"Siapa bilang Pak Harto orang jahat, siapa bilang orde baru itu jahat?" Kata Pak Ds. Putera, seorang tokoh Hindu Jembrana yang saya temui di rumahnya dan kebetulan nyambung dan mampu mengobati kesepian diskusi filosofis saya di Kabupaten Jembrana ini. 

Memang sejak lulus wisuda, dengan kepercayaan diri yang tak saya timbang-timbang, saya memutuskan balik kandang dari Jakarta, dengan harapan bahwa saya dapat berkontribusi untuk daerah. Setahun lebih di sini, ternyata saya kesepian, saya kelelahan membangun jaringan sendirian. 

Saya seperti orang "asing" di sini. Bagaimana tidak, sejak kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Islam dan selama hampir tujuh tahun di Jakarta, saya banyak membaca buku-buku filsafat, politik dan dengan mudah menemukan ruang-ruang diskusi di sana, untuk sekadar melepaskan "penasaran" intelektualitas saya. 

Berbeda halnya ketika saya di sini, saya tak bisa menemukan ruang diskusi. Saya kesulitan  menemukan hal-hal mendasar dalam obrolan, sebab setiap saat bertemu orang, ruang bicara selalu soal, "kapan menikah", "berapa gaji", "mau liburan ke mana", "berapa anaknya", "kerja di mana" dll. Hal-hal yang semestinya wajar dalam masyarakat kita, tapi bagi saya itu berat, tak tahu kalau nanti sore.

Pun demikian, mesti dipahami, bahwa perjuangan intelektual harus juga ditopang dengan keadaan ekonomi yang mapan, agar kualitas berpikir sebisa mungkin tetap jalan dan netral. Upaya demikian, sudah saya lakukan, dengan mencoba ini dan itu tapi belum juga berhasil. 

Saya masih saja berstatus pengangguran. Sudah ikut tes sana-sini tetap saja gagal, bahkan tak jarang digagalkan oleh orang yang seideologi. Saya baru paham dunia ini bulat, bukan datar.

Saya berusaha membangun jaringan dengan orang-orang agar bisa berjuang berbarengan, tapi ternyata tidak, saya tetap sendirian. Saya harus  memahami bahwa, bagaimanapun pikiran masyarakat di daerah,  bahwa di desa itu sangat sederhana sekali. Yang penting urusannya terpenuhi, itu sudah cukup. 

Kalau sudah beres urusan makan minum serta sekolah anak dan istri, maka tak perlu ada orang lain yang perlu dipikirkan. Tak perlu urusan hakikat, tak perlu urusan negara, apalagi politik. Yang penting sesekali penguasa kasih bantuan, cukup terima, masuk kantong, lalu diam, beres sudah.

Kegelisahan dan kesepian saya semakin menjadi saat saya membangun relasi dengan orang-orang di organisasi-organisasi kemasyarakatan yang ada. Tidak seperti yang saya pikir sebelumnya, bahwa ruang inilah harapan terakhir saya mengobati kesepian di daerah, tapi ternyata pengurusnya sibuk berbicara proyek, bicara soal sejauh mana uang masuk ke kantongnya. Soal ke mana program dan arah organisasi, tak jadi agenda bagi mereka.

Walhasil, bertemu Pak Ds. Putera, walau sekali dan meski tak bisa diharapkan banyak soal kesepian dan masa depan kerja saya, menjadi semacam oase di tengah kegalauan saya selama ini.  

"Kalau jahat, mana mungkin ia bangun Indonesia sampai proyek Pelita IV-nya?", lanjutannya. 

Saya menyela, "lalu kenapa rakyat menghendaki Soeharto turun, dan bahkan dipaksa turun?"  

"Ah...masa? Sanggah orang yang mengaji hidup di tiga jaman itu.

"Kamu paham, yen care nak mekurna (kalau Ibarat orang menikah) Pak Harto itu seperti seorang Istri yang udah lama nemani suami. Karena lama, ya bosan kan, sehingga suami kan ingin cari yang lain untuk ngobati kebosanan."

Jawaban yang membuat saya tertegun dan merenung jauh, sebab hati saya tak kuasa menolak jawaban itu di samping tak sepenuhnya siap menerimanya.

"Coba bayangkan, nyen bani ngoraha kurna irage be bertahun-tahun ngayahin hidup irage, ngaenang nasi, kopi tiap wai, ngelah panak teken ngerawatne, jelema jelek?" lanjutnya dalam Bahasa Bali yang artinya kira-kira begini, "Coba dibayangkan, siapa berani bilang seorang Istri  yang bertahun-tahun mengabdi untuk suami, buatkan nasi, kopi tiap hari, ngasih anak dan merawatnya adalah orang jelek?",  "Tak ada yang membantahnya, begitulah kira-kira Pak Harto, tapi siapa bisa menolak rasa bosan, siapa yang tak tertarik wanita muda dan segar, kecuali keikhlasan?" lanjutnya menguatkan.

Begitulah bangsa ini, selama 30 tahunan lebih diayomi Pak Harto dengan segala kebaikannya (di luar kekurangan sebagaimana seorang Istri) ternyata tak cukup memuaskan dahaga masyarakat ini. Tapi bagaimana tak memuaskan, sebab bangsa ini sering Khilaf, lebih pada karakter patriarki yang mendominasi.

Dalam masyarakat yang patriarki, laki-laki selalu utama, dan perempuan selalu di bawah dan "salah" bagaimanapun baik dan benarnya, meski ada ungkapan "perempuan selalu benar", tapi itu tak berlaku bagi masyarakat patriarki. Pak Harto adalah "korban" kebosanan yang diakumulasi kesalahan-kesalahannya sebagai "Istri"" dalam masak dan merawat anak-anak yang membuat suami (reformasioner, politisi dan sebagian rakyat) punya alasan untuk menceraikannya.

Hari ini setelah menalak Pak Harto, si suami hidup di alam yang lebih segar dengan perempuan masa depan bernama reformasi di rumah bernama demokrasi. Tapi Istri muda nan baru bukan tanpa masalah, si suami ternyata tak bisa kontrol penuh itu Istri baru nan muda, Istri berjalan sendiri sesuai maunya, si suami tak kuasa menahannya, sebab akad saat menikahi si suami memberikan kebebasan sepenuh-penuhnya tanpa konsep dan batasan yang disepakati. 

Pokoknya si suami sudah ceraikan istri tua dan nikah dengan istri fresh nan muda, maklum lagi horney, siapa bisa berpikir sehat kalau lagi horney?

Setelah 28 tahun menikah, si suami mulai bosan lagi, tapi tak kuasa menceraikan, sebab tak kuat juga menahan cemoohan orang-orang (rakyat). Karena tak kuasa, tetap saja pernikahan dijalani, tapi dengan pura-pura mencintai si Istri, agar dilihat setia dan pengayom meski tersiksa. 

Akhirnya, karena tak kuat cemoohan, si Istri tetap dipertahankan, tapi suami buat aturan baru bareng anak-anak (pembuat aturan Undang-undang), pokoknya kalau ada yang jail disikat, dan si Istri bagaimanapun harus dikendalikan dengan uang dan harta, itu saja.

Siapa kuasa menahan Istri baru/muda (reformasi) yang sedang berapi-api. Salah-salah atur bisa-bisa tuanya juga semakin ngawur. Masa-masa ini adalah masa transisi, di mana Istri muda sedang mencari format kedewasaannya. Format itu dapat terwujud jika orang-orang tidak sepenuhnya melepaskan si Istri dalam didikan si suami yang sudah terlanjur horney

Perlu kebijaksanaan dari ayah Ibu sang Istri (cendikia, ulama, arif dll) untuk terus menasehati si Istri, sembari melindungi sepenuhnya Istri yang muda itu (reformasi) dari perilaku suami yang ngawur. Mungkin kalau sudah kelewatan bisa didorong untuk diceraikan. Tapi apa mungkin di tengah masyarakat patriarki begini? 

Ah saya masih saja mengkhawatirkan hal-hal yang orang tak khawatirkan, saya terlalu banyak mengkhayal dan berharap pada orang sehingga sampai sekarang masih nganggur tak jelas. Kalau begitu, "penak jamanku to?", Ucap eyang Harto

Note: Ilustrasi dan tulisan sangat filosofis kan? Hehe..