Begitu menarik sekali perdebatan yang disuguhkan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan, pada akhir-akhir ini. Awalnya, saya mengira perdebatan mereka tentang sains itu durasinya tidak akan berlangsung terlalu lama.

Dan saya hampir menganggap bahwa pertarungan argumentasi, yang telah mereka mulai sejak beberapa waktu yang lalu ini, akan segera berakhir. Namun, nyatanya, dugaan saya itu keliru. Sebab perdebatan di antara mereka justru semakin lama kian berkembang, dengan platform media yang berbeda-beda.

Tema-tema perdebatan yang mereka bahas antara lain berkaitan dengan relasi antara sains dan agama—yang masih menjadi paradog, apakah keduanya saling berhubungan atau tidak berkaitan sama sekali; tuduhan akan kepongahan sains—yang sebenarnya, saya yang lebih sepakat dengan sebutan kepongahan sebagian para saintisnya saja; dan bahasan berikutnya adalah mengenai manfaat dan kerugian yang telah ditimbulkan oleh sains.

Dalam tulisan ini saya tidak hendak mengomentari tiga jenis perdebatan tersebut, yang akan melahirkan tulisan yang terlalu panjang. Namun, saya hanya akan fokus untuk menyampaikan sebatas pemahaman saya mengenai relasi antara sains, matematika—sebagai representasi dari salah satu produk sains, dan agama.

Langsung saja, kita telah mengetahui bahwa salah satu produk sains yang kita kenal adalah ilmu hitung atau yang jamak kita pahami dengan ilmu matematika. Ilmu matematika ini konon telah ditemukan oleh para saintis atau filsuf sejak zaman sekitar 35.000 SM, yakni, melalui penemuan bukti artefak prasejarah yang digunakan oleh orang-orang kala itu untuk menghitung waktu.

Penerapan ilmu matematika yang mereka temukan itu kemudian terus berkembang, sehingga kita mengenal jenis matematika Mesopotamia, matematika Mesir, Yunani, Cina, India, dan tidak ketinggalan pula, matematika versi Islam, yang digagas oleh Al-Khawarizmi.

Jika kita melihat secara sekilas, ilmu matematika yang merupakan produk dari para filsuf atau saintis kuno tersebut seakan merupakan ilmu tersendiri yang tidak berkaitan sedikit pun dengan agama. Namun, jika kita menelaah lebih lanjut mengenai beberapa konsep yang ada dalam ajaran agama, nyatanya, sebagian besar tidak terlepas dari penggunaan ilmu hitung-hitungan atau produk sains itu.

Sebagai contohnya, dalam kisah yang dimiliki oleh agama Hindu, kita telah mengenal sosok Pandhawa yang berjumlah lima orang. Dari sini, kita mulai mengetahui bahwa “lima” yang merujuk pada jumlah atau banyaknya sosok Pandhawa itu notabene-nya merupakan hitung-hitungan atau produk dari sains.

Bukti berikutnya, dalam konsep agama Budha. Kita pun mengenal kisah tentang kera sakti, Sun Go Kong yang telah dihukum oleh Budha dengan tindihan gunung lima jari selama lima ratus tahun lamanya, lantaran ia telah mengacaukan kahyangan. Bukankah angka 5 dan 500 yang menerangkan jumlah jari Budha dan lamanya hukuman Sun Go Kong itu juga merupakan matematika yang merupakan produk dari sains?

Dalam agama Kristen, kita mengetahui konsep tentang Trinitas atau kepercayaan pemeluk agamanya terhadap tiga Tuhan. Bukankah “tiga” itu juga merupakan bagian dari angka yang digunakan untuk menghitung (baca: produk sains)?

Belum lagi, konsep dalam ajaran agama Islam yang menjelaskan tentang perhitungan, yang luar biasanya banyaknya. Misalnya, mengenai lailatul qadr yang keutamaannya lebih dari 1000 bulan itu; keutamaan bagi orang yang dermawan yang Tuhan melipatgandakan balasan atas kebaikan mereka hingga sebanyak 700 kali; dan jumlah Tuhan mereka, yakni Allah, yang Ahad atau Tunggal. Dan masih banyak lagi contoh-contoh mengenai angka-angka ini di dalam Alquran, jika kita ingin mengupasnya.

Dan pada intinya adalah, seseorang yang hendak mempelajari maksud dari ajaran agama itu akan begitu mudah dalam memahaminya jika sebelumnya ia telah mengenal konsep tentang matematika atau produk sains itu. Dari sini, saya mulai menampilkan sebuah kesimpulan, bahwa melalui sains maka proses untuk mempelajari ajaran agama akan menjadi semakin mudah.

Berangkat dari mudahnya belajar ilmu agama dengan mengintegrasikan ilmu matematika dan sains itu, maka kiranya kita pun dapat mengembangkan penggunaan fasilitas sains lainnya untuk mempelajari dan mengembangkan ajaran agama kita.

Misalnya, belajar dan mengajarkan agama melalui fasilitas video streaming di YouTube, menyebarkan dan menerima pesan agama melalui media sosial, dan lain sebagainya. Bukankah dengan menggunakan fasilitas-fasilitas produk sains tersebut proses untuk mengenal dan mengembangkan agama akan menjadi semakin mudah?

Namun, kita harus tetap eling lan waspada, tetap ingat dan mewaspadai, bahwa sains saja yang tidak dibekali oleh pemahaman ilmu agama yang benar oleh para penemunya dan para penggunanya, maka akan berpotensi mengantarkan mereka menjadi pribadi pongah.

Mereka berpotensi menjadi pribadi yang acuh terhadap kebenaran lain yang bersumber dari luar dirinya, sebab kebenaran yang bersumber dari mereka adalah segala-galanya. Dan lebih dari itu, hal yang lebih berbahaya lagi adalah mereka juga akan berpotensi memanfaatkan produk sains itu untuk perihal yang membawa kerugian bagi diri mereka sendiri dan pihak lainnya.

Wabilkhusus untuk para saintis yang tidak mampu menerima kebenaran dari luar mereka, maka secara tidak langsung, bukankah mereka telah menghianati konsep relativitas yang telah ada dalam kaidah sains itu sendiri? Bukankah dalam sains mereka selalu saja mendengungkan bahwa apa saja yang mereka temukan bukanlah kebenaran yang terakhir atau final, sehingga keberadaannya masih dapat dibantah oleh pandangan manapun?

Mereka, yakni para peneliti dan ilmuan itu sendiri selalui mengakui bahwa selalu ada keterbatasan dalam setiap penemuan mereka, sehingga kebenaran yang mereka raih saat ini hanyalah bersifat sementara dan hanya diakui sebagai kebenaran yang termutakhir, dan bukan akhir dari segala kebenaran. Dengan demikian, sangat mungkin dari hasil penelitian mereka dan teori mereka yang mereka gunakan saat itu, suatu saat akan dipatahkan oleh teori maupun penelitian yang lainnya.

Persoalan yang kemudian semakin berkembang adalah, jika mereka mengakui kebenaran yang relatif dari sesama saintis saja bisa, kenapa hal yang demikian tidak mungkin terjadi dengan kebenaran yang dibawa oleh para agamawan? Atau bahasa vulgarnya, mengapa para saintis itu sulit menerima kebenaran dari para agamawan?

Setelah saya membaca keterangan esai dari Hasanuddin Abdurakhman, maka jawabannya adalah karena standarisasi dan kaidah protokol keilmiahan mereka memang berbeda. Jika dalam beragama landasan utamanya adalah ajaran dan kepercayaan, maka dalam sains landasannya adalah perkiraan, penelitian, pengukuran, dan kesimpulan.

Tentu saja akan sulit untuk mempertemukan dua cara pandang ini yang sama sekali berbeda ini. Apalagi jika kita mengingat, jangankan menyatukan pandangan antara saintis dan para agamawan, bahkan menyatukan pendapat sesama saintis atau sesama agamawan saja sulitnya na’udzubillah. Ibaratnya, mereka semua telah memiliki mazhab dan fatwa masing-masing.

Saya menjadi teringat dengan pesan yang teramat bijak dari Baginda Nabi Muhammad SAW dalam menyikapi pertentangan pandangan yang terjadi di antara umat beliau. Beliau suatu waktu pernah menerangkan bahwa, “Perbedaan di antara ummatku adalah sebuah rahmat.”

Dalam sudut pandang agama, para saintis boleh saja menantang dan meragukan kadar kevalidan atas kebenaran yang diyakini oleh para agamawan. Namun, kiranya mereka juga tidak boleh lupa, bahwa agama jauh-jauh hari juga telah menantang kemampuan mereka untuk meneliti isi dalam samudera ini dengan sedetail-detailnya. Dan ajaran agama telah mempersilahkan mereka untuk mengitari langit dan bumi dengan berbekal temuan sains mereka.

Mereka, yakni para saintis itu, kiranya dapat merenungi pesan dalam QS Ar-Rahman ayat 33 berikut: “Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan.”

Bukankah ayat inipun sebenarnya telah mempersilahkan kekuatan sains berkembang dengan sebebas-bebasnya untuk menelusuri, meneliti, mengolah, memanfaatkan, dan merawat apa saja yang ada di alam semesta ini. Semuanya silakan saja mereka lakukan, asalkan berbekal dengan kekuatan atau kemampuan.

Kemampuan yang dimaksud dalam ayat ini tentu saja dimensinya sangat luas. Yang bisa berarti kekuatan finansial, kekuatan penelitian, kekuatan pengetahuan, kekuatan teknologi, dan kekuatan piranti pendukung, yang akan mengantarkan mereka sehingga mampu untuk menembus batasan-batasan dan sekat-sekat misteri pengetahuan yang belum pernah mereka ungkap dan mereka singkap sebelumnya.

Bukankah dalam ayat ini sekaligus berarti anjuran untuk mengembangkan sains sebebas-bebasnya demi menelusuri, memperbarui, dan memutakhirkan pengetahuan manusia sehingga misi penjelajahan pengetahuan dan keimanan mereka semakin dalam, tajam, menyeluruh, kaffah dari waktu ke waktu? Tentu saja saya tidak bisa memaksakan pendapat saya ini, sebab kembali lagi semuanya akan berpijak pada keyakinan dan pemahaman masing-masing.

Namun setidaknya, berdasarkan pemaparan saya tentang contoh penerapan sains dalam agama ini, saya pada akhirnya dapat menarik kesimpulan, bahwa dengan berbekal sains, maka proses dalam mempelajari ilmu agama akan menjadi semakin mudah. Dan demikian pula sebaliknya, dengan memahami ilmu agama, maka akan mengantarkan para penikmat sains itu dapat berakhlak karimah.