3 tahun lalu · 208 view · 3 min baca menit baca · Lainnya valentine_dalam_islam.jpg

Refleksi Hari Valentine

Tidak sengaja mendengarkan ulasan berita di salah satu stasiun televisi baru-baru ini, yang mana pemkot Bandung melalui Pak Walikota dengan tegas melarang anak-anak muda dan masyarakatnya ikut dalam perayaan hari valentine, disusul pula oleh kota Surabaya yang melakukan hal yang sama.

Setiap datang bulan Februari, mulai banyak aktivitas bertemakan kasih sayang, baik di mall, di sosial media, di kelab malem, hotel, majalah cetak juga online atau pun televisi yang banyak ditonton juga turut dicekoki dengan iklan Valentine's Day.

Semua seolah berlomba dan membesarkan suatu perayaan hari kasih sayang atau yang lebih tenar diistilahkan dengan Valentine's Day. Yang sebenarnya bukan budaya asli negera ini, apalagi agama Islam.

Terdapat kekeliruan cara pandang pada perayaan valentine oleh segelintir orang, terutama kalangan muda mudi. Karena terkadang cara menginterpretasikan perayaan tersebut sebagai momentum untuk menunjukkan kasih sayang melalui hal-hal negatif.

Momentum ini sangat disukai remaja, terutama remaja perkotaan. Setiap 14 Februari, mereka terbiasa merayakannya bersama orang-orang yang dicintai atau disayanginya, terutama kekasih.

Tidak sedikit remaja yang tidak mengetahui sejarah hari valentine ini. Parahnya, banyak yang cuma ikut-ikutan tren biar dibilang gaul, sampai merayakan hari tersebut yang sebenarnya tidaklah pantas untuk dirayakan.

Dalam hal ini, banyak yang saling meluapkan kasih sayang dengan pasangan, bertukar kado dan hadiah, baik itu cokelat, souvenir atau  lainnya, namun pada intinya mereka tidak mengetahui kalau yang dilakukan sudah bersebarangan dengan ajaran Islam.

Perayaan hari valentine adalah bentuk manipulasi yang diciptakan untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Dan juga bisa jadi untuk kepentingan bisnis.

Kalaupun hari valentine masih dibesar-besarkan sampai saat ini dan ada kesan semakin meriah perayaan itu, tidak lain dari upaya para pengusaha yang bergerak di bidang provider, pengusaha bunga, pengusaha kelab malam, pengusaha hotel, pengusaha televisi, dan sejumlah pengusaha lain yang ingin meraup keuntungan besar.

Dengan sengaja, melalui promosi dan marketingnya, mereka menggema-gemakan hari valentine sebagai hari khusus yang sangat spesial bagi orang yang dikasihi, agar dagangan mereka laku dan mendapat keuntungan yang sangat besar.

Inilah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai industrialisasi agama, di mana perayaan agama oleh kapitalis dibelokkan menjadi perayaan bisnis.

Ironis sekarang harus mengetahui para remaja muslim terkontaminasi dan mengikuti perayaan hari valentine yang dibungkus rapi juga disamarkan dengan nama hari kasih sayang. Tapi tidak sedikit juga mereka yang benar-benar tidak tahu. 

Ada juga yang tahu namun menutup telinga juga mata seolah tidak tahu. Tidak sedkit pula yang dengan sengaja mengada-ada alibi pembenaran untuk mengikuti tradisi ini.

Sudah sepantasnya kita yang memahami dan mengerti agar mengingatkan dan ikut berperan aktif guna meluruskan pemahaman para remaja atau pun orang yang sudah terkontaminasi. Kita mulai dari lingkup rumah, sekolah, kampus, bahkan sampai ke pimpinan kota atau provinsi. Juga, bukan tidak mungkin, ke pemimpin negara.   

Karena ada tiga generasi yang menjadi fenomena saat ini. Pertama, generasi mindset yaitu generasi yang pikiran dan alam bawah sadarnya sudah disetir oleh media besar. Kedua, generasi mindless yaitu generasi yang tidak punya pikiran dan ini jauh lebih parah.

Ketiga, generasi yang mind power yaitu generasi yang melakukan sesuatu dengan dasar pengetahuan serta menyadari bahwa semua perbuatan ada konsekuensi dan tanggung jawabnya, baik di dunia maupun akhirat.

Maka bukankah sudah sepatutnya kita umat muslim berpikir, tidak sepantasnya ikut merayakan hari tersebut setelah dengan jelas dan nyata bahwa hari valentine adalah kebiasaan non muslim, bahkan bermula pada ritual paganisme.

Ini bukan hanya tentang budaya atau adat istiadat, tetapi ini tentang aqidah yang mana sebagai muslim diharamkan untuk merayakan ritual agama lain, bahkan untuk sekedar memberi ucapan selamat.

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari neraka” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Dengan kata lian dalil ini cukup dijadikan alasan tidak di benarkan apapun bentuk perayaanya, juga bagaimanapun alasan mengikutinya. Dan kita cukup renungkan firman Allah SWT : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (surat Al-Isra :36)

Hingga akhirnya perlu sikap bijaksana dalam situasi ini dengan pemahaman yang lagi di dasarkan pada firman Allah dalam surat Al-Kafirun :

Katakanlah: hai orang-orang non muslim, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.

Sebagai seorang muslim kita tanyakan kembali pada diri kita, apakah kita akan mencontoh begitu saja sesuatu yang jelas bukan besumber dari agama kita, islam. Dan seyogyanya kita belajar untuk memahami dan menjalankan ajaran-ajaran Islam yang baik.

Sekali pun itu sulit tapi harus kita maksimalkan. Dan jadilah generasi bangsa yang mempunyai Jatidiri dan Pendirian. Tidak hanya bertepuk ikut ramai berbaris ikut panjang (pengikut) dan juga supaya generasi-generasi Islam itu dan seharusnya menjadi generasi yang mind power.

Artikel Terkait