Setiap orang umumnya akan menuliskan catatan refleksi akhir tahun dan memulai daftar resolusi di awal tahun. Banyak orang yang meyakini bahwa mimpi yang tertulis akan mudah tergapai, dibandingkan hanya dalam angan-angan. Tentu saja kita pun harus menerima dengan lapang dada, jika apa yang diharapkan belum juga sampai. 

Inilah realita dari sebuah pernyataan yang masyhur bahwa manusia hanya berencana dan Tuhanlah yang menentukan. Oleh karenanya ajaran agama memberi pesan firman Tuhan agar ikhlas, sabar, dan tawakkal pada setiap ketetapan yang diberikan. 

Tentu tiga kalimat ini akan mudah disampaikan, tetapi tidak mudah direalisasikan. Bagaimana pun, ketiga inilah kunci utama dalam menjalani kehidupan. Inilah mengapa al-Qur'an pun menjelaskan secara tegas dalam surat al-Baqarah ayat 153 bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan tentu ini berlaku untuk semua makhluk Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan.

Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa terlahir dan hidup sebagai perempuan tidak mudah. Budaya kita masih meyakini bahwa perempuan adalah makhluk kelas kedua. Tentu saja tidak menafikan berbagai upaya gerakan perempuan untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan. 

Dan ini tentu bukan perkara mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, bukan? Sebagai perempuan kita hanya perlu menyampaikan berbagai pengalaman yang dirasakan dan dialaminya. Kita harus meyakini bahwa pengalaman perempuan juga sumber pengetahuan. 

Oleh karenanya, mendengarkan suara perempuan dalam penentuan hukum, kebijakan, dan lainnya adalah sesuatu yang penting dan tidak bisa ditinggalkan. 

Namun sayangnya, ini masih menjadi perjuangan yang tidak mudah dilakukan. Misalnya suara korban kekerasan seksual yang sampai saat ini masih harus berjuang mendapatkan payung hukum yang diharapkan. 

Hampir setiap tahun Rancangan Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual diperjuangkan dan tak juga kunjung disahkan. 

Padahal ini bukan hanya kebutuhan perempuan, sebenarnya kebutuhan bersama dalam upaya mencegah dan menanggulangi tindak kekerasan seksual yang jumlahnya kian tahun semakin meningkat. Bahkan perlu digarisbawahi bahwa laki-laki juga berpotensi menjadi korban. 

Dalam pengambilan keputusan yang berperspektif untuk melindungi korban dari kejahatan, seharunya suara korban harus didengarkan. Misalnya, mengapa dalam peraturan RUU TPKS ataupun Permendikbud tentang PPKS memunculkan frasa 'Tanpa Persetujuan.'

Ya, karena selama ini asumsi yang beredar di masyarakat dan di lingkungan kita, masih belum mendudukkan korban sebagai korban. Sering kali korban kekerasan seksual ketika melaporkan akan ditanya, 'Kamu pakai baju apa?' Kamu menggoda, tidak?'. Dan seabreg pertanyaan yang seakan-akan mengamini bahwa korban juga memicu bahwa dirinya membuat pelaku tergoda. 

Tentu ini harus diperhatikan kembali. Sebagaimana data yang dilansir dari hasil survei yang dilakukan oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) pada tahun 2018. Mereka menyatakan ada 62.224 responden yang berpartisipasi dengan hasil yang seharusnya bisa membuat kita membuka mata. 

Salah satu yang disurvei yakni tentang pakaian yang digunakan perempuan saat kena pelecehan seksual. 32.341 responden perempuan, yang kesimpulannya adalah bahwa pakaian terbuka yang dikenakan perempuan tidak menjadi penyebab pelecehan seksual. Bahkan 17% korban pelecehan seksual mengenakan pakaian tertutup.

Tahun lalu, saya pun melihat pameran pakaian-pakaian korban pelecehan dan kekerasan seksual yang cukup membuat kaget. Bagaimana mungkin gamis hitam panjang yang menjuntai di pameran tersebut juga ternyata adalah pakaian yang digunakan korban saat terjadi peristiwa pelecehan dan kekerasan. 

Bukan hanya itu, saya pun dibuat nanar karena ada pakaian seragam sekolah merah putih anak SD dan pakaian bermain anak perempuan kecil yang terpajang. Sungguh miris sekali melihatnya. Bagaimana mungkin anak kecil yang tidak mengerti apa-apa lantas dianggap menggoda. Bukankah ini tidak logis untuk selalu mempertanyakan korban saat pelecehan dan kekerasan seksual terjadi. 

Tentu logika ini seakan-akan menyalahkan ikan kalau dimakan kucing. Mengapa korban yang dipertanyakan. Bukankah kekerasan dan pelecehan seksual tidak akan terjadi jika pelaku tidak tergerak melakukan meskipun di hadapkan dengan sesuatu yang menggoda. 

Ini menjadi upaya penting yang harus dilakukan para pendidik, baik orang tua di rumah, maupun guru di sekolah. Ajarkan kepada anak laki-laki dan perempuan untuk saling menjaga diri, dan ajarkan anak laki-laki untuk tidak memperkosa dan menyakiti perempuan dan golongan minoritas lainnya di kemudian hari. 

Tahun 2021 yang lalu mungkin menyesakkan. Tahun di mana pandemi terus berlanjut dan kekerasan terhadap perempuan meningkat. Bahkan masih terekam jelas dalam ingatan saya tentang betapa terjal dan menyesakkan saat mendampingi para korban. 

Tentang ia, gadis kecil yang dengan tega diperkosa oleh ayah tirinya hingga melahirkan. Tentu menyisakkan trauma dan ingatan-ingatan menyakitkan baginya meskipun waktu terus berjalan. Pun dengan ia, gadis belia tuna rungu tuna wicara yang dikhianati dan diperkosa oleh teman yang ia andalkan. Masih terekam jelas dalam ingatan tentang luka yang didapatinya di sekujur badan. 

Tentu saja sebagaimana harapan yang harus selalu dilangitkan dan diupayakan. Saya sebagai perempuan dan pendamping para korban berharap tahun ini keadilan berpihak pada mereka. Semoga semesta mengamini ruang aman bagi perempuan di muka bumi.