Saat ini seluruh masyarakat dunia sedang mengalami bencana besar, yaitu bencana pandemi. Bencana ini menyebabkan banyaknya perubahan sosial dalam masyarakat, khususnya perubahan gaya hidup.

Adanya pandemi ini membuat banyak rencana yang telah disusun sebaik mungkin seketika harus rela gagal ataupun mundur dari perkiraan. Masyarakat diminta untuk tetap tinggal di rumah sebagai upaya untuk memutus mata rantai penularan virus Covid-19 ini.

Kebijakan untuk tetap di rumah saja akhirnya membuat masyarakat yang mulai mencari kegiatan dan berkreativitas di rumah. Kegiatan tersebut di antaranya seperti belajar memasak dengan mencoba resep baru, membaca buku, bermain musik, sampai dengan menonton serial film atau serial drama. 

Salah satu yang selama masa karantina ini diperbincangkan adalah serial drama Korea, atau disebut dengan drakor.

Serial drama Korea yang menjadi trend belakangan ini adalah serial drama dengan judul A World of the Married CoupleDrama ini menceritakan mengenai kisah sebuah perselingkuhan yang terjadi dalam sebuah keluarga, yang didukung oleh beberapa cerita lain mengenai kisah kehidupan sebuah rumah tangga yang lainnya. 

Drama ini tidak hanya mengenai kisah cinta dan konflik keluarga, namun terdapat hal lain yang diangkat dalam drama ini, seperti halnya karier dan juga permasalahan dalam sebuah kelompok sosial.

Tulisan ini tidak akan membahas siapa pemainnya dan berapa jumlah episode dalam drama ini. Karena tampaknya sudah banyak yang paham mengenai hal ini. Maka dari itu, melalui tulisan ini, mari kita membahasnya mengenai unsur lain seperti relasi gender.

Gender sendiri merupakan sebuah konstruksi sosial dan komodifikasi perbedaan antarseks, konsep gender ini menjelaskan mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan. 

Selain itu dalam kajian feminisme, gender bermakna ciri atau sifat yang dihubungkan dengan jenis kelamin tertentu, baik berupa kebiasaan, budaya, maupun perilaku psikologis, bukan perbedaan secara biologis. (Mansoer, 1996)

Serial K-Drama juga merupakan salah satu bentuk dari produksi budaya populer atau pop culture. Budaya populer erat kaitannya dengan isu-isu gender di dalamnya.

Bentuk budaya populer biasanya terdapat isu gender, yaitu seperti dalam sebuah iklan, film, lagu, serial televisi, serta majalah. Isu gender tersebut dibuat secara sengaja untuk mengonstruksikan suatu hal, misal bisa saja seperti mengonstruksi citra diri seorang perempuan maupun laki-laki.

Maka dari itu, dapat dilihat bahwa dalam serial K-drama A World of the Married Couple ini terdapat penggambaran mengenai citra diri seorang perempuan yang digambarkan dengan sosok perempuan yang berperan sebagai Ji Sun Woo. 

Dalam karakter yang diperankan oleh Ji Sun Woo, dibentuk sebuah sosok citra diri perempuan yang mandiri, sukses dalam hal karier, mampu membantu membiayai perusahaan suaminya. 

Karakter yang diperankan oleh Ji Sun Woo ini ingin menunjukan sosok perempuan yang mandiri, sukses dalam karier, berambisi, dan juga mampu berjuang untuk kehidupannya sendiri. Melalui berbagai cara yang menunjukkan superioritasnya menjadi seorang perempuan.

Meskipun ia mengalami kegagalan dalam rumah tangga, namun ia tetap bisa memiliki kariernya dan juga kehidupan yang jauh lebih baik daripada mantan suaminya.

Penggambaran lainnya mengenai citra diri seorang laki-laki yang tentunya digambarkan melalui sosok Tae Oh sebagai seorang suami dari Ji Sun Woo. Tae Oh digambarkan sebagai sosok laki-laki yang tidak terlalu sukses dalam kariernya saat bersama Ji Sun Woo.

Namun ia meraih kesuksesan ketika menikah dengan Da Kyung yang menjadi selingkuhannya, karena ia dibantu oleh ayah Da Kyung yang memiliki posisi penting di kota Gosan tersebut. Dengan hal tersebut, Tae Oh dapat dikatakan tidak mampu sukses dan berjuang menggunakan dirinya sendiri, namun dengan dibantu oleh kesuksesan dari mertuanya.

Meskipun begitu, Tae Oh tetap dihormati menjadi seorang laki-laki oleh istrinya, baik oleh Ji Sun Woo maupun Da Kyung. Ia tetap memiliki kedudukan di atas perempuan dalam sebuah keluarga.

Melalui sosok Tae Oh ini, gambaran sosok laki-laki yang tampaknya sesuai dengan realitas yang ada dalam masyarakat. Budaya patriarki yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat.

Hal ini dapat menjadi salah satu indikator bahwa meskipun perempuan lebih sukses dari laki-laki, namun laki-laki tetap mendapatkan posisi yang lebih tinggi dalam sebuah keluarga, ia tetap menjadi seorang kepala keluarga.

Namun dalam hal ini perlu diperhatikan realitasnya dalam masyarakat, terdapat beberapa laki-laki yang yang ingin posisinya tetap sebagai kepala keluarga, namun ia tidak mampu menjalankan perannya atau bisa kita sebut dengan adanya disfungsi dalam keluarga. 

Lalu apakah dengan hal tersebut membuat perempuan tetap tidak bisa dikatakan atau bahkan menggantikan posisi laki-laki sebagai keluarga dengan kemampuan yang dan fungsi yang mampu ia jalankan?

Lalu apakah ini bentuk dari diskriminasi gender? Atau bentuk dari superiornya budaya patriarki dalam sebuah masyarakat?