Larasati merupakan salah satu dari sekian banyak karya sastra bergenre roman yang menggunakan perempuan sebagai aktor utama dalam alur ceritanya. Karya sastra ini ditulis oleh seorang penulis terkenal, Pramoedya Ananta Toer, sekaligus penerima penghargaan nobel Internasional untuk karya-karya yang telah berhasil menarik perhatian di kalangan penikmat sastra di seluruh dunia.

Buku ini diterbitkan pertama kali sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Bintang Timur/lampiran budaya LENTERA pada 02 April 1960 s/d 17 Mei 1960. Kemudian sampai pada cetakan ke-5 tepat pada bulan Februari 2010 melalui penerbit LENTERA DIPANTARA, Jakarta Timur, dan sudah diterjemahkan lebih dari 41 bahasa.

Pramoedya bermaksud menjadikan roman ini sebagai sebuah cermin kehidupan bagi para pembaca bagaimana seorang perempuan sebenarnya juga memiliki peranan penting bagi bangsa, sebuah ruang publik yang selama ini hanya direpresentasikan sebagai dunianya laki-laki.

Roman ini mengisahkan tentang latar cerita sebuah revolusi, akibat gentingnya pendudukan para penjajah NICA yang ingin menguasai wilayah Indonesia. Namun Pramoedya tidak menampilkan tokoh laki-laki sebagai aktor utama dalam roman revolusi ini, yang biasanya identik dengan peperangan, penyiksaan, dan bentuk kekerasan pada zaman penjajahan.

Tetapi justru tokoh utamanya yaitu seorang perempuan bernama Larasati yang memiliki jiwa revolusioner yang tinggi dan tekad kuat untuk memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya melalui caranya sendiri pada masa revolusi yaitu melalui seni dan ideologi.

Roman Pramoedya berjudul Larasati tersebut menurut saya menarik untuk dikaji melalui kacamata teori Feminis Radikal. Terutama karena tokoh Larasati yang ada dalam roman tersebut lebih banyak ditampilkan sebagai tokoh perempuan yang mengalami opresi atau ketertindasan akibat sistem seks atau gender.

Sistem patriarki yang hidup di tengah-tengah masyarakat utamanya pada masa penjajahan tersebut menjadikan tokoh Larasati harus mengalami beragam tekanan-tekanan dalam dirinya akibat perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan pendapat Echols yang dikutip dalam buku Feminist Thought, bahwa perbedaan seks atau gender mengalir bukan semata-mata (jika memang demikian) dari biologis, melainkan juga dari “sosialisasi” atau dari “sejarah” keseluruhan menjadi perempuan di dalam masyarakat.

Masyarakat patriarkat menggunakan fakta tertentu mengenai fisiologis perempuan dan laki-laki (hormon, kromosom, anatomi) sebagai dasar untuk membangun serangkaian identitas dan perilaku maskulin dan feminin yang berfungsi untuk memberdayakan laki-laki dan akhirnya justru melemahkan perempuan.

Seperti kutipan dari roman Larasati pada halaman 32:

“Larasati menahan amarahnya. Kalau aku lelaki aku bakar seluruh perkampungan artileri ini. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia menyesali kelahirannya sendiri sebagai wanita. Kalau aku lelaki aku bisa berbuat banyak. Daerah ini bisa kalah berkali-kali.”

Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap perempuan didasarkan pada sistem patriarkat yang didapat melalui sosialisasi yang terus menerus ditanamkan. Seluruh masyarakat menganggap perbedaan laki-laki dan perempuan atas dasar biologis merupakan hal yang alamiah dan wajar. Bahkan menjelma dalam setiap pranata dan institusi dan diinternalisasi oleh individu itu sendiri.

Dalam sosialisasi gender pada masyarakat patriarkat, laki-laki diharapkan mampu menampilkan sosok maskulinnya dengan menjelma menjadi laki-laki yang identik dengan ketegasan, rasionalitas, pemberani, keras, berkuasa, dan sifat-sifat maskulin lainnya.

Sementara untuk perempuan diharapkan mampu menampilkan sosok femininnya dengan menjelma menjadi perempuan yang biasanya diidentikkan dengan kelembutan, penuh kasih sayang, penurut, anggun, lemah gemulai, kecantikan, dan sifat-sifat feminin lainnya.

Seperti halnya dalam kutipan roman Larasati halaman 32 di atas, sebagai seorang perempuan Larasati merasa marah karena tidak mampu melakukan tindakan perlawanan seperti yang dilakukan oleh laki-laki. Sebagai seorang perempuan dia merasa lemah, tidak berdaya, dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan dan melakukan pemberontakan. Bahkan cenderung untuk menyalahkan takdir karena dia terlahir sebagai perempuan.

Seandainya dia menjadi laki-laki pasti dia mampu melakukan perlawanan, dapat memberontak dan ikut berperang habis-habisan melawan penjajah. Sehingga dari kutipan tersebut terdapat representasi masyarakat bahwa perempuan itu lemah dan laki-laki itu kuat, sehingga karena Larasati adalah seorang perempuan maka dia tidak mampu berbuat banyak.

Selain itu menurut Millet yang dikutip dalam buku Feminist Thought, intimidasi juga ada di mana-mana di dalam budaya patriarkat. Jika seorang perempuan ingin bertahan di dalam patriarki, dia harus bertindak “feminin”, sehingga apabila perempuan tidak mampu menampilkan sisi femininnya maka akan tersubjektivikasi terhadap berbagai bentuk kekejaman dan bentuk-bentuk intimidasi lainnya.

Sehingga opresi perempuan terkubur dalam sistem seks atau gender yang disertakan dalam konsep patriarki dikalangan masyarakat. Dalam sebuah kutipan halaman 12:

“Aku tidak seperti perempuan-perempuan lain, aku tidak pernah beranak.”

Serta pada kutipan halaman 115:

“Kau tak boleh macam-macam yang sudah-sudah. Jadilah wanita biasa seperti ibumu sendiri dulu, punya suami yang benar, punya anak yang benar.”

Konsep patriarki dalam lingkungan masyarakat menekankan bahwa perempuan dapat dianggap sebagai perempuan seutuhnya ketika dapat menjalankan fungsi reproduksinya dengan baik, misalnya memiliki anak. Sehingga melahirkan atau memiliki anak sudah merupakan tugas mutlak seorang perempuan, dan tidak dibenarkan apabila seorang perempuan keluar dari hakikatnya sebagai seorang perempuan.

Seperti Larasati yang merasa berbeda dari perempuan-perempuan lainnya karena dia tidak memiliki anak sedangkan perempuan lain mampu memiliki anak. Kemudian ibu Larasati juga menegaskan sebagai seorang perempuan sudah selayaknya Larasati bertindak layaknya seorang perempuan, tidak perlu macam-macam, cukup dengan menikah, mengurus suami, dan memiliki anak.

Sangat cocok jika dikaitkan dengan konsep Mothering, bahwa “kesalahan” terbesar bagi perempuan adalah ketika tidak mampu memiliki anak. Konsep patriarki dalam masyarakat juga menekankan bahwa representasi perempuan yang cantik adalah perempuan yang anggun, molek, langsing, putih, memiliki buah dada seksi, dan menarik secara seksual.

Apabila perempuan memiliki kecantikan seperti yang direpresentasikan tersebut maka dia akan terhindar dari subjektivikasi dan intimidasi patriarki, sementara jika seorang perempuan tidak memiliki hal tersebut maka dia akan mengalami opresi.

Seperti pada kutipan roman Larasati halaman 67:

“Kalau aku tak memiliki tubuh indah dan wajah cantik mungkin aku akan jadi sebagian dari mereka yang dibunuh pelan-pelan dalam penjara itu.”

Atau pada kutipan halaman 52:

“Dan Ara, nona Maria Magdalena Sentono sendiri tumbuh kurus. Sebagai perawan yang mendekati usia dua puluh tiga dia tidak menarik sama sekali. Dia tumbuh lampai, tanpa dada sedikit pun.”

Di sini sangatlah jelas bahwa representasi cantik menurut laki-laki adalah perempuan yang tidak kurus, bertubuh indah, dan memiliki dada yang tidak rata. Sehingga apabila hal yang ada dalam dirinya tidak sesuai dengan apa yang direpresentasikan cantik oleh masyarakat maka perempuan mengalami opresi, keterasingan, dan subjektivikasi.

Sementara perempuan yang termasuk dalam kategori cantik sesuai dengan representasi laki-laki akan terhindar dari opresi, seperti Larasati, karena dia memiliki tubuh yang indah dan cantik maka dia terhindar dari siksaan para kaum penjajah dan tidak dibunuh seperti layaknya perempuan-perempuan lain di dalam penjara kaum penjajah.

Pernyataan Stanton dalam buku Feminist Thought, juga menegaskan bahwa perempuan memang diciptakan sebagai mahkluk inferior, dan tunduk pada laki-laki.

Sehingga berdasarkan pada kasus superioritas laki-laki atas perempuan tersebut maka muncullah upaya-upaya perlawanan dari perempuan yang mengalami opresi. Kendali laki-laki di dunia publik dan privat menimbulkan patriarki, sehingga penguasaan atas laki-laki harus dihapuskan jika perempuan ingin mendapat.

Cara bagi perempuan untuk menghancurkan kekuasaan laki-laki (power over) adalah dengan menyadari bahwa perempuan harus menjadi aktif dan tidak lagi pasif terhadap kekuasaan laki-laki serta mampu mengombinasikan sifat-sifat maskulin dan feminin dalam kepribadian mereka secara bersama-sama. Karena selama perempuan masih terikat dengan fakta biologis maka antara laki-laki dan perempuan tidak akan pernah setara.

Dalam roman Larasati, seorang perempuan berusaha untuk mendapatkan kebebasan dan meraih kemerdekaan melalui perjuangan revolusi tidak harus dengan angkat senjata dimedan perang, seperti layaknya laki-laki. Seperti dimunculkan dalam beberapa kutipan berikut.

Kutipan roman Larasati pada halaman 9:

“Tapi ia berjanji dalam hatinya, tidak bakal aku main untuk propaganda Belanda, untuk maksud-maksud yang memusuhi Revolusi. Aku akan main film yang ikut menggempur penjajahan.”

Atau kutipan Larasati halaman 47:

“Kau tidak seperti dulu, Ara.”

“Tentu saja tidak. Apa gunanya Revolusi kalau tidak bisa mengubah aku?”

“Kau bakal mati kelaparan.”

“Tidak, selama Revolusi menggelora.”

“Kau mata-mata Republik.”

“Setidak-tidaknya bukan anjing orang asing.”

Berdasarkan pada kutipan tersebut maka dapat dipahami bahwa untuk mencapai suatu kemerdekaan dan terbebas dari opresi atau ketertindasan, perempuan harus memberontak, harus aktif melawan ideologi dan hegemoni patriarki.

Larasati menggambarkan sosok perempuan pemberontak hegemoni patriarki dengan berperan sebagai perempuan merdeka, pemberani, sumber daya manusia yang berpotensi, serta tidak gentar melawan para penjajah meskipun dia seorang perempuan.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Daly yang dikutip dalam buku Feminist Thought bahwa untuk menjadi utuh, seorang perempuan perlu melepaskan identitas semunya (feminitas) yang telah dikonstruksikan oleh kebudayaan patriarki. Hanya dengan demikian, maka perempuan dapat menjadi Diri seutuhnya.

Mendekonstruksi dominasi ideologi patriarki terhadap perempuan dan mengunggulkan ideologi feminis untuk mencapai kemerdekaan. Negara Indonesia telah merdeka, dan kemerdekaan seutuhnya Indonesia juga merupakan kemerdekaan untuk jiwa Larasati, sang perempuan pejuang yang berjuang melalui caranya sendiri.