Sejak pandemi Covid-19 hadir, anak-anak mulai banyak kehilangan waktu bermain di luar rumah. Pembatasan ini dilakukan untuk menghindari risiko tertular virus. Bahkan proses belajar-mengajar pun mau tak mau harus dilakukan secara daring.

Sedari pagi anak-anak disibukkan dengan tugas belajar yang dikirimkan oleh guru sekolah melalui beragam aplikasi. Bosan dan capai karena belajar di rumah saja tak urung sering menghampiri anak-anak. Jika dibiarkan begitu saja, akan mengganggu kualitas hidup anak-anak yang biasanya penuh keceriaan.

Sebagai orang tua, kita tidak bisa membiarkan anak-anak kita muram, namun alangkah tidak bijaknya jika kita biarkan anak-anak berkeliaran sedangkan di luar virus yang tak kasat mata masih mengintai. Untuk itu, mengamati dan mempelajari alam bersama anak dapat dijadikan kegiatan rekreatif yang menyenangkan tak hanya bagi anak, namun bagi seluruh anggota keluarga.

Sejauh pengamatan saya, belum pernah saya temui anak yang tidak suka bermain dengan pasir, air, tanah, dan dedaunan. Bahkan terkadang hanya sekadar mengejar kupu-kupu dan belalang di dekat rumah pun telah membuat anak lupa waktu dan tertawa-tawa. Bukan hanya bahagia, sehat pun bisa jadi bonusnya.

Namun bagi yang belum terbiasa, mengamati alam adalah pekerjaan yang cukup menantang. Bayangkan saja harus meluangkan waktu untuk mengamati suatu objek dengan lebih saksama alih-alih hanya sepintas lalu. Tentu hal ini memerlukan waktu dan perhatian khusus.

Apa warna daun itu? Bagaimana tekstur daunnya? Bagaimana cuaca saat ini? Apa warna bulu burung yang baru saja terbang? Seperti apa bentuk jejak kaki kucing? Apa warna tanah yang kita injak? Seperti apa tekstur batang? Suara yang terdengar itu dari mana datangnya? Ketika kita mampu berhenti sejenak dan memperhatikan sekitar, niscaya akan banyak pertanyaan yang masuk ke dalam kepala kita.

Kemampuan untuk berhenti sejenak dan memperhatikan secara detail adalah salah satu kemampuan mendasar yang perlu dipupuk sejak kecil. Mengamati alam dapat digunakan sebagai salah satu cara yang digunakan untuk mengasahnya. Saya yakin akan banyak sanggahan dari orang tua seperti: “tapi rumah saya di kota, jadi tidak ada objek alam yang bisa diperhatikan” ataupun sanggahan lain sejenisnya.

Manusia sendiri adalah bagian dari alam. Apa pun di sekitar kita bisa kita jadikan objek pengamatan, misalnya: awan, lumut di tembok, tanaman hias, hewan peliharaan, baik milik sendiri ataupun tetangga, bahkan burung yang melintas di depan rumah.

Alam juga bisa kita hadirkan ke dalam rumah, baik melalui sayuran yang ada di dapur, tanaman hias di halaman rumah, serta buku-buku yang menceritakan tentang alam dan lingkungan.

Selain itu, TV dan internet pun dapat kita manfaatkan untuk mencari berbagai macam hal tentang ala. Akan tetapi, karena anak-anak telah seharian belajar dengan layar, maka sebaiknya TV dan internet hanya digunakan sebagai pelengkap saja.

***

Agar kegiatan pengamatan alam tidak terlupa begitu saja, maka dapat dilakukan pencatatan dalam sebuah buku atau biasa disebut journaling. Karena catatan ini dilakukan pada pengamatan alam, maka disebut sebagai nature journal atau jurnal alam. 

Jurnal alam dapat dibuat sendiri dengan buku kosong yang tersedia di rumah masing-masing. Tidak perlu buku cantik nan mahal. Alat tulis yang dipilih pun sebaiknya yang nyaman digunakan oleh anak.

Dalam jurnal tersebut, anak bisa menuliskan hari dan tanggal pengamatan, apa saja yang diamati, dan seperti apa wujud alam yang diamati, lengkap dengan ciri-cirinya. Anak juga dapat menuliskan tentang berbagai rasa penasarannya, seperti: Mengapa pohon itu besar? Mengapa burung dapat terbang? Mengapa semut selalu dapat menemukan gula?

Jurnal alam dapat digunakan oleh anak beragam usia. Mulai dari anak usia pra TK, anak TK, dan anak usia SD. 

Bagi anak usia pra-TK, jurnal alam akan lebih banyak berisikan gambar, ataupun coretan tulisan yang belum jelas. Lain dengan anak usia TK, tentu sudah lebih mahir menggambarkan dedaunan dan bunga. Sedangan anak usia SD sudah lebih mahir membedakan berbagai macam tumbuhan, belajar sedikit tentang taksonomi bahkan membuat puisi.

Sekalipun jurnal alam dapat melatih kemampuan artistik anak, gambar yang dihasilkan tidak harus cantik selayaknya illustrator, karena yang lebih ditekankan adalah pada kemampuan mengamati. Jangan sampai anak terbebani untuk sempurna dalam menggambar, namun melupakan esensi utama dari pengisian jurnal itu sendiri.

Hal ini juga berlaku bagi anak-anak yang mempunyai kecenderungan perfeksionis ataupun kompetitif, harus selalu diingatkan pentingnya proses pengamatan serta menikmati sisi menyenangkan dari setiap tahapan pengisian jurnal.

Apabila anak merasa terganggu dengan membawa pensil dan buku selama mengamati alam, anak dapat dibekali dengan kamera digital. Selama kegiatan mengamati alam, yang sebaiknya diutamakan adalah kemampuan untuk melihat objek dengan lebih detail serta menikmati mengamati alam sekitar.