"Sampai detik ini, belum ada petunjuk atau perkembangan apa pun dari 'Tim pencarian fakta' yang dibentuk oleh pihak Rektorat Universitas Riau, sehingga dapat dikatakan bahwa tim pencarian fakta tersebut memang belum bekerja," papar Rian Sinarani selaku pengacara kasus pelecehan seksual di lingkungan pendidikan yang menimpa seorang mahasiswi berinisial L.

Digadang-gadang tak berguna, "Tim pencarian fakta" cetusan Rektorat Universitas Riau, hingga hari ini diberitakan masih belum menyerahkan laporan perkembangan dalam mengusut kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan UR.

Serat sekali dengan apa yang saya tuangkan melalui tulisan saya sebelumnya, terkait apa yang saya dan barang kali ribuan mahasiswa di luar sana khawatirkan bahwa ; yang berkuasa lah yang akan dimenangkan atau justru menjaga nama baik intansi yang menjadikan mereka bungkam.

BENARKAH ISU PERPOLITIKAN KOTOR YANG MELATAR BELAKANGI SIKAP DIAM INI?

Seolah "Membaca situasi" bahwa hal-hal seperti ini akan terjadi, tampaknya Komahi (Dibaca : Korps Mahasiswa Hubungan Internasional) UR bersama dengan LBH (Dibaca : Lembaga Bantuan Hukum) Pekanbaru, tidak tinggal diam dan mempercayakan sepenuhnya pencarian barang bukti kepada tim pencarian fakta tersebut.

Polda Riau sempat menyampaikan bahwa saat ini, pihak kepolisian telah mengamankan beberapa barang bukti dan saya peribadi turut meyakini bahwa barang bukti di sini merupakan aksi cepat tanggap yang dilakukan oleh Komahi UR bersama dengan LBH. Sama sekali belum ada campur tangan dari tim pencarian fakta.

Selain menyampikan kekecewaannya terhadap Rektorat UR, LBH juga menyampaikan, meski pun dari dalam instansi pendidikan yang bersangkutan masih belum ada perkembangan, namun di luar instansi, berkas-berkas yang semula ditangani oleh Polres, kini telah dilimpahkan kepada Polda.

Bahkan, pihak kepolisian telah mendatangkan 11 orang saksi untuk dimintai keterangan yang terdiri dari SH, L, beberapa orang Dosen, beserta keluarga L. Sedang untuk pihak SH sendiri juga telah dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan Lie detector, dan masih belum dipublikasi bagaimana hasilnya. 

Hanya saja, terduga pelaku SH justru tak lagi berkomentar sepatah kata pun pasca selesainya pemeriksaan yang berlangsung di Polda Riau beberapa hari yang lalu. Bukan hanya pihak Rektorat bersama SH, namun juga beberapa orang Dosen lainnya yang turut hadir saat dimintai keterangan juga sama-sama memilih diam tak berkomentar dengan alasan,

"Kami kan tidak ada saat kejadian itu, tidak melihat atau pun mendengar langsung," dan alasan "Aman" sejenisnya. 

Bertepatan dengan "Hari pelajar sedunia" yang diperingati setiap tanggal 17 November, saya akan menyingkap kasus-kasus "Pelecehan seksual terhadap pelajar" yang terjadi di beberapa Negara dan bagaimana sikap yang diambil oleh pemerintahan Negara yang bersangkutan ;

Yang pertama ada Singapur, Kementrian pendidikan sosial menyampaikan bahwa ada 172 kasus pelecehan seksual yang melibatkan tenaga pengajar dan mahasiswa dalam 5 tahun terakhir. Sehingga, dibentuklah unit-unit perawatan di setiap kampus guna merawat korban baik secara fisik atau pun mental.

Tidak hanya itu, digencarkannya pendidikan khusus mengenai seksualitas berikut skenario-skenario serta bagaimana cara menghindarinya.

Serta tidak lupa memberikan sanksi yang tegas terhadap para pelaku seperti diberhentikannya tenaga pengajar bernama Jeremy Fernando di salah satu instansi pendidikan, dll.

Selanjutnya di Korea Selatan, seorang narapidana yang sudah bebas dari hukuman penjara selama 12 tahun, dimana seorang pelajar Sekolah Dasar lah yang menjadi korban. Para pejabat Negara bergegas membentuk Rancangan Undang-Undang untuk kasus pelecehan seksual berupa penjara seumur hidup.

Selain itu, lebih dari 600.000 orang masyarakat menandatangani petisi dalam situs kepresidenan Biru untuk menolak mantan napi dapat berbaur lagi dengan masyarakat. Serta dibuatnya sebuah larangan mendekati instansi pendidikan dalam radius 1Km.

Jepang, Kementrian pendidikan menyampaikan bahwa pengadilan distrik Osaka telah menghukum seorang Dosen dengan hukuman penjara selama 5 tahun 6 bulan karena telah mencabuli 12 orang pelajar di ruang kelas yang kosong.

Dan Negara terakhir dalam statement ini adalah Hongkong, dimana seorang Guru di Sekolah Dasar ditangkap oleh kepolisian lantaran mengirim pesan-pesan mesra seperti ; I love you, I miss you, kepada siswinya. Pihak Kepala sekolah segera mengambil tindakan berupa pemecatan tenaga pengajar setelah mendapat laporan dari keluarga korban.

**Nb : Keempat contoh di atas, saya rangkum dari situs resmi goverment masing-masing Negara yang menjadi contoh.

Kasus pelecehan seksual terhadap pelajar seolah menjamur dan tidak ada habisnya. Namun kebijakan pemerintah dan elemen-elemen terkait lainnya sangat amat penting dalam menyuarakan kebenaran dan menegakkan keadilan di lingkungan pendidikan yang ada di Indonesia umumnya, dan Universitas Riau khususnya.

Terakhir, selalu dan akan terus selalu saya sampaikan, bahwa tidak akan tercoreng nama baik UR jika berani memutuskan bahwa yang benar itu benar, dan yang salah itu salah!

#BeraniLapor

#SayNoToPelecehanSeksual

#TolakInstansiPendidikanRasaPenangkaranBuaya