2 tahun lalu · 328 view · 6 menit baca · Cerpen the-king-of-the-crows-804144_960_720.jpg
"Ia telah berubah menjadi seekor gagak hitam."

Reinkarnasi Kafka

Kafka Citrapata, seorang pemberi kabar kematian yang tugasnya berkeliling ke seluruh kampung dan memberitahu para penduduk tentang kematian seseorang, baru saja meninggal enam hari yang lalu karena sebuah kecelakaan tragis yang ia alami selagi menjalankan tugasnya.

Kini, Kafka merasakan dirinya seperti berada di dalam palung yang berada di lautan terluas; dingin dan gelap. Perlahan namun pasti, ia bisa merasakan tubuhnya semakin tenggelam menuju kegelapan yang lebih temaram. Mungkin, beginilah rasa kematian; jatuh ke kegelapan tanpa rasa sakit. Berada diantara baqa dan fana. Dalam temaram itu ia lihat beberapa wujud yang ada dalam ingatannya. Namun semua itu muncul dalam bentuk yang begitu tidak nyata dan surealis, membuat Kafka yang sedang tenggelam itu merasakan sepi.

Tak lama kemudian, Kafka berhenti tenggelam dalam kegelapan. Lalu ia merasa diguncang. Perlahan, namun semakin lama semakin kencang, seolah-olah ia berada di dalam suatu karung yang gelap dan seseorang sedang membawanya. Setelah beberapa saat, seseorang itu akhirnya mengeluarkannya dari kegelapan itu. Betapa terkejutnya Kafka ketika ia melihat apa yang ada di depan matanya.

Ia merasa begitu kecil, dan di hadapannya adalah ayahnya yang berdiri begitu tinggi. Tangan kirinya memegang sebuah karung goni, dan tangan kanannya menggenggam erat sebuah golok besar. Di punggungnya disandang seikat kayu bakar, lalu ia turunkan kayu bakar itu tepat di sebelah kiri Kafka. Kafka berusaha melihat sekeliling, dan dirinya kembali dikejutkan oleh apa yang ia lihat. Di sebelah kirinya, tepatnya di sebelah kayu bakar itu, adalah makamnya sendiri.

Ayahnya lalu memegang tubuhnya dengan kencang, membuat ia merasa sesak nafas. Dan dalam kecepatan yang tidak bisa ia duga, tangan kanan ayahnya sudah memotong-motong dirinya menjadi beberapa bagian kecil. Rasa sakit yang ia rasakan begitu jelas, membuatnya ingin teriak namun tidak bisa.

Ketika masih ia rasakan kesadaran ada padanya, bola matanya berusaha bergerak memeriksa tubuhnya. Ia sadari bahwa satu-satunya bagian utuh yang ditinggalkan oleh ayahnya hanya kepalanya. Lalu dengan matanya, ia berusaha melirik untuk melihat apa yang sedang dilakukan ayahnya.

Ayahnya menyiapkan api unggun, lalu setelah api siap, ia melempar potongan-potongan tubuhnya ke api yang tengah membara. Kafka merasa ngeri. Dengan mata kepala dan kesadarannya sendiri, ia lihat tubuhnya terbakar. Asap mengepul. Lalu entah darimana asalnya, sesosok manusia muncul dibalik kepulan asap itu. Kengerian Kafka semakin menjadi ketika melihat bahwa sosok rusak itu adalah dirinya sendiri. Tiba-tiba, semua menjadi gelap gulita.

Kafka lalu terbangun. Hari sudah pagi ketika itu. Ia lihat dirinya berada di tepi sungai yang ia ingat sebagai tempat dirinya meninggal. Seakan ia baru bangun dari sebuah mimpi buruk, ia mengerjap dan merasakan keanehan pada dirinya. Berusaha ia lihat pantulan dirinya di permukaan sungai. Betapa terkejutnya dia setelah melihat apa yang telah terjadi padanya.

Ia telah berubah menjadi seekor gagak hitam.

Kafka tertatih. Perlahan ia coba gerakkan sayapnya. Tentu saja, ia tidak tahu cara terbang. Masih ia berpikir dan merasa bahwa dua alat gerak yang terpasang di tubuh bagian atasnya itu adalah sepasang lengan manusia, bukan sayap gagak yang hitam seperti malam. Ia periksa tubuhnya dengan teliti. Sebagai seekor gagak, ia tidak ada cacat celanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia adalah seorang Kafka Citrapata yang sudah mengalami kecelakaan tragis di sungai tersebut. Maka dengan masih diwarnai kebingungan, ia tetap berjalan.

Selagi ia berjalan, seekor elang ia lihat sedang memangsa seekor musang yang ukurannya hanya separuh dari ukuran tubuhnya. Sambil melihat elang itu dengan gesitnya menyobek daging musang itu dengan paruhnya, Kafka tetap berjalan. Tiba-tiba, elang itu memanggilnya.

            “Kamu burung, kok malah berjalan? Apa tidak bisa terbang?”

            “Ma-maaf. Saya… baru sehari menjadi burung.”

            “Hah? Maksudmu apa?”

Kafka kebingungan. Bahkan untuk dirinya berbicara kepada seekor elang dan dikenali sebagai burung saja sudah membuatnya merasa begitu aneh. Namun apa daya, toh semua sudah terjadi. Tanpa malu, ia kisahkan pengalaman dan mimpinya kepada sang elang. Yang membuatnya terkejut, sang burung pemangsa mengangguk-angguk seakan mengerti dan memakan mangsanya terlebih dahulu sebelum akhirnya berbicara kepadanya.

            “Oh itu. Kamu baru saja direinkarnasi,” ujar sang elang santai.

            “Hah? Apa itu?” tanya Kafka bingung.

            “Kalau seorang manusia meninggal ketika sedang menjalankan tugasnya dan tugas itu belum selesai, maka ia akan dilahirkan kembali dalam bentuk yang baru. Biasanya dalam bentuk manusia lagi. Tapi tidak tahu ya, tergantung dosa-dosamu juga. Tapi bisa juga karena kamu dikutuk orang.”

            “Anda tahu itu darimana?”

            “Saya hasil reinkarnasi juga. Dulunya saya bupati. Saya meninggal sebelum berhasil menyelesaikan impian saya, yaitu memberantas korupsi. Tapi ya saya tidak tahu kenapa saya malah dilahirkan kembali jadi elang, bukan dalam diri orang lain dan tumbuh sebagai pemimpin. Dikutuk para koruptor, kali. Tapi yah, walau jadi elang, saya tetap bisa membasmi hama. Nih, saya baru basmi musang yang suka makan ayam-ayam orang kampung. Nanti kalau saya sudah habiskan semua hama, baru saya bisa tenang.”

            “Terus, mimpi saya, apa artinya?”

            “Kalau tidak salah, sebelum akhirnya jadi elang, saya seakan mimpi kalau saya kerjanya makan tikus dan hama lain. Mungkin, itu semacam ramalan tentang apa yang akan kita lalui sebagai hasil reinkarnasi.”

Kafka terperanjat. Jika ia ingat-ingat lagi, sememangnya sesuai jika ia hubung-hubungkan antara mimpinya dan kenyataan bahwa ia kini seekor gagak. Ayahnya adalah seorang dukun terkenal. Ia ingat ayahnya bercerita bahwa jika seseorang membakar daging gagak di dekat kuburan, maka arwah yang ada di kuburan tersebut akan bangkit. Kafka gemetaran, ingin ia terbang melesat ke angkasa, namun tidak bisa. Maka ia kembali berjalan terseok.

            “Hei, mau kemana?” tanya sang elang.

            “Lari. Lari jauh-jauh!” jawab Kafka.

            “Tapi kamu harus menyelesaikan tugasmu dulu! Katanya, kamu pemberi kabar kematian. Maka sebagai gagak, kamu harus memberitahu kematian orang-orang. Hanya setelah itu, kamu bisa tenang!”

Kafka tidak memedulikan itu. Ia terus berjalan dan berjalan. Ia sudah memutuskan untuk bersembunyi dari manusia. Semakin dekat ia dengan manusia, semakin besar kemungkinannya untuk bertemu dengan ayahnya. Pasalnya, ayahnya adalah seseorang yang begitu tinggi ilmunya. Ia bisa berada dimana saja yang ia inginkan. Bahkan dengan dirinya menjauh dari manusia pun, ayahnya bisa saja tiba-tiba muncul di belakangnya. Namun Kafka tetap ingin berlari dari takdirnya yang mengerikan itu.

Enam hari sudah lamanya Kafka menjauh dari kampungnya. Dalam rentang waktu itu, ia coba untuk belajar terbang. Kini, ia sudah bisa terbang dan menerkam hewan-hewan kecil. Maka begitulah ia menjalani hidupnya. Dalam hutan, berada dalam kesunyian. Baginya ini lebih baik daripada dikejar-kejar ramalan takdir yang mengerikan.

Baginya yang sudah merasakan mati, takdir yang menyakitkan seperti itu lebih mengerikan dari kematian yang tanpa rasa sakit. Namun, sebagian dari dirinya merasa bahwa ini adalah balasan baginya. Sudah sering ia membantu sang ayah melukai orang dalam praktik perdukunannya, alih-alih menghentikannya dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.

Enam bulan sudah berlalu. Kafka masih bertahan hidup dengan cara seperti itu. Dalam kesadarannya ia masihlah manusia. Namun caranya bertindak dan berpikir sudah hampir sepenuhnya berubah menjadi gagak. Dalam hati terdalam, ia mau tenang dan berhenti menjadi gagak. Namun ia masih takut dengan takdirnya. Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk terbang terus ke arah barat, menuju ke sebuah pemukiman yang berada di ujung dunia.

Setelah enam tahun perjalanan, akhirnya Kafka sampai di pemukiman itu. Sekitar enam ratus meter dari tempatnya mendarat, ia melihat seorang uzur yang sudah sekarat. Bisa ia rasakan bahwa orang itu akan dicabut nyawanya. Maka, ia pun bergegas terbang rendah untuk mencapai rumah si uzur yang malang itu.

Sayangnya, enam meter dari rumah orang itu, seseorang tiba-tiba meringkus Kafka dengan karung goni. Sembari berusaha melepaskan diri, tedengar sebuah suara yang sudah tak asing lagi bagi dirinya.

            “Hahaha, malam ini, akan kupanggil arwah Kafka untuk menemani hari tuaku!”

Artikel Terkait