Pendidikan merupakan jembatan kebangsaan untuk kebutuhan moral dalam kehidupan sehari-hari tanpa pendidikan kriminalitas akan semakin meningkat dengan kemajuan modernisasi pemikiran.

Kecerdasan intelektual (IQ) "Intelektual Quotation" , Kecerdasan Emosional (EQ) "Emosional Quotation" dan Kecerdasan Spiritual (SQ) "Spiritual  Quotation". Sedangkan di sisi lain yaitu orang-orang yang menguasai self-literacy sebagai soft skill-nya untuk mengembangkan berbagai karakter individu agar dapat berkolaborasi secara adaptif dan bijak di era modern.

Diskursus reformasi pendidikan Islam sebenarnya terkait dengan gagasan-gagasan reformasi pemikiran Islam yang berkembang pada masanya. Dalam pandangan para pembaharuan Islam seperti Muhammad Abduh, Rashid Ridho Muhammad Iqbal hingga KH. Ahmad Dahlan (di Indonesia) memandang bahwa pemikiran Islam harus kembali pada kemurnian Islam (pan-Islamisme) dan terbebas dari kekangan sekte yang berkembang pada Abad Pertengahan. 

Kecenderungan gerakan reformasi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya gagasan pembaharuan internal pendidikan Islam.

Oleh karena itu gerakan reformasi pendidikan Islam, termasuk di Indonesia harus dilakukan untuk membongkar ketertinggalan dan stagnasi pemikiran umat Islam yang semakin “akut”. Fenomena reformasi terkadang juga menuntut adanya upaya untuk mendekonstruksi pemikiran masyarakat tentang Islam dan pendidikan Islam. Sehingga reformasi pendidikan Islam dapat dimaknai sebagai aktualisasi kesadaran untuk keluar dari “sumur dangkal” keterbelakangan.

Pendidikan dan kehidupan adalah satu kesatuan sebagai proses bagi manusia dalam hamparan samudera kehidupan. Dalam konteks inilah filsafat pendidikan merupakan proses bagi manusia untuk mengidentifikasi diri dengan segala kompetensinya untuk memahami dan menanggapi realitas sosial bahkan fenomena sosial yang berkembang di sekitarnya.

Sehingga Pendidikan Islam selalu penting diterapkan dalam kehidupan sehingga dapat menjadi pedoman dan pembeda. Hal tersebut sesuai dengan fungsi pendidikan Islam sebagai “bayyinat” (pembeda) haq dan bathil, “hudan” (petunjuk) bagi terciptanya masyarakat yang tercerahkan secara intelektual dan spiritual bahkan moral Pada mulanya praktik pendidikan Islam sangat sederhana. 

Filosofi uswah (teladan) menjadi sesuatu yang ditekankan dalam praktik pendidikan Islam. Dalam konteks ini, kontribusi terbesar pendidikan Islam adalah metode keteladanan. Hal ini sesuai dengan apa yang Allah SWT ajarkan dalam Firman-nya Qs. Al-Ahzab : 21. Metode Teladan merupakan metode yang sangat ampuh dalam menjawab segala permasalahan dalam pendidikan kontemporer. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keteladanan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam sejarah pendidikan Islam.

Pepatah Arab mengatakan “Al adabu Fauqol ‘ilmi” yang artinya adab lebih tinggi dari ilmu. Kalau hanya mengandalkan ilmu tanpa dibarengi dengan adab, iblis  lebih bisa. Karena iblis diberikan keistimewaan oleh Tuhan untuk lebih pintar dari manusia. Sebab orang yang berilmu tinggi belum tentu beradab. Tetapi orang yang beradab sudah pasti berilmu, karena mampu menempatkan ilmu tersebut sesuai dengan semestinya.

Marikah kita mulai menanamkan dan menumbuhkan adab dan etika: seperti ketika berjumpa ucapkanlah salam, menghormati yang lebih tua, bila lewat di depan orang banyak hendaklah permisi. Semakin baik perilaku kita, maka orang lain akan menilai jauh lebih baik.

Saat ini banyak orang pintar dan memiliki pengetahuan yang luas. Namun ternyata dengan ilmunya yang luas, ia kurang tepat dalam penerapannya, ia merasa paling bangga seolah-olah paling benar dan merasa paling pintar dibandingkan yang lain. Oleh karena itu, adab dan etika perlu diterapkan sebagai penyeimbang ilmu dan kecerdasan yang kita miliki. Sebab, kepandaian seseorang tidak akan bernilai jika tidak memiliki adab (etika). Ilmu akan berbahaya bagi dirinya dan orang lain jika tidak dihias dan dibarengi dengan akhlak.

Pendidikan Islam menempati posisi terpenting dalam kehidupan manusia dengan sendirinya telah menempati posisi yang sangat sentral dan strategis dalam membangun kehidupan sosial yang memposisikan manusia dalam kemajemukan hidupnya. 

Tujuan penciptaan manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berlandaskan hukum dan nilai-nilai agama Islam. Pendidikan Islam memiliki tugas menginternalisasi atau menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri seseorang. Juga mengembangkan peserta didik untuk mampu mengamalkan nilai-nilai tersebut secara dinamis dan luwes dalam batas-batas konfigurasi idealis wahyu Allah SWT.

Reformasi pendidikan Islam tidak lepas dari isu reformasi pemikiran Islam, salah satunya di landasi kesadaran akan mulai terpuruknya bahkan keterbelakangan Islam dalam segala aspeknya tidak terkecuali dalam aspek pendidikan. 

Reformasi pendidikan Islam adalah proyek yang belum selesai. Itu akan selalu berubah dan berlanjut. Memahami makna reformasi pendidikan harus membuka mata lebar-lebar. Dengan pengertian sudah saatnya dunia pendidikan sebagai sarana memajukan peradaban dijadikan langkah strategis dalam penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas. 

Dalam hal ini untuk perbaikan, pembaharuan (reform) dan pengembangan pendidikan yang berkesinambungan, sinergis tanpa henti. Berbagai kebijakan reformasi pendidikan, desentralisasi dan otonomi dalam lembaga pendidikan harus dimanfaatkan secara optimal sebagai upaya kreatif dalam menyelenggarakan pendidikan di masing-masing lembaga.

Saat kita stagnan, sedangkan pihak lain terus melaju dengan kecepatan tinggi, maka kita dalam posisi tertinggal. Akhirnya, kita terpinggirkan dalam roda perubahan zaman yang terus berlangsung.

Kesuksesan lahir dari kolektivitas, bukan kerja individu. Kolektivitas inilah yang menjamin adanya kontinuitas dan konsistensi dalam menjalankan program dan cita-cita besar ke depan.

Lembaga pendidikan Islam harus menawarkan nuansa baru dan pendidikan Islam yang berkemajuan dan berdaya saing global. Dalam konteks kebijakan pendidikan di Indonesia sebenarnya telah menimbulkan angin segar bagi penyelenggaraan pendidikan Islam.