Sudah hampir 2 tahun Indonesia terjangkit wabah virus Corona. Pemerintah selalu mengupayakan untuk penurunan penularan seperti lockdown, sekolah daring, perkantoran memberlakukan WFH, kegiatan keagamaan dikurangi, resepsi pernikahan dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bisa menciptakan keramaian guna membatasi adanya kerumunan untuk penekanan penularan. Di Idul Adha 2021 sekarang ada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat yang disebut dengan PPKM, padahal di Idul Adha lah melakukan pelaksanaan ibadah kurban  sebagai hari untuk memperingati peristiwa kurban yang telah dilaksanakan pada zaman Nabi Ibrahim A.S.

Kurban merupakan kisah keta’atan Nabi Ibrahim A.S kepada Allah SWT yaitu dengan menyembelihkan Nabi Ismail. Nabi Ismail adalah putra satu-satunya bagi Nabi Ibrahim A.S. Karena sebelumnya Nabi Ibrahim A.S yang tidak memiliki anak hingga beliau berdoa kepada Allah agar mendapatkan seorang anak yang saleh. Maka lahirlah seorang putra Nabi Ibrahim A.S yaitu Nabi Ismail A.S

Namun ketika Nabi Ismail beranjak remaja Nabi Ibrahim bermimpi harus menyembelihkan Ismail dan menyampaikan mimpi itu kepada putranya Ismail. Nabi Ismail menanggapi mimpi ayahnya dengan menjawab “lakukanlah ayah karena itu perintah Allah SWT”. Singkat cerita di sinilah awal pelaksanaan kurban walau Nabi Ismail tidak jadi disembelih karena Allah menggatikan dengan seekor domba jantan dari syurga.

Perintah untuk berkurban ini telah digariskan oleh Allah SWT dalam Alquran: “Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS Al-Kautsar (108) : 1-2).

Pelaksanaan Idul Adha di Aceh beda dengan daerah - daerah lain seperti Medan, Jawa, Jakarta dan sebagainya, di sinilah terletak istimewa nya Hari Raya Idul Adha di daerah yang dijuluki dengan Serambi Mekah ini yaitu dengan perayaan ibadah kurban serta memperhatikan larangan - larangan di hari tasyrik.

Hari Raya Idul Adha di Aceh merupakan suatu peringatan yang sangat sakral. Dimana hari tasyrik yaitu 10 sampai 13  Zulhijjah semua kegiatan perkantoran ditiadakan, dan akan diganti jam kerja di hari Sabtu berikutnya. Idul Adha tahun ini tidak ada pergantian jam kerja di hari tasyrik dikarenakan lebaran kedua tepatnya di 11 Zulhijjah aktifitas perkantoran dilakukan seperti biasa akibat instruksi PPKM.

Sudah kebiasaan setiap ummat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha dengan berkurban. Ada yang berkurban di kantor, di kampung tempat tinggal bahkan di kampung kelahiran. Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat PPKM untuk beberapa kota di Indonesia sesuai dengan surat edaran Mendagri diterapkan. Banda Aceh menjadi salah satu daerah yang wajib menerapkan PPKM mikro yang melarang kerumunan di atas 10 orang serta meniadakan kegiatan sosial masyarakat yang dapat menimbulkan kerumunan.

Jam malam selama PPKM berdasarkan edaran Mendagri hanya berbatas jam 17.00, untuk masyarakat Banda Aceh ditetapkan pukul 21.00 dan untuk jajanan makanan bawa pulang ke rumah dibolehkan sampai jam 22.00 WIB.

Zona merah dengan kriteria jika terdapat lebih lima rumah kasus konfirmasi positif dalam satu desa dalam 7 hari terakhir. Skenario pengendaliannya pemberlakuan PPKM Mikro tingkat desa, menemukan kasus suspek dan pelacakan kontak erat, isolasi mandiri atau terpusat dengan pengawasan ketat.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat PPKM di berlakukan akibat Covid varian baru yang melonjak drastis. Varian ini  dikenal dengan sebutan Varian Delta sangat menular dan merupakan varian paling menular di dunia saat ini. Studi dari China baru – baru ini menemukan  bahwa orang yang terinfeksi Delta memiliki sekitar 1.000 kali lebih banyak salinan virus pada saluran pernafasan dengan penularan lebih cepat. Varian Delta masih bisa tertular walaupun sudah diVaksin, namun Vaksin masih efektif untuk melawan varian delta.

Bagi yang sudah vaksin tidak perlu panik karena varian Delta ini secara dramatis akan mengurangi resiko penyakit serius yang menyebabkan kematian. Resiko sakit bagi yang sudah di Vaksin sangat rendah saat mendapat kasus yang bergejala,  kemungkinan masih berakhir dengan gejala Long Covid. Hal ini seperti yang disampaikan oleh ahli virologi Angela Rasmussen yang bekerja di Vaccine and Infectious Disease Organization, Universitas Saskatchewan di Kanada.

Suara takbir kurang menggema, takbir keliling ditiadakan, pelaksanaan solat A’id dibatasi dengan tujuan penekanan penularan COVID-19. Tetapi di luar sana juga tidak jarang orang – orang keluar nongkrong di cafe – cafe, tempat wisata walaupun surat edaran dari pemerintah sudah dikeluarkan.

Bagi masyarakat yang pelaksanaan ibadah kurban di luar kota atau di kampung kelahiran seperti perantau tertutup kemungkinan pelaksanaannya tidak bisa disaksikan  dikarenakan bagi yang keluar kota dan sebaliknya wajib menyertakan sertifikat vaksin dan surat hasil  swab PCR. Namun untuk pelaksanaan ibadah kurban dalam kota Banda Aceh tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat dengan menghindari keramaian dan kerumunan, dan bagi panitia dan pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kurban diwajibkan bebas COVID-19. Besar harapan semoga wabah ini cepat berlalu sehingga semua kegiatan bisa dilaksanakan maksimal seperti sebelum adanya COVID-19.

Banda Aceh memang terasa beda dari tempat lain nya, kita beribadah salat Ied Adha sama seperti waktu sebelumnya, karena partisipasi segenap ulama dan guru-guru di sini tetap mengingatkan warga yang ke masjid, khususnya masjid Baiturrahman ini harus mengikuti protokol kesehatan, dan warga mematuhinya, jadi pelaksanaan ibadah solat Hari raya Idul Adha terasa khusyuk.

Besar harapan pandemi ini segera berakhir. Aktifitas bisa dilaksanakan sebagai mestinya seperti sekolah tatap muka, kegiatan – kegiatan sosial dan keagamaan bisa berjalan sebagaimana mestinya. Perekonomian masyarakat akan kembali pulih kearah yang lebih baik.