“Yang kuliah siapa yang aktif presentasi siapa.”

Itulah sepenggal komentar yang entah bercanda entah mencemooh dari seorang kawan ketika kami kembali ke Indonesia. Ceritanya, tahun 2018 kami sekeluarga berangkat ke luar negeri. Dua tahun kami tinggal di salah satu negara bagian Amerika Serikat dalam rangka tugas belajar suami saya.

Lalu demi melihat aktivitas saya di sosial media, orang bisa saja mengira bahwa saya yang kuliah di luar negeri, bukan suami saya. Dapat saya tangkap kesan seolah ingin menyatakan, “kok kamu pecicilan amat?”

Dalam jangka waktu dua tahun itu banyak sekali pengalaman yang kami dapat. Mulai dari pengalaman standar ala mahasiswa di luar negeri seperti jalan-jalan, bekerja paruh waktu hingga berbelanja Black Friday yang terkenal itu. Namun, saya sendiri memiliki pengalaman pribadi yang bukan sebuah kesengajaan.

Saya memang punya cita-cita sebelum berangkat ke negeri Paman Sam bahwa kesempatan harus saya gunakan dengan sebaik-baiknya untuk menggali hal-hal berharga. Minimal, saya dapat mengikuti kelas gratis di kampus suami saya, ternyata yang saya dapat di kemudian hari membuat saya terhenyak. 

*

Nampaknya gayung bersambut, semesta mendukung. Selama menjadi ibu rumah tangga sembari bekerja paruh waktu, saya mendapat berbagai tawaran menggiurkan. Bukan, bukan tawaran untuk menjadi warga tetap Amerika Serikat. Namun tawaran kecil-kecilan dari grup ibu-ibu internasional di sana untuk melakukan presentasi tentang Indonesia.

Saya dengan sigap menerima tawaran tersebut. Berawal dari rubanah sebuah rumah perkumpulan, presentasi yang (ternyata) cukup menarik itu berlanjut ke ruang kelas kampus suami saya, lalu ke sebuah aula besar di salah satu pusat penelitian dan terakhir bahan presentasi itu berkembang menjadi silabus bahan ajar untuk sebuah kelas. Kelas yang saya ampu selama dua semester itu bernama “Indonesia”. Sebuah kelas di bawah naungan kampus tempat suami saya berkuliah. Adakah bayaran selama saya mengajar? Tentu tidak, karena saya menawarkan diri menjadi sukarelawan.

**

Kembali lagi ke pernyataan di awal yang mengusik saya itu. Ya saat itu saya jawab saja dengan jawaban normatif, bahwa sebagai mahasiswa justru tidak punya waktu untuk melakukan kegiatan ekstrakurikuler. Justru saya yang ibu rumah tangga ini yang punya banyak waktu luang berkegiatan. 

Namun kalau saat ini boleh jujur, mengapa sih saya bersusah payah mengerjakan itu semua padahal tidak menguntungkan secara ekonomis. Kenapa saya ndak seperti sejawat saya yang lain saja, menggunakan kesempatan emas ini untuk mengeruk dolar Amerika sebanyak-banyaknya.

Bekerja penuh waktu, bahkan jika bisa bekerja di dua atau tiga tempat sekaligus. Agar pulang-pulang besok saya bisa membawa sekarung uang untuk menambah aset dan properti di Indonesia, atau minimal membawa pulang barang-barang branded untuk kemudian saya pamerkan di sosial media. Mengapa saya memilih menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sifatnya volunteer itu?

Jawabannya akan membuat saya bak orang nasionalis dan idealis bukan kepalang. Tapi benar, jauh di lubuk hati saya yang paling dalam, saya punya sebuah panggilan. Saya menyadari bahwa keberangkatan kami ke Amerika Serikat yang sepenuhnya dibiayai oleh negara adalah sebuah hutang. Bukan hadiah bukan bonus.

Kami sedang berhutang kepada negara. Mungkin karena latar belakang saya selama ini yang bekerja di instansi pengelola uang negara, sedikit banyak memberikan pemahaman bahwa uang negara ini adalah uang rakyat. Sehingga, walaupun kesannya remeh temeh saja, saya memiliki kewajiban untuk membawa nama baik Indonesia di kancah pergaulan di Amerika Serikat itu. 

Sebuah nilai yang saya yakin dipunyai oleh sebagian besar mahasiswa penerima beasiswa, saya yakin itu. Yang mungkin kadang kurang ditularkan kepada anggota keluarga yang dibawa bersamanya. Atau mungkin ditularkan tapi tak tahu bagaimana mengejawantahkannya.

***

Selanjutnya adalah karena ada kepuasan bagi saya ketika saya bekerja sendiri. Tidak di bawah nama instansi atau organisasi. Selama ini bekerja sebagai ASN, di mana saya berada di urutan paling bawah hirarki kepemimpinan, saya hampir tidak pernah membuat keputusan. Semua yang saya kerjakan adalah untuk mengikuti peraturan di tempat bekerja, mulai dari jam berangkat bekerja bahkan pemilihan busana. Tidak ada kebebasan penuh.

Jadi ketika saya memutuskan untuk cuti dari pekerjaan dan berdiri sebagai diri saya sendiri, saya merasa bebas, saya memiliki otoritas penuh atas waktu saya dan potensi saya. Saya bisa mengatur dan memilih mana yang akan saya kerjakan hari ini atau saya tunda sampai saya punya niat. Saya memimpin diri saya sendiri. Bagi anda mungkin sepele, tapi bagi saya yang saat itu merasa terbelenggu birokrasi, kebebasan itu rasanya seperti menang lotere berjuta rupiah.

Tidak perlu menjadi orang penting atau terkenal dulu kan, agar kita bisa menunjukkan bahwa nun di dalam diri kita tersimpan rasa cinta tanah air.