Tulisan ini pada awalnya diajukan sebagai draft untuk arah perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Adab yang telah menyelenggarakan Rapat Anggota Komisariat (RAK) ke-52 tanggal 21-22 April 2018. 

Demi memberikan pedoman umum atau pegangan agar mampu berproses lebih baik bagi para pengurus periode selanjutnya, maka disusun draft arah perjuangan ini. Draft ini, tidak lain merupakan refleksi kegelisahan dan keresahan penulis sebagai Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Komisariat melihat situasi dan kondisi terkini.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Adab telah berdiri sejak tahun 1962. Selama kurang lebih 55 tahun, HMI Komisariat Adab telah memberikan berbagai signifikansi, baik bagi internal kampus maupun eksternal masyarakat atau bahkan kebangsaan dan keumatan. 

Akan tetapi, melihat situasi dan kondisi yang tentu berbeda dengan berbagai konteks masa lampau, HMI Komisariat Adab dituntut untuk dapat menyesuaikan diri, terutama dalam menghadapi persoalan internal kampus, seperti kebijakan pejabat kampus, intelektualitas, keterampilan dan sikap kader serta persoalan eksternal semacam hoax, isu-isu sosial, ekonomi dan politik.

Melihat beberapa persoalan yang dapat dianggap sebagai persoalan penting untuk dipecahkan, maka dibutuhkan sebuah pandangan utuh untuk mewujudkan fungsi (Pasal 8 AD) dan peran (Pasal 9 AD) HMI. 

Ditambah lagi, stigma yang muncul bahwa organisasi mahasiswa saat ini, termasuk HMI, tengah dalam situasi dan kondisi yang tampak kehilangan daya pikir dan nalar kritis. 

Untuk itu, sebagai sebuah pertimbangan agar, khususnya HMI Komisariat Adab, dapat lebih berfungsi dan berperan, dirumuskan arah perjuangan HMI Komisariat Adab 2018-2019 dengan tema Rekonstruksi Peradaban, yang dapat diturunkan menjadi tiga poin sebagai penyangga tema besar tersebut, yaitu kontinuitas intelektualisme, pengembangan keterampilan dan pengubahan sikap.

Kontinuitas intelektualisme dimaksudkan untuk mempertahankan dan meneruskan lingkungan keilmuan yang sudah tampak berjalan dengan diskusi-diskusi, baik diskusi tematik, diskusi tentang isu-isu terkini maupun diskusi pembelajaran bahasa asing. 

Melalui kehidupan intelektual yang kontinu diharapkan setiap kader tidak hanya memiliki ilmu dan pengetahuan untuk diri sendiri, namun dapat diamalkan, dibagikan, sehingga ketika dihadapkan dengan berbagai persoalan para kader mampu menguraikan dan membuat sebuah keputusan atau pendapat yang bernas.

Setelah kontinuitas ini berjalan, pembentukan suatu kelompok yang disebut oleh Ali Syariati dengan kaum intelektual atau rausyanfikr menjadi sebuah keniscayaan. Secara sederhana, rausyanfikr diartikan sebagai pemikir yang tercerahkan. 

Makna istilah ini menurut Ali Syariati adalah bukan seseorang atau sekelompok orang yang hanya memahami sejarah bangsa dan sanggup melahirkan gagasan-gagasan analitis-normatif, tetapi juga menguasai ajaran Islam. Penulis kira, konsepsi Ali Syariati ini menemukan korelasinya dengan HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam.

Poin kedua mengenai pengembangan keterampilan merupakan sebuah ikhtiar untuk memajukan para kader di bidang non-akademis. 

Berbekal dengan latar belakang ilmu adab (sastra/literature, belles-lettres), keterampilan dalam bidang seni, seperti musik, tari dan sastra maupun kreativitas lainnya, seperti kemampuan pengoperasian aplikasi-aplikasi komputer dan kerajinan tangan menemukan korelasinya. Dengan begitu, melalui pengembangan keterampilan akan menguatkan citra kader sebagai insan pencipta.

Seiring perkembangan zaman, tidak dapat dipungkiri bahwa keterampilan dan kreativitas mesti pula berkembang. Hal ini untuk mengantisipasi, terutama lahan berkarya seorang kader nanti setelah dianggap selesai berproses di HMI. 

Selain itu, keterampilan dan kreativitas yang melandaskan pada pengembangan kesenian, kerajinan dan teknologi tidak sampai melupakan tiga poin yang sering diutarakan Kuntowijoyo, yaitu humanisasi, liberasi dan transendensi.

Sementara pengubahan sikap merupakan aspek yang tidak kalah penting. Attitude atau sikap yang dimaksudkan di sini adalah bisa berarti sikap berupa moral atau etika, bisa juga sikap terhadap suatu persoalan. 

Untuk yang pertama terkait moral dan etika, titik tekannya adalah pada diri setiap kader agar mampu memperlihatkan nafas Islam sejak dalam perbuatan, perkataan dan pikiran. Hal yang kedua, misalnya dalam sikap terbuka terhadap perpolitikan, baik di kampus maupun di luar kampus. 

Dalam artian, pengubahan sikap ini bisa dilandaskan pada sikap integrasi bebas aktif, sehingga mampu memunculkan koneksi antar organisasi mahasiswa, baik internal maupun eksternal. 

Selain itu, melalui integrasi bebas aktif, diharapkan para kader mampu membaca lebih dalam dan kritis mengenai isu-isu terkini dan faktual yang mengelilingi kebijakan-kebijakan pemerintah, baik daerah maupun nasional.

Ketiga poin yang telah dijabarkan adalah pedoman yang bagi saya harus dipegang kuat agar tujuan utama, rekonstruksi peradaban dapat terealisasi. Peradaban di sini, tidak dimaksudkan pada sesuatu yang terkesan begitu besar, seperti yang seringkali dipahami. 

Akan tetapi, peradaban di sini, sebagaimana diungkapkan Samuel Huntington dalam satu konsepsinya tentang peradaban, adalah suatu proses tertentu dari kebiasaan-kebiasaan dan struktur-struktur tertentu pula sebagai hasil karya dari sekelompok orang. 

Kebiasaan melanggengkan kehidupan intelektual, pengembangan keterampilan dan pengubahan sikap diharapkan mampu menjadi sebuah peradaban tersendiri, khususnya bagi HMI Komisariat Adab, dan umumnya bagi seluruh organisasi mahasiswa. 

Dengan demikian, ketika HMI mampu mendidik pemuda dalam tradisi dan keterampilan masyarakat, melancarkan dan membimbing estetika dan keagamaan dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat, hal ini akan berjalan beriringan dengan status (7 AD), fungsi (8 AD) dan peran (9 AD) HMI itu sendiri, sehingga dalam setiap diri kader dapat terwujud sosok manusia paripurna (insan cita) yang memiliki keseimbangan hidup antara duniawi dan ukhrawi, individu dan sosial serta iman, ilmu dan amal. Semoga!!