Negara Indonesia adalah negara kaya akan suku, bangsa, ras, agama, golongan, bahasa, budaya, dan keanekaragaman lainnya yang tiada tara. Sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang meningkat, hingga dasar negara, bendera, lagu, serta sumber hukum pun tak luput damiliki oleh negara Indonesia.

Kewilayahan Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, telah berisikan berjuta-juta penduduk yang sadar bahwa dirinya berada di negara Indonesia. Sekian banyak penduduk itu, telah diakui oleh undang-undang sebagai warga negara Indonesia, yang keseluruhan memiliki kesamaan hak dan kewajiban.

Warga negara Indonesia sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hak yang sama, berupa Hak Asasi Manusia (HAM). Hak Asasi yang dimiliki tidak boleh diubah ataupun digugat oleh siapapun, termasuk oleh orang-orang yang pernah mencoba merongrong kemerdekaann Indonesia.

Tidaklah kita menganggap peristiwa masa lampau itu menjadi sebuah kisah atau cerita fiksi, karena peristiwa itu adalah sebuah kenyataan yang telah dihadapi oleh bangsa Indonesia.

Adanya peristiwa itu membuat bangsa Indonesia tidak dibiarkan untuk mendapatkan hak kebebasan hidup, bangsa Indonesia sendiri dipaksa untuk tunduk dengan pihak yang mencoba mengusik kemerdekaan Indonesia. Hilangnya rasa kemanusiaan ditujukan kepada mereka, para pejuang bangsa.

 G-30 S/PKI, gerakan Partai Komunis Indonesia yang menguat pada tahun 1965 dan masuk dalam Sejarah Indonesia. Kala itu, PKI menganggap TNI terutama Angkatan Darat merupakan penghalang utama untuk menjadikan Indonesia negara komunis.

Oleh karena itu, PKI segera merencanakan tindakan menghabisi para perwira TNI Angkatan Darat yang menghalangi cita-citanya. Setelah segala persiapan dianggap selesai, pada tanggal 30 September 1965, PKI mulai melancarkan gerakan perebutan kekuasaan.

Kita adalah bangsa Indoneisa. patutlah kita mengenal dan membahas peristiwa ini. Jangan sampai semua kalangan di antara kita melupakan sejarah yang telah menelan ribuan manusia dalam pembunuhan dan pembantaian yang sia-sia. Simaklah dan renungkan sejenak penuturan saksi mata peristiwa G 30 S/PKI oleh Letkol (Purn) Pol. Sukitman yang lolos dari upaya pembunuhan, “Saya juga melihat ada orang yang telentang berlumuran darah, dan ada yang duduk sambil diikat tangan dan ditutup matanya. Kemudian saya ditawan di sebuah rumah, bentuknya seperti sekolah emperan, karena ada bangku-bangku dan papan tulis.

Di tempat ini, menjelang matahari terbit, saya menyaksikan satu persatu tawanan itu diseret dan kemudian diceburkan ke sumur, mereka kemudian ditembaki. Tembakan diarahkan dari kepala hingga kaki. Sementara para sukwan dan sukwati dengan bersorak-sorak meneriakkan yel-yel Ganyang Kapbir (kapitalis birokrat) dan Ganyang nekolim”

Pembantaian ini hampir tidak pernah disebutkan dalam buku sejarah Indonesia dan hanya memperoleh sedikit perhatian dari orang Indonesia maupun warga internasional. Mereka yang dibebaskan seringkali masih harus menjalani tahanan rumah dan secara rutin harus melapor ke militer. Mereka juga sering dilarang menjadi pegawai pemerintah, termasuk juga anak-anak mereka.

Mengingat dari sejarah itu, waktu kian berlalu, era kian berganti, kebijakan para pemimpin kian bergulir. Segala upaya tersebut tidak lain untuk menjaga harkat dan martabat bangsa, yang di dalamnya terdapat manusia-manusia yang tak bersalah, menaruhkan jiwanya untuk keselamatan negaranya, berbudi luhur untuk mengembangkan bangsa Indoneisa, serta menghilangkan pengaruh dari pengusik keamanan Indonesia.

Perbaikan dalam segala bidang yang menyangkut Negara Indonesia terus diusahakan. Pembangunan             Indonesia menuju rakyat sejahtera selau diharapkan. Kala ini masih Orde Baru, ternyata keberhasilan pembangunan tersebut tidak merata, maka kemajuan Indonesia hanya terlihat semu belaka. Ada kesenjangan yang mendalam antara Si kaya dan Si miskin. Rakyat mengetahui, paham, dan mengerti, bahwa hal ini disebabkan oleh cara-cara pengelolaan negara yang tidak sehat, ditandai dengan merajalelanya Korupsi,

Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Kritikan dan protes yang dimaksudkan sebagai aspiarasi masyarakat luas seringkali dilontarkan kepada pemerintah, namun pemerintah Orde Baru sendiri seolah-olah tidak melihat, dan mendengar, bahkan masyarakat yang tidak setuju kepada kebijaksanaan pemerintah selalu dituduh sebagai PKI dan sebagainya.

Kian lama meninggalkan masa itu, kian ada butir-butir hak yang nyata. Setiap manusia diberikan hak untuk melakukan kegiatan apapun yang mereka inginkan. Kebebasan tiada batas, tanpa adanya tekanan dari siapapun, terlepas daari itu asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang dan nlai moral bangsa Indonesia.

Inilah reformasi, kita anggap semua aturan yang menyangkut kebebasan setiap manusia sudah terbentuk dan terlaksana. Namun perlu kita ketahui ada beberapa hal yang belum pernah hilang dari pengawasan. Jika kita memperthatikan dan menganalisis keadaan yang ada di sekitar kita, masih sering kita temui penghilangan hak manusia, seperti penganiayaan, pelecehan, pemusnahan, dan pembunuhan.

Hal ini patut dijadikan koreksi bagi negara kita dalam melindungi setiap hak asasi yang dimiliki setiap manusia. Siapa berani melakukan hal yang melanggar aturan, menyebabkan manusia-manusia tak bersalah menderita, siap-siap saja, reformasi tidak akan diam saja. Reformasi akan menuntut siapa-siapa yang ingin mengganggu kenyamanan setiap manusia yang memiliki hak.

Pada perkembangan kontemporer, 23 Juli 2012, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) menyatakan bahwa, pembantaian orang-orang yang dituduh komunis itu merupakan pelanggaran HAM yang berat. Setelah melakukan penyelidikan selama empat tahun, bukti dan hasil pemeriksaan saksi menunjukkan adanya sembilan kejahatan yang masuk dalam kategori kejahatan terhadap kemanusiaan.

Kesembilan pelanggaran HAM tersebut adalah pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa, perampasan kemerdekaan atau kebebasan fisik lainnya secara sewenang-wenang, penyiksaan, pemerkosaan dan kejahatan seksual lainnya, penganiayaan, dan penghilangan orang secara paksa.

Harapan semua orang, tidak ada tindakan penghilangan hak, terutama kekerasan di kala ini. Doa untuk Indonesia ke depan adalah menciptakan negara yang aman, semuanya damai, jika semua prosedur dilakukan. Kita membutuhkan pemerintah yang tegas, manusia yang peduli, agar kesetaraan akan hak manusia tercipta kembali.

#LombaEsaiKemanusiaan