Sebelum saya menelusuri magnum opus dari kedua tokoh filosof muslim yang sangat terkenal ini, yakni Abu Hamid Al Ghazali dan Ibn Rusyd, saya akan mengulas singkat realita masyarakat pada era digitalisasi ini.

Kita (manusia) tanpa terkecuali pada era digitalisasi ini tentu tidak luput dari alat teknologi dan informasi saat melakukan suatu kegiatan atau aktivitas yang dihadapi.

Lebih-lebih lagi saat masa pandemi virus corona, secara otomatis kita diarahkan untuk mengonsumsi yang serba online melalui aplikasi whatsapp, zoom, google meeting dan lain sebagainya.

Mulai dari kegiatan akademik kampus, program kerja organisasi, rapat kerja di suatu perusahaan/lembaga, membeli kebutuhan dasar pribadi, sampai kepada cara kita beragama pun menggunakan alat teknologi dan informasi.

Semisal mengaji kitab dengan kiai kiai secara online, dan bahkan yang sedang trending di sosial media bahwa masyarakat desa Ngoto yang berada di Yogyakarta, melaksanakan salat tarawih secara ‘jarak jauh’.

Maksudnya begini, masyarakat/jemaah melaksanakan salat tarawih di rumah masing masing lalu dipandu dari masjid oleh pengurus masjid menggunakan alat teknologi (pengeras suara).

Dari kejadian tersebut banyak netizen yang mengomentarinya, antara pro dan kontra itu sudah menjadi hal yang maklum baik di dunia nyata terlebih dunia maya. bahwa apakah sah ataupun tidak melaksanakan salat tarawih secara jarak jauh?

Mengapa kita harus memperdebatkan hal hal yang tidak substansial? Memperdebatkannya di sosial media pula. Adapun jika ingin berdebat, eh maaf debat itu kurang baik. Maksudnya kita lebih mengajak mereka yang tidak salat dengan subtil itu lebih detail.

Boleh juga kita lebih menambahkan power untuk hal hal yang bersifat spiritual agar pandemi ini cepat berakhir, dan kita tidak kembali disuguhkan kepada problematik yang seperti ini, yang menurut saya itu problematik tata cara praktik (fiqiyah) saja.

Saya menganalisa apa yang diulas dari hal tersebut poin pentingnya bahwa teknologi dan informasi sudah menguasai sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Ini yang disebut oleh Herbert Marcuse (w. 1979), dalam bukunya One-Dimensional Man sebagai masyarakat industri modern. Menurutnya, ciri masyarakat industri modern adalah peranan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Rasionalitas jaman ini adalah rasionalitas teknologi. Teknologi dapat “recyled” oleh manusia. Saya menggunakan istilah “recyled” sebagai hal yang dapat dibentuk sedemikian rupa sebab teknologi dapat dikuasai, digunakan, dimanfaatkan, dimanipulasi dan dapat menjadi senjata boomerang bagi manusia itu sendiri.

Peristiwa yang mencerminkan tentang kemenangan sains dan teknologi, bahwa peradaban dunia pada abad 21 adalah peradaban bagi kemajuan teknologi.

Sekilas saya teringat abad pertengahan di eropa yang tidak jauh berbeda dengan era digitalisasi ini dalam mencapai garis finish nya dimenangkan juga oleh ilmu dan pengetahuan (era Renaisans). Renaisans adalah jaman dimana peralihan dari abad pertengahan ke modern sekitar (abad ke 14 – 17).

Sebelumnya, abad pertengahan memang didominasi oleh kekuatan gereja di eropa dari segala aspek kehidupan. Ilmu dan pengetahuan pada saat itu dibungkam oleh orang orang gereja.

Justifikasi atas nama agama (Katolik Roma) menjadi otoritas kebenaran ya semacam pedoman kehidupan yang wajib diikuti oleh semua umat manusia pada saat itu.

Hal ini terdapat pada dogma katolik awal “Extra Ecclesiam Nulla Salus” yang disingkat EENS yang artinya ‘tidak ada keselamatan di luar gereja’. Jika ada yang berbeda pendapat dengan ilmu gereja akan dihasut dan dibunuh, mereka halal untuk ditumpahkan darahnya.

Pertikaian antara agama dan ilmu pengetahuan menjadi titik kulminasi dari pembahasan yang amat penting di abad pertengahan. Hal ini tidak terlepas dengan masa kejayaan Islam.

Pada saat eropa didominasi oleh gereja atau ahli sejarah Islam klasik memasukkan masa ini dengan kategori “the dark middle ages” (jaman kegelapan).

Justru Islam mengalami kejayaan di dataran timur yang di pelopori oleh Abu Hamid Al Ghazali sang “hujjatul Islam” (pemikir Agung Islam), yang namanya harum di dataran timur dan juga yang menjadi pelopor dari mazhab wahyu (agama) atas pertikaian antara agama dan ilmu pengetahuan (akal) pada abad pertengahan.

Para ulama kebanyakan pun mengklaim bahwa maju dan mundurnya dunia Islam berada di pundaknya Al Ghazali. Saya rasa ini luar biasa pengaruh Al Ghazali terhadap dunia Islam.

Al Ghazali membungkam ilmu pengetahuan (filsafat) yang tercermin di dalam magnum opus nya yang begitu terkenal “Tahafut Al Falasifah” atau kerancuan filsafat. Al Ghazali mengkritik pemikiran para filosof Yunani yang direvitalisasi kembali oleh filosof muslim abad pertengahan yakni Al Farabi dan Ibnu Sina.

Bahkan bukan hanya mengkritik akan tetapi mengafirkannya karena pernyataan filosof tersebut sudah keluar dari jalur koridor akidah Islam khususnya tentang pemikiran bahwa alam sama “eternal” (kadim) nya dengan Tuhan.

Sebab alam diciptakan saat belum adanya waktu atau di luar hal temporal. Alam ada dengan sendirinya, ia bersifat kadim. Menurut Al Ghazali jika Alam sama kadimnya dengan Tuhan maka ada hal yang menyerupai Tuhan, ini sifat yang mustahil bagi Tuhan itu sendiri untuk disamakan denga sesuatu yang lain.

Meskipun begitu ada penjelasan lebih lanjut dari Ibn Sina untuk meluruskan maksud dari pendapat filosof Yunani bahwa alam adalah “the different of degree” perbedaan derajat tentang keberadaan alam dan Tuhan. Alam sedikit lebih rendah tingkatan keberadaannya dari pada “wajibul wujud bidzatihi” (Tuhan).

Al Ghazali mengatakan bahwa mula mula alam diciptakan dari ketiadaan, namun tetap Tuhan adalah “prima kausa”, atau penyebab utama. Pernyataan yang sama seperti kalangan agama pada umumnya.

Argumentasi filosofis ini berlanjut dengan salah satu ”magnum opus” nya Ibn Rusyd “Tahafut at Tahafut” atau kerancuan di dalam kerancuan. Maksudnya, Ibn Rusyd menanggapi Al Ghazali yang keliru atas kekeliruan Al Farabi dan Ibn Sina dalam pandangannya terhadap pemikiran filosof Yunani kuno seperti Aristoteles dan yang lainnya tentang penciptaan alam.

Ibn Rusyd seorang filosof besar muslim abad pertengahan yang menjadi pelopor dari mazhab akal (ilmu pengetahuan) yang namanya harum di dataran barat (eropa). Ia memiliki pengaruh besar bagi lahirnya era Renaisans.

Pertikaian antara ilmu pengetahuan dan agama didamaikan atau diharmonisasikan oleh Ibn Rusyd di dalam doktrin “double truth” atau kebenaran ganda pada karyanya “Fashl Al Maqal Baina Al Hikmah wa Syariah min Ittishal

Dalam karyanya itu Ibn Rusyd mencoba mengharmonisasikan antara agama dan ilmu pengetahuan. Sumber kebenaran bukan hanya datang dari wahyu akan tetapi kebenaran juga dapat datang dari akal pikiran manusia.

Sekarang kita merasakan hidup di era digitalisasi yang sudah diulas secara singkat bahwa era digitalisasi adalah eranya ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan dalam beragama sekalipun.

Pertanyaannya adalah apakah agama telah ditundukkan oleh ilmu dan pengetahuan di era digitalisasi ini terlepas banyak pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan? Terlepas juga ilmu pengetahuan yang lebih dominan atas kredibilitasnya di mata masyarakat modern dalam memenuhi kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya

Atau memang seimbang diantara keduanya?

Ini yang harus kita (muslim) refleksikan kembali bagaimana mengharmonisasikan antara ilmu pengetahuan dan agama di era digitalisasi ini. Ibn Rusyd pernah mengatakan bahwa Agama (wahyu) dan Ilmu Pengetahuan (akal) adalah “ukhtu rothi’ah” (saudara sepersusuan).

Saya pikir untuk hidup di era digitalisasi ini kita selaku muslim tidak menundukkan antara satu dengan yang lainnya, dan bukan berarti adanya ilmu dan teknologi yang begitu canggih mempermudah kita dalam beragama. Beragama tetap harus sesuai dengan alqur’an dan as sunnah karena hal tersebut adalah pedoman Islam dalam beragama.