Bukankah seorang manusia yang diakui kejeniusannya oleh dunia pernah menyimpulkan bahwasanya agama tanpa ilmu itu lumpuh, sementara ilmu tanpa agama itu buta?

“Mencari serta mengamalkan ilmu dan pengetahuan dengan benar, akan membimbing kita menuju kepada kemuliaan hidup." Demikian, seorang bijak pernah bertutur kata.

Ilmu dan pengetahuan menjadi sasaran pengembaraan wawasan bagi setiap orang, sebagai pengaruh alamiah atas anugerah akal dan pikiran.

Sudah menjadi tabiat manusia, bahwa serba kekurangan hampir selalu menghiasi alam pikirannya. Sementara itu, anugerah tiada pernah putus dilimpahkan oleh Sang Pencipta.

Alasan manusia selalu ada, beragam rupa pula. Mulai dari keharusan memenuhi kebutuhan, sekedar meraih keinginan, hingga niatan berbagi kebaikan bagi banyak manusia, demi mencapai kesempurnaan.

Menuju kesempurnaan lalu menjadi pemacu bagi akal pikiran dan ilmu pengetahuan, untuk  dicari, ditelaah, diajarkan, dijabarkan, yang dari waktu ke waktu selalu berkembang. Seiring keinginan banyak manusia, agar mampu menyingkap misteri alam semesta.

Dalam perjalanan pengembaraan menuju kesempurnaan, maka manusia terbagi dua ketika harus menentukan pilihan cara meluapkan isi akal dan pikiran, yakni memilih menjadi skeptis atau menjatuhkan pilihan untuk menghormati dogma.

Pilihan menghormati dogma, berarti segala hal yang telah diamati dan dirasakan, telah menjadi suatu kebenaran nyata yang tak terbantahkan. Lalu segala perilaku dalam upaya menuju kesempurnaan hidup bakal dimaklumi, dengan meyakini kebenaran yang tak terbantahkan itu, sebagai batasan.

Sementara pilihan menjadi skeptis, bakal memicu perilaku lebih liar dalam menggagas dan memutuskan untuk bertualang memecahkan rahasia alam semesta. Tak ada kebenaran yang tak terbantahkan, kecuali kebenaran itu telah dibuktikan. Setidaknya sesuai dengan akal pikiran, mengacu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tengah berkembang.

Hasil karya buah berperilaku antara si skeptis dan si dogmatis, tentu berbeda. 

Pengembaraan ilmu dan pengetahuan para manusia yang menghargai dogma, lebih mempertimbangkan batasan-batasan kebenaran yang tak terbantahkan sebagai acuan, sebagaimana tersurat maupun tersirat dalam petikan-petikan Kalam sang Pencipta. Cakupan wujud karya menuju kesempurnaan pun lebih berhati-hati, agar tak melampaui apa-apa saja yang telah menjadi batasan-Nya.

Sama sekali berbeda dengan cara berpikir skeptis yang hampir tak ada kebenaran yang tak terbantahkan. 

Hasil-hasil karya si skeptis selalu bersifat sementara, sebagai upaya meneruskan karya-karya pendahulunya, yang menjadi acuan utama penelaahan dan pengembangan, demi menuju suatu kesempurnaan. Khususnya, telaahan untuk menguak misteri dalam setiap detail limpahan anugerah isi alam semesta, bagi manusia.

Sebenarnya, kedua pilihan cara menimba ilmu dan bertualang pengetahuan guna menyajikan suatu karya, bisa memadukan antara sikap skeptis dengan mengakomodasi pandangan dogmatis. Agar, setiap pengembaraan si skeptis bisa disikapi dengan bijak karena telah mempertimbangkan dogma-dogma dalam wujud pesan-pesan berkeyakinan, yakni Agama. 

Karena pada hakekatnya manusia tak bakal mampu menyaingi keagungan ilmu dan kekayaan pengetahuan-Nya.

Bukankah seorang manusia yang diakui kejeniusannya oleh dunia pernah menyimpulkan bahwasanya agama tanpa ilmu itu lumpuh, sementara ilmu tanpa agama itu buta?

Namun, ternyata manusia sudah dalam kodratnya tercipta berbeda-beda. Suatu kebenaran nyata yang tak terbantahkan, justru memicu penggunaan ilmu dan pengetahuan sebagai ajang petualangan, agar menghasilkan suatu karya alternatif yang bakal menyaingi suatu kebenaran nyata, dalam kemasan niatan meraih kesempurnaan bagi umat manusia.

Ilmu pengetahuan tentang Kloning, misalnya.



Jelas hasil uji coba ini mewakili buah karya sekumpulan manusia dengan gagasan yang teramat liar. 

Tak Dikawin tapi Disetrum

Syahdan, pada 22 Pebruari 1998, ilmuwan Skotlandia mengumumkan kepada dunia tentang terobosan bidang ilmu Bioteknologi perihal kelahiran kelahiran mamalia pertama yang bukan melalui proses perkawinan namun Kloning. Hasil pengklonaan seekor domba betina, yang lahir pada 5 Juli 1996, Dolly namanya.

Secara ringkas, proses Bioteknologi Kloning mamalia tersebut, berupa pengambilan satu inti sel suatu mamalia, dalam hal ini adalah 'induk' domba Dolly, dari satu bagian dalam tubuhnya. Lalu, inti sel ini disuntikkan ke dalam satu sel telur milik domba betina lain, yang telah dibuang inti selnya. 

Setelah itu, perkembangan metabolisme inti sel tersebut dipicu oleh sebuah sengatan energi listrik berkekuatan sekian milivolt. Kemudian, sel yang telah terpicu perkembangan baik secara mitosis maupun meiosis tersebut, disimpan dalam organ peranakan domba betina lain, agar berkembang menjadi jabang bayi kembaran identik si domba 'induk'.

Berhasil!

Lahirlah seekor domba yang kembar identik, memiliki susunan DNA yang sama persis dengan susunan DNA si domba 'induk'.

Luar biasa bukan?

Potret Domba Dolly Kembar Identik dengan Sang ‘Induk’, Buah Pengklonaan terhadap Sang ‘Induk’. Sumber: Extra.ie

Belum terbayang sebelumnya, bagaimana seekor domba dari pengambilan satu inti sel,  melalui sebuah proses penyetruman, kemudian bisa menjadi domba itu sendiri, namun berusia jauh lebih muda.

Hanya saja, usia domba Dolly terbilang singkat. Berhasil hidup selama tujuh tahun, menjalani hidupnya melalui masa-masa pertumbuhan yang relatif luar biasa cepat, dibanding domba-domba lain yang terlahir dari hasil perkawinan normal. Lalu domba Dolly mati, karena penyakit radang sendi.

Potret Domba Dolly Hasil Kloning Dengan Anak Betinanya dari Hasil Perkawinan Alami, Bernama Bonnie. Sumber: thejournal.ie

Perihal proses penyetruman pada inti sel induk domba dalam ‘cangkang’ sel telur tanpa inti sel milik domba lain, itu jelas bukanlah proses perkawinan yang sebenarnya.

Proses perkawinan, sudah jelas sebagai kebenaran yang tak terbantahkan, adalah bertemunya sel sperma dan sel telur untuk kemudian menjadi suatu nutfah, embrio. Jika embrio itu adalah manusia, maka beberapa hari kemudian siap dianugerahkan nyawa, melalui Tiupan-Nya.

Jelas, hasil uji coba Kloning ini mewakili buah karya sekumpulan manusia pintar dengan gagasan teramat liar.

Domba Dolly, lahir melalui proses penyetruman inti sel yang diambil dari suatu kelenjar (Gland) si ‘induk’ domba, yang sejatinya adalah diri domba Dolly itu sendiri.

Karena Gland berwujud fisik yang bergelantungan, maka inspirasi penamaan domba Dolly berasal dari nama seorang selebriti internasional, Dolly Parton namanya. Sosok wanita selebriti yang memiliki sepasang buah dada berukuran dahsyat nan bergelantungan.

Dolly Parton Menginspirasi Nama Domba Kloning karena Gland yang Bergelantungan. Foto: goodhousekeeping.com

Betapa penamaan yang menambah imajinasi liar terhadap suatu buah karya ilmiah.

Begitulah, salah satu ciri hasil petualangan ilmu pengetahuan melalui sentuhan skeptis, bakal fenomenal sekaligus liar, yang kemudian dipersembahkan bagi dunia.



Karena sudah jelas, kelahiran kembar identik hasil pengklonaan, tanpa melalui proses perkawinan.

Manusia Tanpa Ruh

Uji coba berhenti sampai di sini saja?

Mana mau sekumpulan ilmuwan yang memiliki gagasan skeptis dibatasi oleh dogma-dogma.

Karena domba adalah jenis hewan mamalia bertulang belakang, maka tak ayal penelitian tentang pengklonaan, meski berbuah kontroversi dan menuai banyak penolakan oleh kalangan agama, tetaplah dilakukan.

Sejak proyek Kloning domba Dolly sukses, maka sejak itu pula beberapa negara maju ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa termuat sebagai berita, telah melanjutkan penelitian pengklonaan terhadap mamalia jenis kera, hingga manusia.

Jika sekedar domba atau mamalia yang berkategori hewan, sehewan-hewannya, maka Kloning menjadi uji coba yang berbuah kontroversi tak seberapa. Karena bisa melalui pertimbangan sebagai upaya budidaya kembar identik, atas suatu hewan unggulan, agar sama persis kelanjutan ‘keturunan’-nya.

Proses Pengklonaan Manusia. Sumber: science.howstuffworks.com

Namun, apabila uji coba Kloning terhadap makhluk hidup yang notabene adalah hewan, namun dianugerahkan akal dan pikiran dalam dirinya, maka upaya pengklonaan terhadap manusia adalah awal dari sebuah bencana.

Mengapa?

Karena sudah jelas, kelahiran kembar identik hasil pengklonaan, tanpa melalui proses perkawinan.

Sementara telah jelas pula, bahwa titik awal proses perkawinan adalah saat dimulainya pembuahan sel sperma terhadap sel telur.

Kemudian menjadi zigot yang terlindung dalam rahim seorang ibu. Lalu berkembang menjadi embrio, yang dalam kisaran beberapa hari kemudian, embrio tersebut mendapat tiupan ruh dari Sang Pencipta.

Tepatnya, tak hanya ruh yang ditiupkan kepada sang embrio calon jabang bayi manusia. Namun juga lakon jalan hidup, rejeki, jodoh hingga kematiannya kelak.



Tiada ruh dalam tubuh manusia berarti tiada akal pikiran.

Hidup Tanpa Akal Pikiran

Proses pengklonaan hanya mengandalkan efek kejut sekian milivolt listrik agar inti sel dalam ‘cangkang’ telur yang tak berinti sel itu mulai berkembang.

Berapa ‘milivolt’ atau energi yang dihembuskan oleh-Nya agar embrio memiliki ruh? Itu misteri yang tak bakal pernah mampu dipecahkan oleh manusia. Karena proses peniupan ruh kepada sang calon manusia adalah ranah ilmu, yang menjadi rahasia-Nya.

Artinya, jikalau pun kelak manusia berhasil menerapkan pengklonaan terhadap manusia, sosok kembar identik yang sama persis dengan manusia pendahulunya, maka dapat diyakini bahwa manusia hasil Kloning itu, sama sekali tak punya ruh.

Tiada ruh dalam tubuh manusia, berarti tiada akal pikiran. Tak ada secuil pun gairah untuk menelaah banyak misteri-Nya yang dianugerahkan. Tak ada sedikit pun ilmu pengetahuan yang mampu digali pun diamalkan.

Kloning terhadap manusia hanya bisa menghasilkan manusia tanpa ruh, manusia tanpa pandangan, manusia yang tak mampu berbagi kemuliaan.

Apabila nanti ada Kloning terhadap tokoh kontroversial dalam catatan sejarah yang mendunia, seperti kembaran identik Hitler misalnya. Maka jadinya adalah kembaran identik Hitler yang kerjaannya hanya bengong, ndomblong saja seharian.

Kloning terhadap pesohor seni suara Katty Pery misalnya, ya kembaran identik Ketty Pery yang jika diminta melantunkan lagu Fireworks, bakal melantunkan tembang Cublak-Cublak Suweng.

Fisikawan Albert Einstein hasil Kloning misalnya, ya kembaran identik Einstein yang kalo ditanya makna rumus relativitas E = mc2, maka jawabannya adalah; Enak itu sama dengan makan cemilan-cemilan.

Pada intinya, hasil Kloning terhadap manusia adalah terlahirnya manusia-manusia pekok.



Pengklonaan terhadap manusia adalah senyata-nyatanya perbuatan yang menolak kebenaran tak terbantahkan.

Pabrik Sparepart

Paling mengkhawatirkan adalah, kehadiran manusia-manusia yang bernyawa namun tanpa ruh, yang tak memiliki nurani dalam hatinya, maka mereka bisa disalahgunakan untuk memusuhi kelompok manusia lain, yang memiliki ruh lengkap beserta akal dan pikiran.

Adapun jika dinilai manusia hasil Kloning itu tanpa ruh, lalu dirancang sebagai ‘pabrik suku cadang’ manusia asli, maka apakah kita sebagai manusia yang berhati nurani ini bakal tega melakukannya?

Jadi, penerapan ilmu pengetahuan pengklonaan terhadap manusia, itu lebih banyak mudarat daripada manfaat.

Pengklonaan terhadap manusia adalah senyata-nyatanya perbuatan yang menolak kebenaran tak terbantahkan.

Bukankah jika seisi dunia hanya berisikan manusia kembaran identik yang sama persis jiwa dan raga, justru menafikan anugerah-Nya bahwa kita tercipta berbeda-beda agar saling mengenal dan berbagi kebaikan?

Relakan manusia berkembang biak secara alami, sebagaimana tujuan mereka diciptakan.

Karena setiap anugerah berupa ruh yang ditiupkan, adalah pengakuan terhadap kebenaran yang tak terbantahkan.

Ikhlas mengakui keEsaan-Nya.


Bahan bacaan penginspirasi tulisan;

  1. Bonsor, Kevin and Conger, Cristen, 2012, How Human Cloning Will Work, science.howstuffworks.com
  2. Reily, Gavan, Oct, 12, 2012, Dolly the sheep cloner Keith Campbel dies at 58, thejournal.ie
  3. Marohan, George, Feb. 22, 2019, On this day in 1997: Dolly the sheep became the first cloned mammal, Extra.ie
  4. Schumer, Lizz and Bourque, Katie, Apr. 6, 2020, 40 Rare Photos of Dolly Parton Through the Years, goodhousekeeping.com