkan di bawah kepentingan pria dan apa pun yang dianggap mewakili maskulinitas.

Kekerasan seksual juga bisa terjadi dilakukan oleh pelaku yang notabene adalah teman, saudara bahkan keluarga sendiri. Padahal berbicara kesetaraan gender adalah bagaimana kita bisa memahami dan tidak membeda-bedakan manusia menurut jenis kelaminnya, termasuk dalam praktiknya adalah menghargai dan memperlakukan sama antara laki-laki dan perempuan. 

Kekerasan seksual adalah pelanggaran berat yang itu bisa membawa dampak yang sangat berat bagi korban dan penyintas. Bahkan kalau tidak dibendung, ini akan menjadi penyakit di masyarakat karena kurangnya kesadaran di masyarakat. Dibutuhkan adanya pembelajaran dan pemahaman bersama mengenai kesetaraan gender dan keadilan gender.

Selain patriarki, di tengah kultur feodal dan warisan dari sejarah peradaban manusia masih kuat mengakar dalam masyarakat, perempuan dijadikan objek dan olokan. Sejak awal sejarah umat manusia, perempuan diposisikan sebagai jenis kelamin kedua. Dalam kitab suci agama samawi, perempuan berasal dari tulang rusuknya laki-laki (Hawa berasal dari tulang rusuk Adam). 

Laki-laki adalah ciptaan yang asli, sedangkan perempuan adalah pelengkap. Dalam hampir setiap budaya tertua di seluruh dunia, kedudukan perempuan selalu ditempatkan di posisi kedua setelah laki-laki. Lebih sadis lagi perempuan dilihat sederajat dengan hewan, budak yang tugasnya melayani dan memuaskan kebutuhan laki-laki. Budaya ini telah berlangsung dari abad ke abad dan telah dijadikan sebagai sebuah kebenaran.

Menilik para tokoh besar di zamannya, kita akan semakin jelas mengetahui bahwa perempuan selalu ditempatkan di posisi terendah. Aristoteles mengatakan bahwa “perempuan hanyalah benda, sedangkan gerakan yang menjadi prinsip laki-laki adalah lebih baik dan lebih hebat”. Pemikir yang diagung-agungkan pada zamannya juga masih melihat perempuan sebagai manusia yang tidak lengkap sama dengan benda-benda. 

Kemudian di abad pertengahan, Thomas Aquinas juga mengatakan hal yang sama. Perempuan adalah sebagai “laki-laki yang tidak sempurna”, makhluk “yang dicipta secara tidak sengaja”. Bagi mereka, hanya laki-lakilah yang sempurna, dan perempuan tidak lebih dari seksdar pelengkap yang tidak diharapkan kehadirannya. Bagi mereka takdir perempuan memang begitu dan tidak bisa diubah lagi.Tentu saja ini suatu ketidakadilan besar bagi kaum perempuan. 

Kapitalisme dan patriarki telah melekat menjadi satu. Hal inilah yang kemudian menciptakan eksploitasi perempuan dalam ranah relasi kerja sebagai pekerja upahan dalam dunia kapitalistik ini. Soal upah, Karl Marx menunjukkan bahwa semakin banyak kerja yang dilakukan oleh rumah tangga, semakin sedikit uang yang perlu dibelanjakan untuk membeli barang-barang di luar. 

Artinya, ada kondisi yang memungkinkan kapitalis untuk menekan upah. Eksploitasi tubuh perempuan oleh kapitalisme, seperti juga patriarkhi, menganggap tubuh perempuan sebagai objek yang bisa dieksploitasi untuk mendatangkan keuntungan. Mulai dari eksploitasi seksual, seperti prostitusi, pornografi, sales promo girl (SPG) dan industri hiburan. Juga industri kecantikan yang menggunakan tubuh perempuan untuk memproduksi dan memasarkan berbagai produk ‘penambah kecantikan’ perempuan.

Dalam konstruksi masyarakat patriarkhal, laki-laki ditempatkan sebagai pencari nafkah utama, sedangkan perempuan hanya pencari nafkah tambahan. Ini dimanfaatkan oleh kapitalisme. Terutama dalam pengupahan. Upah buruh laki-laki lebih banyak dari upah buruh perempuan karena adanya komponen tunjangan keluarga (istri dan anak). Sementara buruh perempuan, sekalipun sudah menikah atau sudah berkeluarga, tetap saja dianggap buruh lajang. Dampak lainnya, karena hanya dianggap pencari nafkah tambahan, perempuan rentan terhadap praktek upah murah dan status pekerja tidak tetap (kontrak dan outsourcing).

Maria Mies, penulis buku Patriarchy and accumulation on a World Scale, berbicara tentang Housewifization atau perempuan sebagai istri yang mengurus kerja-kerja rumah tangga. Nah, menurut Mies, salah satu strategi housewifization adalah luxury comsumption atau “konsumen barang mewah”. 

Maksudnya, supaya perempuan betah di dalam rumah atau ranah domestik, maka mereka coba dipuaskan dengan konsumsi barang-barang mewah. Luxury comsumption membawa keuntungan ganda bagi kapitalisme: Pertama, bisa menjinakkan perempuan sehingga menerima posisi sebagai pengurus rumah tangga (domestifikasi); dan kedua, mendorong kapitalisme menciptakan barang-barang mewah meski nilai gunanya hampir tidak ada.

Sistem kapitalisme dan patriarki (patriarki kapitalisme) menyebabkan terjadinya penindasan social. Ada yang mendominasi dan disubordinasi. Dorothy E. Smith mengatakan bahwa yang meletakkan faktor kesadaran, motivasi, gagasan, pengetahuan, ideologi, dan definisi tentang situasi dalam menjelaskan pandangannya tentang pentingnya ilmu pengetahuan bagi perempuan. Ilmu pengetahuan menurut Smith dipengaruhi oleh kekuasaan dan struktur sosial. 

Struktur sosial merupakan perwujudan dari kepentingan aktor individual yang membuat keputusan sehingga struktur sosial itu menciptakan penindasan. Perjuangan melawan patriarkalisme berkaitan dengan supersession dari kapitalisme. Ada fenomena yang menunjukkan kesulitan perempuan mencapai kondisi keadilan sosial dalam beroperasinya sistem patriarki dan kapitalisme. Selama kedua hal itu beroperasi yaitu kapitalisme dan patriarki dalam kehidupan keseharian selama itu pula kesetaraan terhadap perempuan menjadi sulit diwujudkan. Dan itulah pola relasi kuasa terjadi dan dibangun.

Relasi kuasa banyak menentukan posisi perempuan sebagai makhluk yang disubordinasi. Relasi kuasa sebagai perwujudan adanya hirarki, telah menemukan jati dirinya sebagai sebuah otoritarian. Relasi kuasa dalam sistem kapitalisme menempatkan perempuan sebagai kelas pekerja yang disubordinasi dengan pekerja laki-laki. Relasi kuasa terjalin karena adanya interaksi antar manusia yang kemudian menjadi kesepakatan relasi dalam segala relasi manusia. 

Entah relasi itu dibangun sadar atau tidak, setara atau tidak. Relasi kuasa yang timbul akibat masih membudayanya paham feodal di masyarakat turut mendukung patriarki direproduksi terus menerus. Negara sebagai representasi masyarakat sebagai sebuah kontrak sosial mengiringi relasi kuasa yang timpang. Apa pasal? Karena negara adalah manifestasi tak terdamaikannya kelas-kelas dalam masyarakat, dan kemudian terciptanya hirarki antara rakyat dengan pemerintah.

Relasi kuasa cenderung menciptakan superioritas di dalam masyarakat,dimana masyarakat masih patron kepada orang lain yang dianggap lebih baik,lebih pintar,lebih dari segalanya ketimbang dengan dirinya. Situasi ekonomi telah mereproduksi relasi kuasa menjadi eksis dan berlaku. Ia telah menghegemoni masyarakat dan mengontrol masyarakat dalam sebuah hubungan yang hirarkis. 

Akibatnya dalam konteks gender adalah menganggap perempuan sebagai sebuah obyek, pemuas hasrat bagi laki-laki, dianggap sebagai sebuah kaum yang lemah dan rendahan. Banyak kasus yang terjadi dimana perempuan menjadi korban. Seperti Sitok Srengenge yang memperkosa mahasiswi UI sampai kasus terbaru ujaran pelacur yang disematkan kepada Via Vallen oleh Jerinx SID. Dan masih banyak kasus lainnya yang menjadikan perempuan sebagai mayoritas korban.

Pemahaman mengenai kesetaraan gender yang masih lemah di masyarakat inilah yang menjadi problem utama. Masyarakat belum sadar sepenuhnya akan kesetaraan gender itu penting untuk meneruskan sejarah peradaban manusia itu sendiri sebenarnya. Ketidaksetaraan gender itu bisa terjadi dalam relasi perkawanan,keluarga,hubungan kerja sampai relasi sosial lainnya yang lebih tinggi. 

Jika semua manusia itu sama derajatnya,maka kita sepakat bahwa manusia adalah makhluk sosial kolektif. Kolektivisasi inilah sebagai sebuah hakikat manusia itu sendiri semenjak pertama lahir yaitu  pada saat masyarakat komunal primitif. Tetapi dalam masyarakat kapitalistik inilah relasi kuasa sebagai sebuah hirarki telah eksis merasuk pemikiran manusia. Jika manusia bisa memadang dan memperlakukan sama satu sama lain tanpa kelas dan hirarki, maka sebenarnya  relasi kuasa akan tiada. Dan disitulah terdapat sebuah keadilan yang sejati, termasuk keadilan gender.