Jika kita membaca dan mempelajari sejarah, kita akan menemukan bentangan peristiwa yang saling terkait satu sama lain. Di dalam peristiwa itu ada banyak penokohan dan setting yang direkam oleh historiografi. Kemampuan historiografi merekam peristiwa sejarah tergantung dari kemampuan sejarawannya memahami masa lalu.

Selain dari kemampuan sejarawannya, metodologi historiogafi yang digunakannya juga mempengaruhi kemampuan mengorek masa lalu. Ilmu historiografi senantiasa berubah dari waktu ke waktu, semakin komplek metodologinya. Historiogafi zaman Herodotus berbeda dengan zaman Augustinus.

Masa lalu memang seharusnya kita ketahui, agar tidak kehilangan pijakan dan identitas siapa sebenarnya kita. Tetapi harus diakui, memahami masa lalu memang ruwetnya bukan main. Tidak usah jauh-jauh berbicara seabad yang lalu, berbicara 20 tahun yang lalu saja kita sudah kelimpungan mencari kebenarannya.

Hari ini kita masih berdebat soal antagonis atau protagonisnya Soeharto dalam sejarah orde baru, bagaimana kita akan menguak sejarah yang terhampar pada abad ke-19 misalnya? Atau mau ditarik ke belakang lagi, bagaimana kita akan membongkar sejarah Majapahit secara utuh, dari lahir, perkembangan, kemudian runtuhnya?

Historiografi berperan besar dalam memecahkan pertanyaan-pertanyaan di atas. Karena sampai sekarang, historiografi belum tuntas menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena historiografi Indonesia hari ini, seperti kehilangan pijakan otentik dan relevansinya. 

Maksud saya begini, ketika kita menulis sejarah, dengan menggunakan metodologi modern yang komplek dengan empat tahapan historiografi yang harus ditaati dan diharuskan meminjam teori-teori dari para tokoh sejarah atau non-sejarah, itu terkadang menjadi kehilangan esensi dari yang akan ditulis. Seorang yang baru menulis tentang sejarah, dengan mengetahui aturan baku akademisnya seperti itu, mau tidak mau harus manut, meski belum paham benar.

Historiografi akademis modern dengan paradigmanya dan tahapan-tahapan bakunya sedikit banyak mempengaruhi apa yang ditulis. Sebenarnya tahapan-tahapan baku itu digunakan untuk memudahkan bagi orang yang akan menulis sejarah karena itu merupakan panduannya. 

Tetapi ada jenis orang atau sejarawan yang menulis sejarah tidak memerlukan panduan baku. Malah mencoba mereformasi tatanan baku, salah satu contoh dari banyak contoh, yakni Leopold Von Ranke. Tetapi karya yang dihasilkan sangat gemilang.

Standar baku historiografi kita hari ini seyogyanya tidak disikapi secara eksklusif. Historiografi bisa diubah metodologinya kapanpun. Kalau ada yang dapat mendekati kebenaran masa lalu, kenapa tidak? Seperti dalam perkembangan sejarah penulisan sejarah (historiografi) pada setiap masa. Historiografi masa Herodotus berbeda dengan historiografi masa Augustinus.

Mengapa Augustinus tidak mengikuti Herodotus? Salah satu jawabannya adalah karena Augustinus menemukan metodologi yang lebih tepat pada masanya. Seperti juga historiografi masa Jean Mabillon berbeda dengan historiografi masa Leopold Von Ranke. Setiap masa melahirkan karakter historiografi yang berbeda. Karena jiwa zaman yang berbeda (weitgesst). 

Apakah boleh kita menulis dengan jenis metodologi yang baru? Boleh saja, tetapi Anda harus berada di luar jalur akademis yang baku. Dengan terlebih dahulu menguasai ilmu sejarah secara universal. Kemudian kita juga mesti siap dengan kemungkinan mendapat pertentangan dari berbagai pihak.

Siapa tahu sekarang adalah masanya di mana kita harus beralih ke historiografi post-modern. Karena post-modernisme melanda setiap ilmu. Bolehkah kita beralih ke historiografi post-modern? Bolehkah kita mendekonstruksi (meminjam istilah Derrida) historiografi sekarang dengan kemudian mereformasinya?

Fakta Kecil dan Fakta Umum dalam Historiografi (Suatu Ancangan)

Tulisan sejarah yang dihasilkan oleh metodologi historiografi sekarang, bukan berarti harus tidak dipercayai sepenuhnya dan bersikap antipati terhadapnya. Tulisan sejarah hasil dari metodologi historiografi sekarang tetap kita pakai untuk melihat masa lalu. Tetapi ada bagian dari tulisan sejarah ini, yang harus kita teliti lebih dalam. Dalam tulisan sejarah terdapat fakta-fakta sejarah, saya membagi dua jenis, ada fakta kecil dan fakta umum.

Fakta kecil yang saya maksudkan di sini adalah fakta sejarah yang menyangkut data-data yang sifatnya rinci, seperti nama tokoh, cuaca, waktu kejadian (hanya bulan dan tanggal, bukan tahun), tempat kejadian dan lain-lain. Misalnya kalau nama tokoh: Pangeran Diponegoro, dan kalau nama tempat: Gua Selarong. Itu merupakan fakta kecil.

Fakta umum adalah fakta sejarah yang melingkupi fakta-fakta kecil sehingga menjadi kesatuan narasi. Misalnya, “Pangeran Diponegoro melakukan pemberontakan terhadap Belanda dengan cara gerilya atau sembunyi-sembunyi. Salah satu tempat persembunyiannya adalah Gua Selarong.” Ini merupakan contoh fakta umum. Di dalam fakta umum, berisi setidaknya atau minimal dua fakta kecil.

Jadi fakta umum adalah fakta sejarah yang telah menjadi satu kesatuan maksud dalam kalimat atau dalam paragraf atau keseluruhan tulisan sejarah. Fakta umum ini yang nantinya akan membentuk isi dan inti tulisan sejarah. Sehingga menyangkut juga benar atau tidak, otentik atau tidak tulisan sejarah tersebut. Fakta umum inilah yang harus kita teliti lebih jauh jika kita ingin membuat suatu historiografi yang baru.

Fakta kecil yang terkumpul menjadi fakta umum, yang kemudian membentuk tulisan sejarah inilah yang disebut dengan historiografi. Ketika membaca historiografi harus berhati-hati terhadap fakta umum, karena maksud dari tulisan sejarah tersebut biasanya terletak pada fakta umum. 

Misalnya pada contoh fakta umum di atas, maksud dari tulisan sejarah itu bisa kita lihat dari diksi “pemberontakan” yang digunakan. Karena penggalan kalimat itu merupakan hasil dari historiografi dengan sudut pandang Belanda-sentris, maka bukan diksi “perlawanan” yang dipilih.

Fakta kecil seperti Pangeran Diponegoro dan Gua Selarong, sikap kewaspadaan kita boleh agak mengendur sedikit. Tetapi bukan berarti kehilangan jiwa peneliti kita. Karena kebenaran pada fakta kecil biasanya lebih kuat dibanding fakta umum. Maka teliti fakta kecil dan fakta umum, lebih percaya fakta kecil daripada fakta umum.