Setiap perbuatan baik individu maupun sosial memiliki konsekuensi baik secara positif maupun negatif, gejala yang timbul berupa berbagai macam respon. Kita sebagai individu sekaligus masyarakat dalam sebuah Negara merasakan berbagai macam respon tersebut walau tidak lansung  secara fisik, namun tergantung seberapa besar problem tersebut, bisa jadi berimbas pada pertarungan fisik.

Indonesia di akhir pemerintahan Presiden Sukarno, mengalami sejarah kelam, terbukti akibat kebijakan yang dipandang kontroversial oleh sejumlah kelompok, membuat masyarakat Indonesia terpecah belah sehingga berakibat ribuan manusia harus menjadi korban, korban akan kepentingan para elit politik dan kekuasaan.

Akhir-akhir ini Indonesia dengan Nakhoda Pak Jokowi mengalami banyak problema mulai dari dikotomi pemerintahan antara Eksekutif dan Legislatif, Bencana Alam, intoleransi Agama, hingga ancama terorisme. Seluruh masyarakat tentunya menginginkan Indonesia yang sejahtera dan tanpa ada diskriminasi satu sama lain.

Oleh karenanya masyarakat selalu mengikuti perkembangan informasi mengenai dunia politik, kebijakan pemerintah, serta isu-isu hangat lainnya dari berbagai sumber seperti di media sosial internet, Televisi, Koran maupun obrolan di warung kopi. Hal itu menunjukkan masyarakat mulai sadar bahwa kita hidup di dalam sebuah Negara hukum dengan segala peraturan dan perlindungan.

Problem yang urgen Saat ini adalah Indonesia diserang oleh sejumlah kelompok terorisme ataupun jihadist yang mengatasnamakan Agama. Indonesia dengan mayoritas beragama Islam menjadi ternodai oleh aksi radikal tersebut, akibatnya Islam yang secara kultural menghargai toleransi dan perdamaian menjadi sangat kabur di mata dunia.

Ancaman terorisme adalah ancaman serius saat ini, bukan hanya di Indonesia tetapi juga Negara-negara di belahan dunia lainnya. Aksi-aksi radikal tersebut mengundang masyarakat untuk menjadi sangat sensitif terhadap hal yang berbau terorisme.

Saat ini Pemerintah mengerahkan segala kekuatan berupa strategi upaya mencegah aksi radikal tersebut. Pada umumnya yang menjadi objek adalah tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan asing, tempat perbelanjaan yang berlebel luar negri dan juga tempat peribadatan kaum Kristen yaitu gereja.

Polisi dan Kopasus menjadi barisan terdepan dalam mengatasi aksi terosisme. Terbukti di tahun 2016 terjadi aksi terorisme seperti yang terjadi di Sarinah Jakarta, dan kasus-kasus lainnya, beruntung di akhir tahun 2016 polisi menangkap beberapa aktor terorisme yang hendak melakukan aksi bom bunuh diri.

Berita tersebut langsung menjadi perbincangan hangat dan menjadi trending topik di media Televisi maupun sosial media. Informasi tersebut tentunya tak hanya di akses masyarakat Indonesia saja namun masyarakat dunia juga mendapatkan informasi tersebut.

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang membentang dari barat hingga ujung timur, keberagaman suku, budaya dan keelokan pulau menjadi daya Tarik wisatawan asing untuk berkunjung di Indonesia, baik untuk berlibur, hubungan ekonomi maupun sebuah penelitian. setiap tahun angka wisatawan meningkat.

Destinasi wisata yang masih menjadi favorit wisatawan asing dari berbagai belahan dunia adalah seperti Yogyakarta, Bali dan Lombok, semakin meningkatnya kunjungan wisatawan asing ke indoneisa maka peningkatan APBD maupun APBN juga pastinya meningkat.

Derasnya informasi terkait aksi dan ancaman terorisme baik di televisi maupun media sosial secara tidak langsung berdampak terhadap berbagai sektor yang menjadi perhatian pemerintah, salah satunya adalah sektor Pariwisata. Pariwisata menjanjikan banyak manfaat terhadap masyarakat maupun pemerintah, di samping Indonesia dikenal oleh masyarakat dunia tentunya juga kesejahteraan ekonomi akan dirasakan bagi masyarakat setempat.

Segala persoalan yang terjadi seperti aksi terosisme, membuat tempat-tempat wisata menjadi sensitif untuk dikunjungi, seperti Bali misalnya yang pernah mengalami kejadian aksi terosisme di tahun 2002 dan 2005 dimana kebanyakan wisatawan asing yang menjadi korban manjadi sangat sensitif terhadap isu-isu radikalisme oleh sejumlah kelompok jihadist itu. konsekuensinya adalah wisatawan asing menjadi ragu dan enggan untuk berkunjung ke Indonesia.

Jika ini terus terjadi maka tidak menutup kemungkinan lambat laun Indonesia akan mengalami krisis ekonomi. Karena di beberapa Masyarakat tertentu yang memilki potensi wisata, akan kehilangan barometer ekonomi mereka, dimana jasa pariwisata adalah mata pencaharian mereka. Hal ini yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah sebagai pemegang wewenang atas kebijakan-kebijakan dan juga media yang menjadi pusat penyampaian segala informasi.

Lalu bagaimana seharusnya sikap pemerintah dalam menanggapi persoalan ancaman terorisme? Tentunya pertanyaan itu memilki banyak jawaban berdasarkan beribu alasan, namun yang pasti pemerintah harus mengambil sikap yang tegas terhadap persoalan aksi terorisme.

Menurut hemat penulis, pencegahan aksi terorisme sangan penting dilakukan oleh pemerintah, namun pemerintah juga harus melihat sebuah sisi yang mungkin akan berimbas pada kesenjangan ekonomi masyarakat, KPI dan Kominfo selaku lembaga pemerintah yang berwenang dalam menfilter segala penyiaran televisi dan media sosial agar mengambil kebijakan yang tidak saling merugikan.

Untuk itu pihak penyampai informasi seperti media televisi dan juga media sosial agar tidak terlalu berlebihan dalam memberikan informasi terkait terorisme, jika media terlalu berlebihan dalam menyampaikan berita terkait aksi terorisme, maka stereotip masyarakat dunia akan memandang Indonesia sebagai lumbung gerakan radikal seperti terorisme.

Dari segala persoalan seperti terorisme kita melihat bagaimana masalah bisa diatasi tanpa ada sebuah dilema, Dan di tahun 2017 ini dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, pemerintah harus dapat mengambil sikap yang akuntabel dan tidak saling merugikan satu sama lain.