Relasi antara manusia, alam dan Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan bagian kosmos yang amat besar dan saling bersinergi. Penulis merasa tertarik untuk memperdalam mendalami relasi ini, sebab bagi penulis keharmonisan yang terjadi diantara ketiganya selalu ada dan hadir dalam realitas kehidupan ini yang mana manusia adalah bagian kecil dari alam sesmesta ini dan hidup berdampingan dengan alam sesmesta serta dapat menguasainya sebab manusia mempunyai akal budi yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sang Pengada Utama yaitu Tuhan.

Relasi manusia, alam dan Tuhan akan menegaskan bahwa dalam dunia ini tidak hanya manusia saja, melainkan juga ada makhluk hidup lainnya dan alam raya lainnya. Dengan begitu, dapat disadari bahwa membangun suatu relasi yang harmonis amat penting. Relasi ini juga digambarkan dalam Kitab Suci pada kisah penciptaan yang mana Sang Pengada mencipatakan segala yang ada di muka bumi ini, termasuk manusia. Maka ditegaskan bahwa manusia sudah memiliki suatu ikatan dengan alam dan Tuhan dan hingga kini, hubungan tersebut masih terjalin.

Kemampuan manusia untuk menguasai dan mengelola alam ini adalah terjemahan manusia atas wahyu Tuhan sebagai bentuk keselarasan dan sikap keharmonisan. Namun sering kali manusia tidak mampu menerjemahkan wahyu Tuhan tersebut dengan utuh, akibatnya manusia bersikap seenaknya sendiri dalam menguasai alam ini. Hal ini manusia menjadi pribadi yang serakah dan tidak mempedulikan jangka panjangnya.

Namun sayangnya, relasi antara manusia, alam dan Tuhan kini semakin berkurang seiring dengan manusia yang tidak mempedulikan lagi terhadap lingkungan sekitar dan berbuntut panjang dan mempengaruhi kerusakan ekosistem yang ada. Sebagai contoh, pada November 2020 lalu terjadi pembukaan lahan hutan di Papua yang dilakukan oleh perusahaan raksasa asal Korea Selatan. Perusahaan tersebut membuka lahan hutan di Papua untuk kepentingan perkebunan kelapa sawit dan perusahaan tersebut membuka lahan hutan dengan cara pembakaran massal. 

Perusahaan tersebut mulai melakukan aksinya sejak 2001 dan perusahaan tersebut telah menghancurkan hutan seluas 57.000 hektare atau hampir seluas Seoul, Ibu Kota Korea Selatan. Hasil itu berkat usaha investigasi bersama Greenpeace International dengan Forensic Architecture. Investigasi bersama ini menggunakan citra satelit NASA untuk mengidentifikasi sumber panas dari kebakaran lahan yang berpusat di Merauke, Papua. Bukan hanya itu saja, tim gabungan ini menggunakan data yang telah terkumpul dari rekaman video survei udara. Dari hasil investigasi tersebut, tim menyimpulkan bahwa pembukaan hutan ibni menggunakan api. Sementara itu dalam komentarnya atas fenomena ini, Wakil Ketua Komisi IV DPR, Hasan Aminudin menegaskan bahwa kejadian ini sungguh menginjak-njak harga diri bangsa dan sumber daya alam Indonesia.

Namun dari sisi perusahaan tersebut (KorIndo Group) membantah adanya pembakaran hutan yang dilakukan oleh pihaknya. Pihaknya mengklarifikasi apa yang terjadi saat ini yang diwakili oleh Yulian Mohammad, Public Relations Manager of KorIndo Group. Pihaknya menegaskan bahwa KorIndo ialah perusahaan yang telah beridiri sejak lama dan berkonsen untuk membantu perkembangan dan kemajuan masyarakat Papua, maka tidak mungkin apabila KorIndo berbuat seperti itu. Dari data-data sebelumnya yang telah dimiliki oleh KorIndo Group menyebutkan bahwa mereka telah memiliki izin dari Direktorat Jenderal penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementrian Lingkungan Hidup untuk pelepasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Masyarakat Papua sangat menyayangkan dengan segala macam bentuk penggundulan hutan dengan alasan apapun. Bagi masyarakat Papua, hutan bukan hanya untuk sumber kehidupan saja, melainkan sebagai tempat tinggal nenek moyangnya. Oleh sebab itu, mereka harus melestaerikan hutan dan isinya. Nenek moyang memberikan amanat supaya manusia dapat melestarikan hutan dan kekayaan alam lainnya yang diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma sehingga anak, cucu dapat merasakan keagungan Tuhan yang amat dahsyat.

Manusia

Manusia adalah milik alam dan juga bagian kecil dari alam semesta ini. Manusia menyadari dirinya sebagai substansi yang merupakan anggota dalam keutuhan dunia ini. Manusia manyadari diri sebagai sebuah substansi yang adalah anggota dari keutuhan alam ini. Kepastian itu diperoleh karena hubungan dengan substansi-substansi kosmis lainnya. Sehingga manusia dan semuanya yang ada di alam ini dapat bekerjasama. Bisa juga disebut untuk bersinergi. Dalam KBBI bersinergi berarti melakukan kegiatan atau operasi gabungan. Yang mana dalam keterkaitan ini saling bahu-membahu dalam mengelola alam ini.

Pada dasarnya, dalam diri manusia terdapat dimensi material dan juga immaterial karena manusia memiliki akal budi dan juga jiwa yang mana ini diberikan oleh Sang Pencipta. Akal budi oleh manusia digunakan untuk dapat mengenali dirinya sendiri atau kesadaran diri. Kesadaran diri manusia membantu manusia untuk semakin sadar bahwa ia hidup dalam realitas dunia ini dan mengaktualisasikan segala potensi yang ia miliki. Maka, manusia mempunyai cara menjadi dan bertindak dan menguasia alam ini dari pada makhluk hidup lainnya.

Kesadaran diri bahwa dirinya ialah manusia, membuat manusia berpikir bahwa dirinya memiliki keunikan tersendiri dengan pemahaman atas dasar cinta, manusia terdorong untuk mengembangkan intelektual yang ada. Dengan begitu, manusia selalu memperbaharui kekreativitasannya, gagasannya, permenungan dan suatu pandangan terhadap alam semsesta ini.

Realitas diri manusia menitikberatkan pada dua dimnensi yaitu dimensi material dan dimensi spiritual. Dua karakter ini berjalan bersamaan. Sebab, dalam hidupnya manusia ialah manusia bukan hewan yang mana manusia memiliki akal budi, ciri fisik, biologis, psikis yang khas dan unik. Sedangkan dalam diri manusia secara bersamaan membawa dimensi spiritual. Dimensi spiritual ini diwujudkan bersamaan dengan ciri dimensi material guna dapat mengkontemplasikan realitas kehidupan ini.

Walaupun manusia memiliki dimensi material dan spiritual, namun hubungan dimensi ini memiliki 4 masalah utama yaitu mengenai ontologis, epistemologis, metafisika dan eksistensial. Masalah epistemologis mengacu pada hasil observasi dari berbagai macam manifestasi dimensi spiritual. Yang kedua ialah masalah ontologis, masalah ini menitikberatkan pada karakterisasi cara menjadi yang khas dari dimensi spiritual. Yang ketiga ialah masalah metafisika, masalah ini menitikberatkan pada kebutuhabn untuk mengakui tindakan yang berbeda dan maslaah yang terkahir ialah masalah eksistensial, masalah ini menitikberatkan kelangsungkan kehidupan manusia setelah kematian.

Alam

Alam semesta ini sangatlah luas yang mana dapat dipelajari atau diteliti dari sudut pandang manapun. Alam semesta ini merupakan kesatuan antara zat dan energi yang bersinergi dalam membentuk tatanan permukaan bumi ini. Jika dilihat lebih dalam lagi, alam ini menjadi tempat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya namun bukan hanyaitu saja, fenomena-fenomena alam juga tak bisa dilepaskan dari alam ini.

Dinamika alam semesta ini yang sungguh amat luas, menjadikan manusia yang memiliki akal budi lebih mensyukuri atas alam ini yang telah diciptakan oleh Sang Pengada Utama yaitu Tuhan. Rasa syukur itu diwujud nyatakan oleh manusia dengan cara rasa kekaguman manusia terhadap alam semesta ini.

Pemahaman manusia mengenai alam didasari atas kekaguman sehingga alam itu membentuk suatu sistem yang sangat besar dan dahsyat yang mana berisikan berbagai macam jenis bentuk dan tingkatan suatu organisasi yang mana saling terkait dalam satu jalinan relasi multi kompleks. Oleh sebab itu, keteraturan itu ada dan berusaha memahaminya secara lebih rinci. Dalam tatanan alam ada tingkatan suksesif dari segi kompleksitasnya: Struktur (segala yang natural mempunyai bentuk keteraturan spasial temporal termasuk apa yang nampaknya tak teratur), pola-pola (merujuk pada struktur spaisal atau temporal yang snenatiasa terjadi berulang-ulang atau memiliki ritmenya di alam), oragnisasi (di alam ada juga organisasi yang bisa terjadi adanya banyak kompenen yang saling bekerja sama untuk terus mengusahakan hidup mereka).

Tuhan

Berangkat dari kekaguman manusia terhadap alam semesta, manusia menciptakan ilmu pengetahuan yang kemudian dieksperimenkan dan dari situ manusia mencoba menyingkap berbagai macam kekaguman terhadap alam semesta ini yang telah Tuhan berikaan kepada manusia. Kekaguman manusia terhadap alam ini memiliki ciri-ciri pokok yaitu: dinamisme serta struktur fungsional dan organisasionalnya. Ciri-ciri ini menandakan bahwa alam ini berisfat inteligiblitas yang mana memiliki arah dan tujuan, prioritas dan berbagai macam lainnya.

Rasa kekaguman, kemudian muncullah pertanyaan-pertanyaan dari manusia mengenai alam ini: "Siapakah yang menciptakan alam ini? Bagaiamana semuanya ini bisa terjadi? Apakah Tuhan benar-benar menciptakan ini semuanya?" Pertanyaan-pertanyaan inilah yang bisa jadi bagi manusia snagat mebingungkan. Namun oleh Schleiermacher akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Baginya, Tuhan dapat disebut dengan Sang Universum. Sebab kalau kita mencari keberadaan Tuhan jangan hanya menggunakan akal budi dan metafisika semata saja, melainkan juga dapat ditangkap mengenai kehadirannya yaitu melalui kontemplasi. Supaya semakin kuat relasi manusia, alam dan Tuhan.  Sehingga, maksud Tuhan Allah menciptakan manusia ialah supaya manusia dapat hidup bersama dengan alam untuk dapat mencapai kesempurnaan dan keharmonisan dalam kehidupan.

Scleiermacher menggambarkan bahwa alam adalah Tuhan yang hadir dalam kehidupan manusia, maka ia menegaskan seharusnya manusia memandang alam sebagai manifestasi kehadiran Tuhan dan bukan sebagai objek eksploitasi saja karena ketidaksempurnaan manusia. Kesempurnaan itu dapat tercapai apabila eksistensi manusia melengkapi eksitensi alam, sehingga manusia dan alam bisa menyempurnakan dan bukan malahan manusa menindas atau mengeksploitasi alam. Sehingga akal budi dan metafisika dapat digunakan unuk merefleksikan realitas alam dan dapat melihat kehadiran Tuhan melalui alam semesta yang amat luas dan lestari ini.

Sebuah Analisa

Sebagaimana yang telah dijelaskan dan dibahas pada teori di atas bahwa manusia ialah bagian kecil dari alam semesta ini dan memiliki dimensi material dan dimensi spiritual. Manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui dan mendominasi alam semesta ini. Dengan akal budi yang ia miliki, manusia merenungkan bahwa dirinya ialah makhluk ciptaan Allah yang sempurna dan memandang alam semesta ini sebagai bentuk kehadiran Tuhan dalam kehidupan mereka.

Menurut pandangan Plotinos, Dunia dan manusia merupakan emanasi dari Jiwa dari Yang-Satu dan Dunia bersatu karena memiliki Jiwa Dunia sebagai emanasi Jiwa. Dunia dan manusia memang berbeda, namun keduanya tercipta dari Yang-Satu. Menurut Kosmologi Buddhisme dunia dan manusia bersatu berdasarkan ‘kekosongan’ (sunyata). Lantas menurut Spinoza, manusia dan dunia kelihatan sebagai substansi-substansi, tetapi hanya ada satu Substansi saja, Tuhan. Manusia dan dunia merupakan modifikasi dari atribut-atribut Ilahi dan semuanya bersatu dalam substansi Ilahi sendiri. Sedangkan menurut Nicolai Hartmann, dunia dan manusia merupakan kenyataan yang real yang ada di dalam diri sendiri. Alam dan manusia meliputi empat taraf, yaitu materi, hidup, kesadaran dan roh.

Dari beberapa tokoh yang penulis tulis dalam analisa ini menunjukkan bahwa keserasian antara manusia dengan alam ialah sebagai bentuk permenungan manusia dalam menyadari bahwa manusia bagian dari alam ini. Penulis menangkap bahwa manusia memiliki kemampuan akal budi yang hanya dimniliki oleh manusia itu sendiri dan dengan rasionalitasnya manusia mampu menguasai dan mengelola alam ini. Namun sedikit berbeda dengan pandangan yang mengatakan bahwa manusia mampu menyadari keberadaan Tuhan dengan berkontemplasi dan eksistensi manusia tidak berdiri sendiri, eksistensi manusia dilengkapi oleh eksistensi alam.

Maka konsepsi kehadiran Tuhan tidak bisa dihilangkan oleh apapun dan siapapun. Sebab Tuhan ialah Sang Pengada Utama yang mana manusia ialah wujud dari eksistensi Tuhan. Selain itu, penulis menggambarkan bahwa Tuhan ialah Tuan yang mempunyai segalanya sedangkan manusia adalah hamba-Nya yang taat yang mana Tuhan memberikan amanah agar manusia menjaga dan melestarikan alam ini. Bukan tanpa sebab, manusia sering kali tidak memperhatikan keseimbangan dan kelestarian alam ini lagi, manusia seakan sudah lupa dengan amanah yang Tuhan berikan. Pengeksploitasian hutan terjadi di mana-mana dan pembukaan hutan dengan cara pembakaran hutan semakin memperparah alam ini.

Di sini penulis menyadari bahwa terdapat kesalahan oleh manusia dalam menyadari alam semesta ini. Kebanyakan manusia berlagak seperti bos yang seenaknya sendiri, maka manusia ialah subjek dan alam ini ialah objek. Dari situ muncullah keegoisan dalam diri manusia, mereka sudah tidak mempedulikan kondisi alam saat ini. Sehingg muncullah pemahaman bahwa alam ini bukan sebagai tempat tinggal makhluk hidup lagi tetapi sebagai ladang uang. Padahal ribuan bahkan jutaan spesies makhluk hidup lainnya berada di hutan tersebut.

Pemahaman seperti ini juga tak bisa dilepaskan dari semakin berkembangnya peran teknologi yang semakin pesat. Hal ini disebabkan karena kebutuhan zaman yang semakin maju pula. Tiap tahun selalu ada pembaruan dalam teknologi ini. Hal ini akan membawa keuntungan tersendiri, karena masyarakat dunia juga semakin peka dan tanggap akan teknologi informasi ini. tetapi dilain sisi, dengan majunya teknologi yang ada, manusia semakin menjauhkan diri dari realitas. Mereka berlaku seenaknya dalam bertindak. Budaya konsumtif ada dimana-mana, sehingga manusia semakin keras kepala.

Maka, untuk mengatasi hal seperti itu, manusia perlu untuk berkontemplasi, mendengarkan dorongan batiniah sehingga membantu manusia dalam memberikan makna dan keputusan. Selain itu dengan berkontemplasi, manusia semakin sadar bahwa alam ini sahabat bagi manusia. Manusia telah merusak persahabatan dengan alam dengan cara menggunduli hutan dan saat ini kita disuguhkan dengan banyaknya krisis lingkungan. Apakah kita mau hidup kita terancam hanya karena kita tidak mempunyai ala mini? Tentu semua orang menginginkan tidak. Sama seperti masyarakat Papua yang hutan adatnya telah gundul. Mereka sama sekali tidak menginginkan hutan mereka habis, tetapi karena adanya bos-bos besar, dengan terpaksa merelakan hutan adat mereka.

Gambaran seperti inilah yang seharusnya membuat manusia semakin sadar bahwa hidup manusia hanya sesaat saja dan nanti akan kembali kepada Sang Pencipta. Tuhan menitipkan alam ini kepada manusia supaya manusia melestarikan dan memanfaatkan dengan seperlunya bukan mengekploitasi seenaknya sendiri.

Penulis melihat bahwa pentingnya untuk menjalin relasi yang harmonis dan erat antara manusia, alam dan Tuhan. Sehingga penulis menyadari bahwa alam ini sebagai teman dan sahabat, selayaknya pershabatan antar manusia yang saling mengasihi, maka manusia juga perlu mengasihi alam semesta ini yang mana sebagai gambaran dari Tuhan.

Maka, perlu adanya manusia untuk mengenali dirinya sendiri, alam dan tuhan sehingga konsepsi ketiganya menjadi lurus dan terus mengenali keagungan-Nya. Sehingga penulis yakin bahwa relasi manusia, alam dan Tuhan masih relevan hingga saat ini dan manusia akan merasakan keberadaan tuhan dalam alam semesta ini.


Sumber Refrensi

Sumber Buku

Bakker, Anton. Kosmologi dan Ekologi. Yogyakarta: Kanisius. 1995.

Artigas, Mariano. Filosofi dari Alam.Navarra: LINE GRAFIC. 2003.

Sumber Internet

Gunadha, Reza. Viral Video Hutan Papua Sengaja Dibakar Perusahaan Korsel untuk Lahan Sawit. 13 November 2020. https://www.suara.com/news/2020/11/13/110607/viral-video-hutan-papua-sengaja-dibakar-perusahaan-korsel-untuk-lahan-sawit?page=all  (diakses pada 26 Mei 2021 pk 17.01).

CNN Indonesia. Greenpeace: Perusahaan Korsel Bakar Hutan Papua Seluas Seoul. 13 November 2020. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201113130010-20-569412/greenpeace-perusahaan-korsel-bakar-hutan-papua-seluas-seoul (diakses pada 26 Mei 2021 pk 17.01).

Irham, Muhammad. Papua: Investigasi Ungkap Pembakaran Lahan Untuk Kebun Sawit-DPR Sebut 'Sudah Menginjak Harga Diri Bangsa', Perusahaan Membantah Seluruh Hasil Investigasi. 18 November 2020. https://www.suara.com/news/2020/11/13/110607/viral-video-hutan-papua-sengaja-dibakar-perusahaan-korsel-untuk-lahan-sawit?page=all (diakses pada 26 Mei 2021 pk 17.01).

Kurniawan, Alek Karci. Dengarkan Jeritan Bumi: Sebuah Refleksi Teologis atas Masalah Tanah dan Ruang Hidup. 21 Mei 2020. https://www.mongabay.co.id/2020/05/21/sebuah-refleksi-teologis-atas-masalah-tanah-dan-ruang-hidup/ (diakses pada 26 Mei 2021 pk 16.24).

Sumber Diktat

Pratisto, Agustinus. “Tatanan dan Keteraturan Alam”, Diktat Mata Kuliah Filsafat Alam, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, 2021.

Partisto, Agustinus. “Awal dan Akhir Alam Semesta 2”, Diktat Mata Kuliah Filsafat Alam, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, 2021.