Pembelajar
1 minggu lalu · 57 view · 4 min baca · Sejarah 50201_24860.jpg

Refleksi Kesejarahan untuk Indonesia

Mari berandai, mari kita menyoal aku. 

Begini maksudnya, perkara aku memang soal yang rumit, kadang tak kunjung ada jawab, sederhananya begitu. Dalam wacana filsafat dan bahkan agama pun, tuntutan untuk pencarian aku adalah niscaya.

Mengapa proses pencarian dianggap begitu penting? Sebab semuanya ada dan bergerak ke arah kesempurnaan, menuju paripurna. Dengan begitu, menyoal aku adalah tentang aku yang senantiasa ada dan bergerak ke arah kesempurnaan.

Berhenti memutlakan aku sebagai identitas (hal) yang paten berarti kita berhenti menemukan fase berikutnya untuk lantas ada dan bergerak ke arah kesempurnaan. Sementara bukankah semuanya ada dan terus bergerak ke arah kesempurnaan?

Sampai sini, dapat disimpulkan bahwa siapa aku adalah perkara yang tidak kunjung ada jawabnya. Dan karena itu, ia menuntut untuk proses pencarian terus-menerus, tanpa henti. Sebab jika berhenti (memutlakan aku), berarti terhentilah langkah kita untuk terus ada dan bergerak ke arah kesempurnaan. Ya?

Mari kita tarik soal di atas dengan merefleksikannya terhadap Indonesia. Begini, siapa aku? Orang Indonesia katakanlah. Tapi apa itu Indonesia? Bagaimana menjadi orang Indonesia?  

Sebagai pembelajar sejarah, saya diajar bahwa Indonesia adalah masyarakat yang unik, dalam artian masyarakat yang harmonis. Logikanya bukan asimilasi, tapi akulturasi, bahwa A+B=AB bukan C.

Apa yang ada di Indonesia, termasuk urusan budayanya, hubungan sosial dan ritus keagamaannya sebagai misal, membaur secara kreatif dengan kebudayaan yang sejatinya sudah ada di wilayah ini sebelumnya. Contohnya secara fisik bisa dilihat bagaimana struktur bangunan masjid.


Bukankah punden (atap) masjid yang berundak-undak itu bukan berasal dari logika Islam-Arab? Tiang penyangganya yang merupakan buah dari kreasi Romawi-Yunani, sejatinya bukan Islam-Arab, kan? Tapi sebagai kenyataan bahwa masjid itu tampak di mana-mana, dipakai ibadah pada Allah dan digunakan sebagai kegiatan saleh lainnya; misal pesantren kilat dan rupa kegiatan lainnya.

Tapi apa itu Indonesia? Dalam pikir saya yang lagi-lagi sebagai pembelajar sejarah, Indonesia adalah negara yang majemuk, plural suku bangsanya, ragam rupa keyakinannya, beraneka segala-galanya.

Oh.. tidak, saya tidak membicarakan itu pada konteks kekinian. Yang dibicarakan adalah konteks sejarah yang juga menemukan momentumnya di era kekinian.

Bukan tanpa sebab, kemajemukan masyarakat yang kita sebut belakangan Indonesia itu sebelumnya Hindia-Belanda, Nusantara dan penguasa (kerajaan/keraton) lokal, adalah buah akibat dari ke-strategisan wilayah yang mengundang minat para pedagang dunia bahkan jauh sebelum masehi. Ibu Sud merekam suasana itu dalam lagunya, “Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudera...”

Artinya, hubungan sosial nenek moyang kita yang dulu hidup di wilayah kepulauan ini sudah mendunia. Hubungan yang terjalin itu membuat para nenek moyang kita punya koneksi, sekaligus juga telah membaur dengan masyarakat dunia, menganggap dirinya sebagai warga dan bagian dari kewarganegaraan dunia, kosmopolitan sejati.

Makanya, boleh jadi, tatkala pengaruh kebudayaan terus berdatangan dari luar, alih-alih dicuek-bebekan toh malah kita serap secara kreatif, secara harmoni, tanpa kemudian “menyakiti” satu dengan yang lain.

Sebab jiwa masyarakat kepulauan ini memang terbuka, maka berpikir bahwa menutup keterbukaan itu sendiri (baca: sifat ekslusif) atas sesuatu, sejatinya juga adalah merupakan hal yang konyol, setidaknya jika kita bicara pada konteks sejarah ya.

Tapi bagaimana menjadi orang Indonesia? Jika bersama kita yakini bahwa Indonesia adalah negeri yang plural, majemuk. Maka mau tidak mau, ya kita mesti berhadapan secara gentle dengan kenyataan itu: ada Muslim, ada Buddhis, Hindu, Kristen, Batak, Papua, Jawa, Sunda, Aceh, Gorontalo, Maluku, Madura misalnya. Dan setiap dari semuanya itu memiliki kewatakan khas yang dimiliki, yang dibanggakan.

Sial, lagi-lagi kita mesti bicara dalam konteks sejarah. Pancasila, misalnya, adalah gambaran sempurna bagaimana menjadi orang Indonesia. Ia harmoni mirip-mirip Gamelan dalam tradisi unik Karawitan.

Bukankah keragaman dan perbedaan bentuk (alat) dalam seni Karawitan, tercipta keharmonisan nada-nada yang indah? Jika ada yang pating klontheng atau lupa kapan berhenti, kan ditertawakan penonton?

Lagi pula, bukankah Pancasila sebelumnya Piagam Jakarta yang sila pertamanya berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa itu merupakan kolaborasi apik dan kelapangan dada semua pihak untuk bisa menerima dan menghargai satu sama lain dalam perbedaan?


Tulisan ini, mohon maaf, bukan dalam koridor menggurui wawasan sejarah. Bukan sekali lagi. Titik beratnya justru berada pada siapa aku ini. Begini maksudnya:

Jika pengandaian siapa aku sebagaimana telah diurai pada bagian atas tulisan ini, merupakan pencarian yang tak kunjung usai. Berarti, ketika memastikan tok aku sebagai orang Indonesia, tanpa terus melakukan pencarian (pertanyaan) tentang ke-Indonesiaannya. (Ya misalnya tadi, bisa soal apa itu Indonesia atau bagaimana menjadi orang Indonesia). 

Maka, sesungguhnya kita mengamini untuk tidak menuju ke kesempurnaan. Sementara bukankah semuanya ada dan terus bergerak ke arah kesempurnaan?

Memutlakan aku sebagai tok orang Indonesia tanpa terus mencari apa-apa soal ke Indonesiaan, alih-alih kesempurnaan, justru ke-tidak-sempurnaan yang kita dapat.

Pasalnya, bagaimana bisa hidup damai, jika secara bersamaan kita tidak mampu menerima kenyataan bahwa negeri ini adalah negeri yang majemuk, plural segala-gala misalnya. Kan?

Tidak begitu susah rasanya menjumpai hal-hal ke-tidak-sempurnaan itu dewasa ini. Misalnya saja fenomena tekanan massa (mayoritas) mobocrazy yang menggunakan kekuatan satu identitas tertentu sebagai aksi tunggang-menunggangi kekuasaan politik praktis. Malahan, tidak dalam skala makro (Negara), bahkan sampai scope lingkungan kecil macam RT dan sekolah-sekolah.

Kekuatan politis, bagaimanapun adalah wewenang (wadah) otoritas yang diharapkan mampu memberikan kesejahteraan tanpa pandang mayoritas-minoritas. Saya begitu ngeri membayangkan, jikalau kekuatan itu justru didongkrak oleh kekuatan –emosi mayoritas semata.

Bagaimana dengan minoritas? Kita bukan bicara demokrasi –dalam artian kekuatan rakyat atau suara rakyat yang usang itu, di mana suara kebanyakan akan mudah terdengar, basi. Bukan itu.

Kita bicara soal jaminan hidup semua lapisan, semua warga yang hidup dalam payung Negara, dalam payung RT bahkan sekolah sekalipun. Ini soal jaminan hidup, pemerataan hidup, kesejahteraan hidup dan keadilan hidup semua.

Pada titik inilah perkara siapa aku menjadi amat penting. Paling tidak, sebagai tolakan menemukan fase berikutnya untuk lantas menuju ke kesempurnaan.~

Titik tolaknya. Siapa aku? Orang Indonesia misalnya. Fase pencarian (pertanyaan) berikutnya, apa itu Indonesia? Bagaimana menjadi orang Indonesia? Mengapa bisa ada Indonesia?  Bagaimana Indonesia ada? Bukankah Indonesia itu majemuk, ya? Dan segudang pencarian (pertanyaan) lainnya.

Begitu banyak tanya; banyak kebijaksanaan, banyak kearifan. Kadangkala; banyak tanya, banyak tahu, tahu-tahu sakit. Sungguh.

Artikel Terkait