Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah atau disingkat Jasmerah adalah semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966.

Benar, di dalam kehidupan terutama ketika kita melihat perspektif dari sebuah negara, kita tidak bisa meninggalkan hal yang menjadi kekuatan dasar kita dalam upaya membangun atau kita sering bicarakan adalah terkait menggebrak momentum kejayaan. Hal tersebut tak bisa lepas dengan memperhatikan landasan nilai-nilai sejarah kejayaan di masa lalu, salah satunya adalah kejayaan pada masa Kesultanan Banten.

Halwany Michrob ‪dalam Sejarah Perkembangan Arsitektur Kota Islam Banten mencatat bahwa Banten berasal dari kata Wahanten yang berarti sungai atau ketiban inten (tertimpa intan). Sedangkan Bantam artinya kuat atau bantahan, yang berarti membantah.

Kesultanan Banten mengalami masa keemasan pada masa kesultanan Sultan Abdul Fattah atau yang lebih dikenal dengan nama  Sultan Ageng Tirtayasa. Ia memerintah pada tahun 1651 – 1682 Masehi.

Letak Banten yang strategis mempercepat perkembangan dan kemajuan ekonomi  Banten melalui sektor perdagangan, agraria, dan kemaritiman, juga hubungan internasional ataupun hubungan kerja sama dengan beberapa kerajaan. 

Monopoli atas perdagangan lada di Lampung, menempatkan penguasa Banten sekaligus sebagai pedagang perantara dan Kesultanan Banten berkembang pesat, menjadi salah satu pusat niaga yang penting pada masa itu.

Perdagangan laut berkembang ke seluruh Nusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang Inggris, Denmark dan Tionghoa, Banten berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, Cina dan Jepang.

Kehidupan sosial budaya juga mengalami  kemajuan.  Masyarakat  umum hidup dengan rambu-rambu budaya Islam. Secara politik pemerintahan Banten juga semakin kuat.

Bahkan, perluasan wilayah kekuasaan terus dilakukan bahkan sampai ke daerah yang pernah  dikuasai Kerajaan Pajajaran. Namun ada sebagian masyarakat yang  menyingkir di  pedalaman Banten Selatan karena tidak mau memeluk agama Islam.

Indonesia harus bisa menciptakan sebuah konsepsi kesejahteraan masyarakat. Hal ini sudah tercantum muatannya dalam hakikat sejati dari Pancasila yang mana konsepsi tersebut adalah ukuran untuk mewujudkan kemenangan dan kejayaan indonesia agar maju bersaing dengan negara-negara adidaya saat ini.

Ketika kita berbicara masalah kemenangan dan kejayaan, Indonesia sedang menunggu dan mempersiapkan di tahun 2030 bonus demografi yang akan menjadi titik tolak untuk negara ini bisa menggebrak momentum kejayaannya.

Indonesia diyakini mempunyai kesempatan besar untuk tampil di wajah dunia dalam berbagai aspek yang akan banyak dimainkan peranan kebangsaannya oleh para pemuda-pemuda.

Maka, saat ini Indonesia melalui referensi masa keemasan kesultanan banten perlu mengambil nilai-nilai kejayaan yang pernah dirasakan oleh kesultanan banten melalui sektor lada, kemaritiman, dan juga sistem.

Kita perlu menguasai penuh selat sunda sebagaimana yang dilakukan oleh Kesultanan Banten.

Menurut Basar, 53.068 unit kapal melewati Selat Sunda maka artinya ini adalah peluang besar yang mana kita perlu menguasai penuh kemaritiman karena medan peraiaran yang sudah menjadi jati diri indonesia sejak dulu ini menjadi nilai spirit dalam menentukan titik tolak menggebrak suatu kejayaan indonesia.

Dan, Indonesia harus bisa mengembalikan rujukan negara-negara lain untuk melihat bahwa Indonesialah yang manjadi rujukan dari rempah-rempah yang ada tapi dengan penambahan nilai-nilai yang menyesuaikan kondisi yang relevan saat ini seperti apa.

Kemudian, sistem kerajaan mempunyai kelebihan-kelebihan diantaranya: Raja memegang kekuasaan tertinggi, Pengambilan kebijakan tidak berbelit belit, Rakyat tunduk pada kata Raja, Raja berkuasa membentuk Aturan, Hubungan Luar Negeri ditentukan oleh Raja.

Kejayaan akan terjadi bila mana telah memenuhi beberapa syarat, yaitu: Perang terhadap kemusyrikan, Takwa kepada Allah, ilmu, realisasi ibadah, kekokohan aqidah, akhlak kuat, iman, kesalehan personal, amal saleh.

Semua nya dapat di peroleh menggunakan sebuah alat dari konsepsi siyasah sariyah yang memakai landasan QS. An-Nur: 55.

Konsepsi tersebut bukan hanya berkaitan tentang nilai-nilai ibadah saja, tapi mengatur secara menyeluruh yang berkaitan tentang nilai-nilai kebaikan dan mencegah suatu keburukan melalui alat sebuah yang namanya kebijakan.

Dan, terkait sengketa antara Sultan Ageng Tirtayasa dan anaknya Sultan Haji adalah belum komprehensifnya terkait nilai-nilai yang dipegang sebagai landasan.

Nilai-nilai tersebut pada praktiknya masih tersendat dalam urusan atau komprehensif nilai-nilai di tataran keluarga yang ini justru malah terlalu jauh untuk melangkah kebeberapa poin seperti pemerintahan.

Hal yang perlu dievaluasi adalah tentang pendidikan karakter yang bisa di terapkan oleh masyarakat termasuk pemimpinnya itu sendiri yang mana rujukan pendidikan karakter itu sendiri ada tiga yaitu dari alquran, ulama, dan sejarah.

Maka, Indonesia kini bisa mewujudkan  kesejahteraan masyarakat melalui penerapan secara utuh nilai-nilai pancasila secara keseluruhan bukan hanya dipakai secara parsial untuk mencapai kemenangan dan menggebrak kejayaan.

Melihat dengan persfektif dari kejayaan kesultanan banten yang dipimpin oleh Sultan Ageung Tirtayasa dalam memegang prinsip nilai-nilai Islam yang hal itu dapat di elaborasikan terhadap nilai-nilai keutuhan pancasila.