Pengantar

Sejak lahir, tentu kita sudah diajarkan mengenai bahasa oleh orang tua kita. Pertama-tama bahasa yang digunakan ialah simbol yang berupa gerakan tangan. Namun dengan seiring bertamhanya usia, maka kita diajarkan menggunakan suara, a, i, u, e, o, papa, mama, maem, begitulah hal pertama yang diajarkan kepada kita.

Seiring bertambhanya usia, maka diajarkanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan hanya oleh orang tua saja, melainkan juga oleh dunia pendidikan di Indonesia dengan adanya pelajaran Bahasa Indonesia. Tentu hal ini harus dilakukan sebab kita tinggal di negara Indonesia, maka sepatutnyalah kita juga bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sebagai orang Indonesia, maka sepatutnyalah kita harus menjujung tinggi bangsa Indonesia khususnya dalam kaitan ini ialah berbahasa Indonesia. Hal ini harus disadari oleh semua orang yang mana Bahasa Indonesia ialah bahasa persatuan, bahasa ibu, bahasa yang sudah melekat dalam diri kita. Hal ini selaras dengan semangat perjuangan para pemuda Indonesia dalam Sumpah Pemuda tahun 1928 yang berbunyi salah satunya “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indoensia”. Nilai inilah yang seharusnya kita hidupi setiap harinya dengan menggunakan bahasa Inonesia yang baik dan benar.

Namun tidak bisa dipungkiri akhir-akhir ini sedang trend ‘Korean wave’ dalam bahasa Indonesia berarti gelombang Korea di kalangan remaja. Hal ini diakibatkan oleh perkembangan zaman yang semakin pesat dan juga pengaruh teknologi yang dapat diakses oleh semua orang. Sehingga berbagai informasi, budaya, fashion, bahasa Korea Selatan dapat di akses dengan mudah.

Fenomena ini terus merajalela di kalangan remaja, baik itu laki-laki maupun perempuan. Fenomena ini akhirnya menimbulkan fenomena fanatisme terhadap Korean Wave, termasuk dalam penggunaan bahasa Korea. Hal ini juga tak bisa dilepaskan dari adanya drama Korea yang sudah banyak masuk di Indonesia, sehingga banyak dari kalangan remaja yang ingin memperdalam bahasan Korea dan juga dalam percakapan sehari-hari pun mereka lebih membanggakan berbahasa Korea dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Fenomena Penggunaan Bahasa Korea Oleh Remaja

Demam Korea melanda masyarakat Indonesia, stasiun televisi yang ada di Indonesia bersaing untuk menayangkan berbagai macam acara televisi yang ada di Korea, seperti drama Korea, film Korea, musik Korea bahkan acara masak atau kuliner yang berhubungan dengan Korea. Ini membuktikan betapa besar antusias masayarakat Indoensia dengan hal-hal yang berbau Korea. Negara Korea sendiri juga gencar memproduksikan produk-produk merka melalui industi iklan dan bertujuan agar produk-produk mereka tawarkan dapat diterima masyarakat di Indonesia yang sedikit banyak sudah terpapar cara dan gaya kehidupan mereka melalui tontonan drama, film maupun musik Korea.

Gelombang Korea atau Korean wave membawa pengaruh terhadap gaya hidup di Indonesia. Aliran musik masyarakat Indonesia berganti menjadi aliran musik Korea dengan ciri khas boyband dan girlband, bahkan musik dangdut yang merupakan musik asli Indonesia menjadi korban atas ‘berkuasanya’ musik Korea dan apabila boyband maupun girlband Korea mengadakan konser di Indonesia, para fans pun yang mayoritasnya ialah kalangan remaja akan ramai berdatangan dan sangat histeris dapat bertemu dengan idola mereka.

Dengan maraknya ke-Korea’an yang masuk di Indonesia menjadi sebuah ukuran bagi para penggemarnya yang mayoritas ialah remaja yang tidak hanya dalam gaya keseharian misalnya busana ataupun riasan wajah, selain itu cara berbicara remaja-remaja yang banyak menirukan istilah atau bahasa-bahasa Korea yang biasa mereka dengar melalui drama, film, musik Korea yang bagi mereka sangat fasih sekali untuk diungkapkan sehingga mereka menjadi terbiasa dengan kata-kata Korea.

Seperti yang dilansir Hitstats.com yang terbit pada 6 Mei 2020 bahwa kalangan remaja sering mengucapkan istilah-istilah Korea seperti, annyong haseyo, oppa, sarang hae, hwaiting, kamsahamnida dan masih banyak lagi. Kalangan remaja pun dengan bangganya mengucapkannya dalam percakapan antar sesama remaja entah itu percakapan langsung maupun melalui media sosial.

Dengan masuknya ke-Korea’an di Indonesia, kalangan remaja pun terlalu membanggakan hal-hal yang berbau Korea terutama dalam hal bahasa. Secara tidak langsung mereka membanggakan bahasa Korea, hal ini terbukti dengan mereka terlalu sering mengucapkan istilah-istilah Korea. Hal inilah yang sebenarnya keliru, seharusnya mereka menjujung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Teori Analisa

Untuk melihat feenomena ini, penulis akan menggunakan beberapa teori yang dapat digunakan untuk mengenalisis fenomena ini. Teori-teori ini merupakan gabungan dari pendekatan antropologi dan juga filsafat bahasa. Aadapun teori tersebut seperti ini.

Hakikat Bahasa

Apabila seorang asing berbicara menggunakan bahasa yang bukan miliknya, pertama-tama akan terdengar aneh bahkan menjadi hal yang rumit di telinga kita. Namun dengan terbiasanya mendengar bahasa tersebut, maka kita akan terlatih dengan bunyinya, pelafalannya.

Dari paragraf di atas, maka manusia tidak bisa dipisahkan dari bahasa. Maka suungguh layak dan sepantasanya, manusia sejak kecil sudah diperkenalkan bahasa. Maka dari itulah bahasa dapat diartikan oleh beberapa tokoh namun maksudnya sama.

Pertama oleh Harimurti. Menurut tokoh ini, bahasa diartikan sebagai sistem lambang yang digunakan masayarakat untuk saling berinteraksi dan mengaktualisasi diri. Hal in sudah sangat jelas bahwa fungsi utama dari bahasa ialah untuk sarana interaksi dengan sesama manusia.

Lantas tokoh barat, Bloch dan Trager juga mendefinisikan tentang bahasa. Bagi dua tokoh ini bahasa sebagai simbol untuk saling berinteraksi.

Terakhir, tokoh Benjamin Lee Whorf (1952) menyebutkan demikian:

“...Setiap bahasa adalah...berbeda dari yang lain..[Budaya menentukan] bentuk-bentuk dan kategori yang dengannya seseorang...berkomunikasi...menganalisis sifat, mengetahui atau mengabaikan jenis-jenis hubungan dan fenomena, mengaitkan penalarannya, dan membangun rumah kesadarannya. Setiap bahasa melakukan penamaan artifisial terhadap [realita] dengan cara berbeda”

Dari tokoh-tokoh tersebut, didapatkan suatu pemahaman secara umum dari bahasa yaitu simbol. Dalam hal ini berarti simbol tersebut ialah vokal yang digunkanan untuk berkomunikasi. Tentu, alam semesta ini memiliki bahasa yang di tiap-tiap daerahnya memiliki keunikan dan kekhasannya masing-masing. Hal ini dapat terjadi karena adanya klasifikasi berdasarkan rumpun serta keluarga dari bahasa itu sendiri

Fungsi Bahasa

Bahasa memiliki fungsi yang sangat vital sekali. Seperti yang sudah diajabarkan di atas bahwa bahasa sebagai sarana komunikasi dan hal ini lah yang menjadi fungsi utama dari bahasa. Semua orang tentunya terlibat dalam komunikasi seperti percakapan, maka akan timbullah persamaan persepsi tapi belum tentu bisa sama maknanya. Dengan kata lain bahwa orang yang mengerti bahasanya belum tentu mengerti maknanya.

Kebudayaan dan bahasa tidak bisa dilepaskan pula, karena dua hal ini saling berkaitan. Bahasa bukan hanya memberikan kepada manusia warisan biologis saja, melainkan juga warisan kebudayaan. Namun, bahasa juga merupakan bagian dari kebudayaan tersebut. Karena sifat bahasa yang dapat membuka ciri-ciri suatu kelompok masyarakat.

Bahasa memiliki kedudukan yang amat penting dalam suatu daerah. Walaupun di Indonesia sendiri memiliki keaneragaman bahasa, namun bahasa Indonesia merangkul smeua bahasa tersebut, sehingga bahasa Indonesia disebut bahasa persatuan seperti yang ada di Sumpah Pemnuda.

Oleh sebab itu, Levi Strauss, soerang filsuf menegaskan bahwa bahasa suatu daerah ialah hasil refleksi dari seluruh kebudayaan tersebut. Selain itu penggunaan istilah atau tata bahasa dalam suatu suatu masyarakat merupakan gambaran dari adanya struktur. Tata bahasa tidak sekedar mengandung makna etimologis, namun juga psikologis dan sosiologis, sebab bahasa ialah gambaran dari masyarakat penuturnya.

Analisis

Di jaman yang semakin modern ini, berbagai macam budaya asing masuk ke Indonesia, salah satunya dipengaruhi oleh adanya remaja zaman sekarang, seperti dalam kasus ini ialah fenomena remaja Indonesia yang dalam kehidupan sehari-hari menacmpurkan bahasa Korea dalam percakapan sehari-hari.

Pencampuran bahasa Korea dalam percakapan sehari-hari terjadi karena para remaja saat ini sangat terepngaruhi oleh budaya Korea yang telah ‘merasuki’ mereka. Bagi anggapan mereka, pencampuran bahasa Korea dengan bahasa Indoensia dalam percakapan sehari-hari, malah dianggap lebih gaul dan up to date terhadap hal-hal yang baru.

Pencampuran bahasa Korea dalam percakapan sehari-hari membuat si penuturnya akan terkesan gaul karena terlihat keren. Fenomena ini juga sama halnya dengan fenomena keminggris. Anggapan seperti ini bagi remaja menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang terpinggirkan dan budaya bangsa Indoensia menjadi budaya yang kurang up to date.

Jika dilihat dari teori di atas, bahwa bahasa digunakan untuk sarana komunikasi antar sesama manusia supaya dalam penyampaian suatu pesan dapat tersampaikan dengan baik dan juga makna dari pesan tersebut dapat dimengerti dan dipahami oleh semua orang.

Namun dalam fenomena seperti ini, menjadi suatu hal yang menghambat penyampaian pesan yang seungguhnya. Malahan terkesan menunjukkan kesombongan bahwa sudah bisa berbahasa Korea dan mencampurkannya dengan bahasa Indoensia dalam percakapan sehari-hari dan bukan itu saja, malahan juga menujunjung tinggi budaya bahasa yang baru.

Dalam teori di atas, dengan jelas bahwa Straus dengan tegas menekankan bahwa bahasa ialah hasil refleksi dari keseluruhan budaya. Jika dibandingkan dengan fenomena pencampuran bahasa Korea ini menunjukkan bahwa para remaja kurang menyadari bahwa membangga-banggakan budaya lain berarti sama saja melupakan budaya sendiri dan mereka kurang memaknai budaya Indonesia. Seharusnya dnegan budaya yang ada, mereka bangga dengan budaya sendiri dalam kaitan ini ialah berbahas, berarti menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang baik dan benar.

Juga ditekankan bahwa tata bahasa menjadi gambaran si penuturnya. Penekanan ini sudah sangat jelas sekali bahwa mereka sangat mengikuti arus yang sedang viral saat ini. Gambaran inilah yang bagi penulis sangat menurunkan cerminan bangga terhadap budaya bahasa kita. Pencampuran bahasa ini sebenarnya telah merusak identitas budaya bangsa Indonesia khususnya dalam berbahasa.

 Tetapi, ada riset yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu antara mudah dan susah. Hal ini disebabkan oleh karena masyarakat khususnya remaja jaman sekarang terkesan malas untuk mendalami bahasa Indonesia.

Kesimpulan

Setelah memperdalam ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa setiap orang baik itu anak-anak, remaja hingga orang dewasa boleh-boleh saja menggunakan suatu budaya, namun dilihat lagi budaya tersebut apakah kedepannya akan memperburuk budaya sendiri atau tidak.

Dengan melihat fenomena tersebut, penulis sangat menyayangkan dengan adanya percampuran bahasa dalam percakapan keseharian. Hal ini tentu akan mengurangi semangat berbudaya akan Indonesia yang mana budaya Indonesia sangat banyak sekali. Bisa dikatakan bahwa remaja saat ini terus tergerus budaya luar hingga mereka sangat fanatik dengan budaya luar, hal ini tak bisa dilepaskan dengan adanya globalisisai yang membuat teknologi informasi semakin pesat.

Penutup

Fenomena ini membuka mata hati penulis bahwa walaupun ada budaya luar yang masuk, alangkah baiknya harus dipilah secara selektif sehingga bahasa Indoensia sebagai bahasa persatuan tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan degnan demikian maka identitas negara Indonesia akan diingat selalu.