Saya memiliki keinginan untuk bertemu langsung dengan penyandang disabilitas terutama dari kalangan tuna netra. Keinginan ini dilandasi pada rasa kagum, rasa ingin tahu dan juga rasa penasaran saya terhadap mereka. Dalam salah satu ulasan wawancara, seorang tuna netra pernah menjawab bahwa mereka masih punya mata hati yang tajam.

Ringkasan menarik lain yang saya peroleh ada pada salah seorang yang memiliki kontribusi bagi agama Islam yaitu Abdullah bin Ummi maktum juga termasuk dari kalangan tuna netra.

Hingga pada suatu hari, saya pernah melihat seorang tuna netra menjajakan makanan dan berjualan dengan menggunakan tongkat. Melihat hal itu membuat saya menaruh empati pada mereka. Rasa kasihan saya pada mereka semakin besar. Barulah keinginan saya terwujud dengan memberanikan diri datang ke yayasan tempat mereka tinggal.

Yayasan tempat saya berkunjung bernama Usaha Karya Tuna Netra. Yayasan ini terletak di jalan ABRI masuk desa Kelurahan Tamangapa Kecamatan Manggala Kota Makassar. Jalanan menuju yayasan ini sangat mudah dijangkau oleh kendaraan karena posisi strategis dan merupakan jalan lintas kabupaten.

Kedatangan saya ke yayasan bertujuan untuk observasi awal sebelum melakukan penelitian. Tidak ada kenalan maupun kerabat di sana. dalam pikiran saya mereka patut dikasihani. Mereka patut diberi derma. Bahkan saya menganggap mereka berbeda dari orang normal umumnya dan tidak bisa melakukan semua pekerjaan orang normal. Setelah sampai, saya pun berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka. Ternyata pandangan saya kepada mereka selama ini tidaklah tepat.

Di yayasan saya melihat para tuna netra dari kalangan laki-laki dan perempuan belajar al-Qur’an. Mereka menggunakan media huruf Braille untuk mengenal huruf. selain itu, mereka juga menggunakan pendengaran mereka untuk mengetahui bunyi dan ketukan huruf-huruf itu. Menariknya, guru yang mengajar adalah dari kalangan tuna netra juga.

Melihat hal itu, pandangan saya kepada mereka selama ini berubah. Pasalnya, mereka juga mampu belajar tentu dengan menggunakan cara mereka sendiri. Mereka juga mampu menunjukkan potensi mereka asalkan diberi ruang untuk mengemplementasikannya. Penelusuran saya terhadap mereka semakin berlanjut, sehingga saya berdialog dengan salah seorang guru di sana.

Seorang guru tuna netra ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Pasalnya selama berinteraksi dengannya, sesekali ia mampu menjawab pesan yang masuk dengan mengetik huruf-huruf yang mampu mengeluarkan suara. Ia juga mengabadikan momen belajar bersama tadi dengan merekam melalui telepon pintarnya.

Perbincangan kami berlanjut dan tidak terasa waktu shalat maghrib pun tiba. Di yayasan ini ada sebuah masjid yang terletak di lantai dua.

Saat naik di atas, seorang berpakaian putih yang melantunkan azan tersebut adalah salah seorang tuna netra yang saya lihat di ruang kelas tadi. Saya melihat ada masyarakat sekitar dan berdatangan shalat di masjid ini tapi bukan mereka yang azan. Rasa kagum saya terhadap tuna netra semakin besar.

Bahkan ketika shalat pun yang menjadi imam adalah tuna netra. Oleh karena itu saya ingin bertemu dengan pemilik yayasan ini. Saya bertanya pada salah seorang jamaah tuna netra dan dia menjawab bahwa lihat orang yang menggunakan kacamata hitam.

saya melihat sekitar dan melihat sosoknya. setelah memperkenalkan diri, kami pun berbincang-bincang. Sosok yang bernama Usman Hafid ini memiliki pemahaman agama yang mumpuni. Karena keterbatasan penglihatan maka dia belajar agama lewat indra pendengarannya.

Dari sosok ini saya tahu bahwa yang khutbah kemarin juga dari kalangan tuna netra. Selama berbincang dengan beliau saya seakan-akan berbicara dengan orang normal pada umumnya. Pasalnya tak sepatah katapun dari mulutnya yang menarasikan meminta belas kasih

Dari kata-katanya hanya tersirat semangat dan optimisme dalam menjalani hidup. Darinya juga saya banyak mendapat informasi yang berguna untuk akademik saya. Seakan-akan saya berbicara dengan orang normal.

Refleksi Atas Kunjungan di Kalangan Disabilitas Tuna Netra

Dari kunjungan itu, saya memikirkan kembali bahwa mereka memiliki potensi sama seperti orang normal dan kita sebagai orang normal juga memiliki potensi untuk menjadi seperti mereka. Bisa jadi karena faktor kecelakaan, penurunan daya fungsi penglihatan, umur dan penyebab lainnya yang membuat kita juga menjadi tuna netra.

Pelajaran yang saya dapat adalah agar berhenti menggunakan pendekatan belas kasihan. Selama stigma ini masih ada maka mereka dianggap tidak bisa melakukan apa-apa. Lebih baik menggunakan pendekatan yang memberdayakan yang berfokus pada hak asasi manusia.

Pelajaran lainnya adalah agar belajar berinteraksi dengan mereka karena dengan berinteraksi nanti akan diketahui kelebihan dan potensi mereka. Kalau sudah diketahui maka nanti bisa dipikirkan bersama apa yang bisa dikerjakan bersama. Kalau relasi sudah terbangun nanti akan dipahami kebutuhan mereka apa.

Memahami kebutuhan mereka sudah masuk pada kategori bukan belas kasihan tetapi berdasarkan cinta kasih.

Sebelum penutup ada seorang yang menjadi tuna netra di usia 37 tahun berkata “Sejak saat itu saya melihat dengan cara yang berbeda. saya sering melihat keajaiban- keajaiban kecil”.