Berapa puluh tahun lalu, para pendiri bangsa merumuskan pancasila sebagai dasar Negara. Menurut kisahnya iadigali dari dalam bumi Indonesia, artinya bahwa pancasila merupakan pengolahan dari endapan nilai-nilai luhur nusantara.

Berbagai keadaan telah dilalui, upaya-upaya untuk menggantikannya selalu gagal baik secara konstitusional maupun Inkonstitusional. Hal ini kemudian melahirkan istilah kesaktian pancasila.

Namun dalam kondisi saat ini apakah dengan kesaktian pancasila tersebut, berbagai permasalahan ekonomi, sosial, budaya dan politik yang terus menghantui bangsa ini dapat terselesaikan? Ataukah kesaktian pancasila tersebut, malah menempatkan pancasila layaknya barang antik yang harus dilindungi dan dipamerkan pada momen-momen tertentu.

Realitas saat ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang berupaya untuk menggugat eksistensi pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Para ahli berpendapat bahwa ideologi adalah keyakinan, cita-cita dan pandangan hidup yang dimiliki oleh individu dan kelompok tertentu  sebagai pedoman hidup.

Namun jika dilakukan penelusuran mengenai istilah ideology ini, maka kita akan diajak kembali ke ratusan tahun silam yakni  sekitar tahun 1700 . Istilah ini digunakan pertama kali oleh Antonine Destutt De Tracy, yang dimaksud Tracy adalah sains tentang ide-ide. Pada saat itu Tracy berupaya untuk merekonstruksi seluruh ide yang Dia peroleh melalui observasi empiris dapat dijadikan sebagai acuan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang adil, (Petrus, 2013:16).

Artinya bahwa ideologi merupakan sebuah pedoman hidup yang harus dijalankan, kewajiban untuk menjadikan ideologi sebagai pedoman hidup ini, membawa konsekuensi bahwa ideologi tersebut dirumuskan secara Sistematis, Rasional dan  Dapat Dijalankan.

Kaitannya dengan pancasila, menurut hemat penulis keresahan ini merupakan hal yang sangat lazim dan jamak terjadi di kalangan akademisi, yakni pancasila masih menjadi ide-ide abstrak terlalu melangit, maka dengan melihat kondisi saat ini, pancasila harus segera dibumikan, dalam pengertian lain, pancasila harus dapat menjadi solusi dalam berbagai permasalahan yang kian dihadapi bangsa ini.

Sebab jika melihat dinamika bangsa ini, ideologi-ideologi raksasa yang berwatak Neo Imperealisme yang hampir menguasai dunia, sudah masuk dan mendapatkan Ruang-Ruang tertentu, lebih tepatnya diberikan Ruang.

Pancasila sebagai Ideologi

Penulis ingin memulai sub pembahasan ini dengan mengutip pertanyaan Petrus C.K.L Bello dalam tesis nya yang kemudian dibukukan tersebut. apakah pancasila itu ideologi? Kurang lebih bunyi pertanyaan nya seperti ini.

Soekarno pada saat itu tidak secara tegas menyatakan pancasila sebagai ideologi, namun Dia hanya menyatakan bahwa pancasila adalah hasil dari bumi sejarah Indonesia sendiri atau budaya sendiri, yang telah hidup dan terpendam berabad-abad lamanya. Bung karno mengistilahkan pancasila sebagai philosofishe grondslag. 

Menurut penulis untuk menjawab pertanyaan tersebut, selain menselaraskan antara konsepsi pancasila dengan ciri-ciri ideologi, perlu juga menggunakan penelusuran secara genealogi. Secara esensial konsep genealogi yang dikembangkan Focault ini bertujuan untuk menelusuri awal pembentukan episteme serta membongkar dan mempertanyakan Praktik Sosial. (Asmaeny, 2017:3).

Oleh sebab itu penulis ingin melacak berbagai proses tentang bagaimana Ideologi lahir, pertama, ideologi lahir Karena diisnpirasikan oleh sosok tokoh yang luar biasa, dalam sejarah bangsanya. Kedua, berdasarkan alam pikiran masyarakat , ideologi itu dirumusakan oleh sejumlah orang berpengaruh dn merepresentasikan kelompok masyarakat kemudian disepakati sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Ketiga, berdasarkan keyakinan tertentu yang bersifat universal, ideologi itu lahir dan dibawa oleh orang yang diyakini sebagai kehendak tuhan, (Nur Sayyid, 2015:5-6).

Dari berbagai proses tersebut, yang cocok dengan pancasila ialah proses yang kedua yakni berdasarkan alam pikiran masyarakat. Kemudian pendekatan berikutnya untuk membuktikan bahwa pancasila merupakan ideologi ialah dengan menselaraskan prinsip-prinsip umum dalam teori ideologi yang dirumuskan Colin Sumner dengan konsep pancasila.

Pertama, unsur kesadaran, jelas terpenuhi karena pancasila merupakan kesadaran filosofis, yang menggerakan bangsa Indonesia untuk mencari jati dirinya. Kedua, unsur berasal dari praktik Sosial, jelas terpenuhi, sebagaimana yang diungkapkan bung karno. Ketiga, unsure tersebar di seluruh masyarakat, juga terpenuhi sebab pancasila berasal dari budaya asli Indonesia. Keempat, pancasila juga menggambarkan hubungan social yang utama. (Petrus, 2013:112).

Artinya bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut ialah “Ya”

Membumikan Pancasila

Penjelasan di atas sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa pancasila merupakan sebuah ideologi, namun menurut penulis bahwa pancasila secara sempurna dapat dikatakan sebagai ideologi apabila pancasila dapat menjalankan fungsinya sebagai ideologi pada umumnya.

Ideologi mempunyai beberapa fungsi, Pertama, Fungsi Etis yakni sebagai panduan berperilaku. Kedua, Fungsi Integrasi, yakni nilai yang menjadi pengikat suatu bangsa. Ketiga, Fungsi Kritis, sebagai ukuran nilai yang dapat digunakan untuk melakukan kritik. Keempat, Fungsi Praxis, sebagai acuan dalam memecahkan masalah konkret dan yang terakhir Fungsi Justifikasi, yakni ideologi sebagai pembenaran suatu tindakan oleh suatu kelompok tertentu. (Nur Sayyid, 2015:12).

Pancasila dapat eksis sebagai ideologi apabila dapat menjalankan fungsi-fungsi di atas, namun apabila yang terjadi malah sebaliknya maka nasib pancasila akan memburuk, Pancasilas semakin jauh dari masyarakat, pancasila akan terus menjadi ide-ide abstrak.

Konsekuensi logis dari kegagalan pancasila sebagai ideologi ini ialah mudahnya ideologi-ideologi baru masuk dengan menawarkan utopia-utopia baru, implikasi konkret ialah kesatuan dan perstauan bangsa Indonesia akan Rusak.

Kondisi saat ini sudah sangat mendesak pancasila untuk segera dibumikan, gagasan ini sudah lama digaungkan oleh para akademisi yang menekuni pancasila salah satunya ialah Eko Sulistyo, menurutnya pancasila harus menjadi nilai-nilai kewarganegaraan, warga Negara merasa membutuhkan dan merasakan daya gunanya dalam kehidupan nyata mereka, tidak lagi pancasila yang abstrak dan sloganistik, pancasila harus bermakna bagi petani, buruh, perempuan, kaum miskin, intelektual, ekonomi rakyat dan bahkan rakyat Papua dan lainnya. (Isdiyanto, 2020:XX)

Ketika bung karno menyebut pancasila sebagai hasil galian, maka sebenarnya pancasila lahir dari jerih payah sejarah, tepatnya jerih payah manusia, pancasila adalah sebuah karya manusia yang diperuntukan bagi manusia, seperti halnya hasil bumi yang menawarkan sesuatu yang tetap bisa diolah lebih lanjut, maka  pancasila tidak Ready For Use, (Petrus, 2013:102).

Oleh sebab itu menurut penulis, Evolusi pancasila harus terus berlangsung, Pancasila tak boleh berhenti Pada Tahap Pertama, yaitu Kristalisasi, ini merupakan proses penggalian serta perumusan oleh para pendiri bangsa. proses ini harus terus sampai pada Tahap Kedua, yaitu Konkretisasi, ini merupakan proses di mana pancasila menjalankan berbagai fungsingnya, oleh sebab itu pancasila harus menyatu dalam system, sehingga pancasila dapat menjiwai tindakan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan baik di bidang ekonomi, politik maupun budaya. Sehingga “Keadilan Sosial dapat di rasakan oleh seluruh Rakyat Indonesia”.

Akhir kata, penulis sampaikan bahwa, ideologi pancasila dapat menjawab berbagai persoalan apabila, kita sebagai warga Negara Indonesia bersama seluruh institusi pemerintahan, bukan hanya membicarakan pancasila, Namun harus lebih dari itu, pancasila harus disejiwai dan disebadani jika meminjam isitilah Presiden Jancukers.

Referensi :

Azis, Asmaeny, Dasar Negara : Hubungan Pancasila, Marhaenisme, Marxisme dan kapitalisme dalam skema politik Indonesia, Ruas Media : Yogyakarta, 2017

Bello, Petrus.C.K.L. Ideologi Hukum : Refleksi Filsafat atas Ideologi Di balik Hukum, Insan Merdeka : Bogor 2013

Isdiyanto, Ilham Yuli, Dekonstruksi Pemahaman Pancasila : menggali jati diri Hukum Indonesia, Gajah Mada University Press : Yogyakarta, 2020

Kristeva, Nur Sayyid Santoso. Sejarah Ideologi Dunia : kapitalisme, sosialisme, komunisme, fasisme, anarkisme, anarkisme-marxisme, konservatisme. Lenter Kreasindo : Yogyakarta, 2015