Penulis
1 tahun lalu · 393 view · 7 menit baca · Pendidikan 57602.jpg
www.google.com

Reformasi Pendidikan Indonesia

Tanggal 2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional atau sering kita singkat dengan HARDIKNAS, bertepatan dengan hari lahirnya Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia dan pendiri Taman Siswa.

Tahun ke tahun, peringatan hari ini selalu dirayakan secara luas di Indonesia. Ya, minimal diadakan upacara bendera di sekolah atau tingkatan sekolah tinggi. Tahun ke tahun pula lah pendidikan Indonesia selalu menjadi bahan renungan dan evaluasi massal bagi masyarakat Indonesia secara luas.

Kita lihat saja media sosial, seperti Facebook, Path, Twitter, Instagram, Line, BBM, dan Whatsapp, hampir semuanya dipenuhi kata demi kata tentang pendidikan, walaupun hanya sebatas ucapan selamat atau kutipan kata-kata dari tokoh-tokoh terdahulu. Di jalan, walaupun tak sebanyak dulu, masih banyak orasi-orasi dari suara-suara guru dan mahasiswa untuk menyuarakan keluh kesahnya tentang pendidikan Indonesia.

Sayangnya, renungan dan evaluasi massal tersebut terkadang hanya akan menjadi angin lalu saja. Silahkan kita tunggu besok (tanggal 3 Mei), lusa, atau tiga hingga lima hari selanjutnya, kata-kata dan suara-suara hanya akan menjadi goretan dan gaungan yang tertinggal begitu saja tanpa adanya aksi menyeluruh tentang bagaimana sebenarnya yang dibutuhkan Pendidikan Indonesia.

Sejatinya, pendidikan Indonesia tak akan berkembang pesat jika kesadaran melalui kata dan suara kemudian tak menjadi kesdaran kolektif bersama.

Tema Hardiknas Tahun 2017 adalah “Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas”

Dikutip dari laman Kemendikbud, tema tersebut terkait erat dengan fenomena dunia yang berubah sangat cepat dan menuntut kualitas semakin tinggi. Untuk itu, marilah kita resapi dan renungi tema tersebut, kemudian kita wujudkan bersama-sama.

"Dengan begitu, maka seluruh lapisan masyarakat akan dapat menjangkau layanan pendidikan yang berkualitas. Dengan pendidikan berkualitas yang merata, dalam makna dapat dikenyam oleh seluruh warga bangsa, maka ikhtiar kita mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945, dapat terwujud.” - Muhadjir Effendy.

Tema untuk tujuan yang sangat luar biasa ditunjukkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayan saat ini. Namun, akankah percepatan pendidikan yang merata dan berkualitas dapat terlaksana dengan baik?

Kita semua tahu bahwa umur dari pemerintahan Pak Jokowi hanya tinggal 2 tahun saja jika tidak terpilih kembali menjadi presiden untuk periode selanjutnya. Dan kita semua tahu pula bahwa sekalipun Pak Jokowi terpilih kembali, tak pernah ada jaminan untuk Pak Muhadjir tetap menjadi Mendikbud.

Namun, kita tetap harus optimis dan mendukung langkah baik pemerintah ini untuk terciptanya pendidikan yang dapat dikenyam oleh seluruh warga Indonesia dengan kualitas yang tidak “jomplang” agar keberadaan bangsa kita dapat lebih bermartabat di tengah bangsa lain yang sedang menghadapi MEA dan Ekonomi secara global.

Namun, tujuan tersebut perlu adanya perbaikan dalam beberapa aspek di bidang pendidikan sendiri.

Guru

Guru merupakan aspek terpenting dalam reformasi pendidikan Indonesia, karena gurulah aktor utama dalam dunia pendidikan. Melalui tangan dan ucapan gurulah tersampaikan ilmu pengetahuan kepada murid yang menjadi objek dalam reformasi pendidikan itu sendiri.

Dikutip dari harian fikiran rakyat, menurut penelitian yang dilakukan oleh Professor John Hattie dari University of Auckland, faktor dominan penentu prestasi siswa adalah: (1) karakteristik siswa (49%), serta (2) guru (30%), (3) lain-lain (21%).

“Bukan anak yang harus memikul tanggung jawab dalam belajar, melainkan guru yang memikul tanggung jawab dalam mengidentifikasi kekuatan gaya belajar setiap anak, lalu mencocokkan semua itu dengan lingkungan dan pendekatan yang responsif” - Dr. Rita Dunn.

Saat ini, masih sangat banyak jumlah guru yang masih jauh dari kata menyenangkan bagi siswa dalam mengajar di kelas. Ceramah masih menjadi primadona bagi kebanyakan guru dalam proses transfer pengetahuan kepada siswa.

Tidak ada yang salah dengan ceramah, karena memang ceramah merupakan salah satu metode pengajaran. Yang menjadi masalah adalah ketika ceramah adalah satu-satunya alat yang dimiliki seorang guru dalam mengajar murid di kelas, anak yang memiliki kemampuan audio akan dengan mudah menyerap pengetahuan, namun anak dengan kemampuan visual atau audio-visual akan merasa kesulitan untuk menangkapnya.

Dan sayangnya, jumlah anak dengan kemampuan visual atau audio-visual lebih banyak ketimbang anak dengan kemampuan audio saja. Parahnya, bahkan masih banyak guru yang hanya datang ke kelas untuk mengatakan, “anak-anak silahkan buka LKS halaman 25, kemudian kerjakan, dan jangan berisik!”, kemudian sang guru tesebut keluar atau diam di bangkunya hingga jam mata pelajaran selesai.

Salahkah guru-guru yang mengajar dengan metode tersebut? Belum tentu, kita lihat kenapa guru “bisa” hanya memiliki senjata ceramah dalam mengajar murid. Profesionalitas adalah hal penting untuk guru menjadi guru yang baik. Untuk mencapai profesionalitas tersebut, perlu adanya pelatihan menyeluruh untuk guru-guru di Indonesia.

Sayangnya, saat ini pelatihan guru itu sendiri masih sangat minim dan tidak merata. Hasilnya, beberapa guru yang biasanya menjadi delegasi dalam pelatihan pun tak mampu mentransfer kembali kepada guru-guru lainnya di sekolahnya.

Namun ironis juga, ketika masih banyak guru yang sudah melaksanakan tugasnya dengan baik namun belum mendapatkan haknya. Terutama di daerah-daerah, selain sarana dan prasarana yang masih kurang, kesejahteraan guru pun masih jau dari kata layak.

Guru-guru harus mendapatkan pelatihan dengan baik dan menyeluruh, bukan hanya perwakilan saja. Karena jelas dikatakan dalam UU tentang Guru dan Dosen Bab 1 pasal 1, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Maka, tugas utama guru adalah memastikan murid menerima ilmunya dengan baik sesuai kebutuhannya.

Kurikulum

Kurikulum di Indonesia sendiri sudah sering kali berubah. Belum kurikulum lama selesai ter-transfer kepada seluruh sekolah di Indonesia, sering kali sudah ada perubahan kurikulum kembali seiring dengan perubahan kabinet pemerintahan. Sayangnya, perubahan-perubahan tersebut bukannya menjadi hal yang baik bagi pendidikan Indonesia, justru sering kali malah membingungkan bagi guru.

Hasilnya masih banyak guru yang menyampaikan materi sesuai dengan buku dan bahan ajar lama saja, tanpa memperdulikan perubahan kurikulum. Parahnya bahkan masih ada guru yang menggunakan buku atau bahan ajar terbitan 90-an, karena buku yang disediakan pun tak banyak untuk sekolah-sekolah di daerah. Atau sekalipun sudah ada buku atau bahan ajar baru, masih ada yang menggunakan yang lama dengan alasan “Kurikulum apapun, buku sama saja isinya, hanya cover saja yang ganti”.

Ironis, perubahan kurikulum yang merupakan titik perubahan sistem pendidikan Indonesia hanya dianggap sebagai perubahan cover buku saja, selebihnya banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana kurikulum tersebut.

Tercatat sudah 11 kali kurikulum di Indonesia berganti, dari kurikulum Rentjana Pelajaran 1947, hingga kurikulum 2015 yang merupakan kurikulum penyempurnaan dari K-13 yang juga merupakan penggunaan dari kurikulum 2006 atau KTSP. Namun, belum ada yang benar-benar dapat memperbaiki sistem pendidikan Indonesia secara menyeluruh.

Sering kali hanya beberapa sekolah saja yang merasakan manisnya perubahan kurikulum dengan berbagai fasilitas penunjang dan pelatihan yang baik, dan sekolah lainnya hanya sebagai penonton saja. Parahnya, kurikulum berganti, namun minat murid untuk belajar tidak membaik, bahkan justru terbebani. Hasilnya, masih banyak sekolah dengan taraf ekonomi yang baik, lebih memilih untuk menggunakan kurikulum luar negeri ketimbang menggunakan kurikulum pemerintah.

Oleh karena itu, perlu adanya aturan dan kebijakan yang jelas dengan adanya evaluasi dari kurikulum-kurikulum sebelumnya dari berbagai aspek, bukan hanya nafsu akan perubahan dengan membawa ide baru, akan tetapi juga memperbaiki sistem yang ada dengan merata.

Manajemen dan Sistem Pendidikan

Suatu sistem hanya produktif dan efisien apabila dikelola dengan tepat. Maka dari itu, lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia harus dikelola secara professional sehingga menghasilkan output yang baik. Ironisnya, masih sangat banyak lembaga pendidikan yang belum memiliki manajemen yang baik, sehingga outputnya pun kurang maksimal.

Parahnya, pelaku di lembaga-lembaga pendidikan bahkan banyak yang tidak menyadari pentingnya manajemen untuk profesionalitas lembaga, yang mengakibatkan apa yang sudah ditetapkan dengan baik dari hulu kemudian tidak dan mengalir dengan baik ke hilir.

Manajemen yang kurang baik mengakibatkan output yang kurang maksimal, dampaknya terhadap murid merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya sendiri dan masuk kelas hanya untuk mendapatkan secarik kertas bernama ijazah, setelah lulus? Mereka kebingungan, karena apa yang mereka inginkan, mereka miliki (kemampuan), dan apa yang mereka dapatkan (ijazah) tidak terpadu dengan baik.

Dan kemudian output-nya tidak sejalan dengan apa yang diharapkan pemerintah untuk memperbaiki bangsa karena kebanyakan lembaga pendidikan pun merasa kebingungan dengan manejemennya sendiri. Bahkan masih banyak lembaga pendidikan yang sangat “sibuk” ketika adanya momen-momen seperti akreditasi sekolah, Ujian Nasional, laporan BOS, dan lain sebagainya.

Momen-momen tersebut ironisnya seperti ajang seremonial saja, yang kemudian akhirnya terdapat banyak kekurangan dan kecurangan di dalamnya. Padahal jika lembaga pendidikan memiliki manajemen pendidikan yang baik, maka apapun dan kapanpun momentumnya, mereka harus siap untuk menjalankannya, dan dilaksanakan tidak secara dadakan saja.

Lagi, suatu sistem hanya produktif dan efisien apabila dikelola dengan tepat. Maka dari itu, lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia harus dikelola secara profesional sehingga menghasilkan output yang baik.

Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas

Percepatan pendidikan yang merata dan berkualitas hanya dapat dilaksanakan dengan manajemen yang konsisten dan menyeluruh. Artinya, hal ini menjadi tanggung jawab seluruh insan pendidikan, bukan hanya pemerintah dan guru saja tapi juga menjadi tanggung jawab bagi insan yang ada di dalamnya.

Memang, pendidikan yang merata dan berkualitas tak akan mungkin menjadi hal yang murah harganya, namun siapakah yang harus membayarnya? Pemerintah sebagai aliran pertama dari hulu seharusnya memiliki tanggung jawab lebih untuk memastikan hal tersebut.

Seperti tim sepakbola, pemain bertugas bermain di lapangan sesuai kemampuannya masing-masing, pelatih dan staffnya bertugas untuk melatih dan mendidik para pemain untuk memaksimalkan kemampuannya masing-masing, manajemen tim bertugas memastikan sarana dan prasarana serta segala kebutuhan pemain dan pelatih. Begitu pula pendidikan Indonesia, semuanya memiliki perannya masing-masing untuk terciptanya percepatan pendidikan yang merata dan berkualitas.

Setiap anak perlu adanya rasa nyaman dan percaya diri ketika masuk kelas dengan segala kebutuhan dan kemampuannya masing-masing, setiap guru perlu memiliki profesionalitas dengan pelatihan yang baik, dan yang paling penting perlu adanya manajemen yang baik dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan dari hulu ke hilir. Sehingga, percepatan pendidikan yang merata dan berkualitas dapat terlaksana dengan baik.

Semoga pendidikan Indonesia yang berkualitas dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat Indonesia. Selamat hari pendidikan Nasional.