Selama beberapa pekan terakhir terjadi pergolakan di tanah Papua. Berawal dari ujaran yang dianggap hoax. Lagi-lagi akibat hoax.

Sudah sepantasnya kita lebih waspada dan berhati-hati dalam berujar. Apalagi kita tidak tahu pasti bagaimana duduk perkaranya. 

Kasus hoax yang diakui sendiri oleh Ratna Sarumpaet menjadi pembelajaran berharga bagi kita. Bahwa hoax bisa dilakukan dalam keadaan sadar. Bahkan direncanakan serapi mungkin demi tercapainya tujuan yang dimaksud.

Terbukti, hoax mampu memecah belah masyarakat yang tadinya bersuasana damai dan sejuk, seketika berubah menjadi panas.

Dalam hal Papua, menurut saya, kita tidak bisa menyelesaikannya dengan menunjuk jari siapa yang harus dipersalahkan. Mungkin bisa dibenarkan langkah yang diambil kepolisian dengan menahan Tri Susanti dan SA. Sebab pihak kepolisian menilai berawal dari merekalah situasi ini tercipta.

Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko kepada KOMPAS menyebut adanya tokoh separatis Papua, Benny Wenda, sebagai dalang kerusuhan di Papua dan Papua Barat. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto pun menyebut bahwa pemerintah sudah mengetahui pihak yang menunggangi peristiwa kerusuhan di Papua dan Papua Barat.

Seperti api dalam sekam, kondisi ini menjalar makin luas. Belum diketahui juga apakah pihak yang menunggangi peristiwa di Papua ini ada kaitannya dengan hoax dan pengepungan mahasiswa Papua di Surabaya.

Tetapi, di lain kesempatan, Benny Wenda sendiri memberikan clue supaya pendekatan pemerintah dalam menangani masalah di Papua meniru pendekatan yang pernah dilakukan oleh Presiden keempat RI, Gus Dur (Abdurrahman Wahid). 

Tepat dua bulan sepuluh hari setelah dilantik sebagai presiden, Gus Dur berkunjung ke Papua yang dulu masih bernama Irian Jaya. Dialog di sana menghasilkan keputusan Gus Dur untuk mengganti nama Provinsi Irian Jaya menjadi Papua.

Gus Dur pun mengizinkan bendera Bintang Kejora berkibar di sana dengan syarat tidak boleh lebih tinggi dari bendera Merah Putih dan bendera Bintang Kejora dianggap lambang budaya Papua.

Menurut saya, apa yang disampaikan oleh Benny Wenda merupakan kunci dari teka-teki penanganan kondisi di Papua. Wakil Presiden RI terpilih Ma’ruf Amin pun mengamini pendekatan budaya sebagaimana yang dilakukan Gus Dur perlu diterapkan kembali.

Kondisi Indonesia yang memiliki wilayah yang luas dan banyak pulau, berpenduduk kurang lebih 250 juta, terdapat kurang lebih 300 suku bangsa, dan menggunakan kurang lebih 700 bahasa daerah, merupakan tantangan yang sangat besar. Maka, diplomasi dalam negeri pun menjadi sangat diperlukan.

Pengalaman lepasnya Timor Leste dari Indonesia pada tahun 1999 harus menjadi pembelajaran. Pendekatan yang tidak baik tidak akan menyelesaikan masalah dengan baik. Justru meningakibatkan masalah baru.

Dalam kondisi seperti ini, Indonesia memerlukan Cure yang mujarab menyembuhkan luka hati warga Papua. Memang yang harus paling berperan adalah pemimpin negara tertinggi di Republik ini. Seperti juga yang dilakukan oleh Mantan Perdana Menteri Inggris David Cameron.

Pidatonya dalam menghadapi referendum Skotlandia, ia mengatakan:

If you don’t like me – I won’t be here forever. If you don’t like this government – it won’t last forever. But if you leave the U.K – that will be forever.”

“Yes, the different parts of the UK don’t always see eye-to-eye.

Yes, we need change – and we will deliver it but to get that change, to get a brighter future, we don’t need to tear our country apart”

Pidato David Cameron menyentuh hati warga Skotlandia sehingga Skotlandia pada akhirnya tetap berada di Britania Raya. David Cameron memberi kesan bahwa dirinya dan pemerintahannya tidak akan bertahan selama-lamanya. Mereka akan berganti dan akan berhenti.

Tetapi Britania Raya, kerajaan atau negara yang menyimpan sejarah panjang akan tetap ada. Maka, cinta terhadap negara tidak boleh terhalang hanya karena pemerintah yang tidak disukai.

Ini hanya salah satu contoh yang dilakukan negara lain. Gus Dur juga menjadi contoh yang pernah dilakukan sebagai tampuk tertinggi pemerintah. 

Selama kepemimpinannya, Gus Dur memang dikenal nyeleneh, namun mampu menampung aspirasi kaum minoritas. Tidak seperti kebanyakan pemimpin yang hanya mendengar aspirasi mayoritas yang berujung konflik dan perpecahan. 

Sebagaimana kita ketahui, Gus Dur pun pada akhirnya dilengserkan karena kondisi politik saat itu seperti yang diakui oleh Luhut Binsar Panjaitan Menteri di Era Gus Dur. Risiko pun ia hadapi.

Walaupun banyak pihak yang kontra dengan kebijakan Gus Dur, namun terbukti keutuhan bangsa pada era Gus Dur dapat terjaga dengan baik. Itulah cure yang wajib selalu kita racik.

Sepertinya, banyak sekali kata-kata bijak dari seorang Bung Karno yang jelas kita rasakan sekarang. Beliau pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.”

Kalimat-kalimat itu rasanya benar adanya. Kini kita ribut karena ujaran kebencian sebangsa sendiri. Baiknya kita bersatu dan tak gaduh. Lebih baiknya lagi kita saling memeluk saudara apa pun ras, suku bangsa, dan agama. Siapa pun kita, asal Indonesia: kita bersaudara.  

Referensi: