Terasa baru kemarin saya menafsir kalimat Hariqo Satria. Tepat pada momen yang sama, momen milad HMI. Kurang lebih begini ;

"Tidak mungkin orang luar membubarkan HMI karena perannya nyata, yang paling mungkin HMI dibubarkan oleh anggotanya sendiri, dan gejala itu sudah nampak. Selamat Harlah HMI ke-73. Berobatlah ke dokter".

Geli. Miris. Malu. Tiga kata yang secara spontan menguliti bulu kuduk saya yang merasa menjadi kader HMI. Hariqo tidak salah. Namun perasaan kader HMI yang melulu merasa bahwa organisasinya seolah baik-baik saja, merasa tidak ada masalah dan terjebak dalam romantisme sejarah.

Mungkinkah karena nirspritual HMI menjadi tumpul dan kurang peka terhadap perannya sebagai kader umat dan kader bangsa? Atau juga selama ini HMI mengalami ahistoris?

Bisa jadi kecenderungan rasional mengikis mental spiritual. Mengingat di HMI diajarkan untuk kritis. Argumentatif. Membantah. Menganalisis. Menginterupsi. Menguliti. Melawan. Menolak. Sambil sesekali lempar kursi. Turun ke jalan. Dan bakar-bakar ban. Begitulah analisis kanda Said seekspresif-ekspresifnya.

Mendewakan akal menjadi kesan pertama mahasiswa baru untuk terpikat kepada HMI. Namun perasaan batiniah kurang diimbangi. Jika menilik kembali kepada hakikat kemanusiaan, esensi dalam dimensi beragama bukan untuk kritis.

Kepekaan dalam merasa, menjadi PR kader HMI. Padahal Ayahanda Lafran Pane sudah memberi teladan dengan kedalaman mental "merasa"-nya itu. Bagaimana tidak, sifat zuhud dan kesederhanaan beliau mencerminkan karakter profetik dan kematangan spiritual.

Wajar saja jika Said Muniruddin sering memetakan maqam perkaderan yang diklasifikasi menjadi dua. Rasionalitas dan Spritualitas. Dia mengurainya secara gamblang dalam buku Bintang Arasy. Dan memang begitu esensi teks tujuan HMI.

Karakter spiritual tidak melulu menunggu fase psikologis yang matang. Menunggu tua dan menunggu fase pengabdian-jika dirunut dalam skema perkaderan HMI. Karakter spiritual tercatat tegas sejak kita mengawali jenjang perkaderan paling awal di Latihan Kader I HMI.

Tujuan LK I itu sendiri tertulis jelas, yakni "Terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan peranannya dalam berorganisasi serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan kader bangsa”.

Ingat. "Kepribadian Muslim" menjadi landasan untuk pengembangan menuju muslim yang berkualitas akademis. Muslim yang sadar akan fungsi dan peranannya dalam berorganisasi. Serta, muslim yang sadar akan hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan kader bangsa. Dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Membina insan cita menuju masyarakat cita dalam spektrum Ilahiah. Karena di akhir teks, dan tujuan akhir adalah Allah SWT, maka menjadi keniscayaan landasan serta setiap nafasnya perlu diimbangi dengan kesifatan spiritual.

Jika pengamalan perkaderan dilakukan secara jujur, objektif, dan dijalaninya dengan keseriusan, tentu semakin mendekati pola perkaderan ideal. Namun di realitas, hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Bahkan sumpah menjadi anggota dan sumpah jabatan saja tidak cukup menjadi jaminan.

Perlu kepasrahan hati, kelurusan niat dan adanya komitmen yang kuat untuk menjadi kader HMI dan menjalani nilai-nilai esensialnya. Refleksi 74 tahun ini dapat menjadi momentum revolusi atau juga revitalisasi ghirah spiritual kader.

Kalaulah Hariqo mengatakan, segera berobatlah ke dokter, saya menafsirkan maksudnya ialah upaya menemukan kedamaian dengan menyelami dirinya sendiri. Sebab untuk mendekati sesuatu yang transenden kita butuh piranti yang selain akal. Dimensi transenden atau Ilahiah itulah bisa terbuka saat kita mengakses unsur terdalam dari jiwa kita sendiri.

Seperti yang ditahbiskan Said Muniruddin, kita banyak menemukan, para filsuf muslim pada akhirnya larut dalam sufisme (Irfan). Otaknya sudah lelah “mengkritisi” alam dan Tuhan. Mereka menemukan kedamaian justru saat menyelami dirinya sendiri. Mengenali nuraninya untuk menjadi salik.

Sebagai konsekuensi modernisme, jika kita menilik hal yang berada di luar diri, banyak penyakit yang bermunculan. Selain masa pandemi ini, gejala-gejala negatif dari ruang siber pun menggila sehingga mengakibatkan fenomena dehumanisasi.

Kondisi itu tentu saja memerlukan perhatian dan penanganan serius dan segera. Sebab, HMI adalah salah satu kelompok yang diharapkan paling berperan untuk memberikan solusi terhadap beragam permasalahan itu. Terutama yang meliputi episentrum keummatan dan kebangsaan.

Namun sekali lagi, menyapu lantai untuk tujuan membersihkan lantai tidak bisa dilakukan oleh sapu yang berlumur tanah atau lumpur. Kita perlu membersihkan sapunya terlebih dahulu. Melalui identifikasi persoalan internal yang berada dalam tubuh HMI-lah kita dapat mengenali. Sehingga kita bisa mulai mengobati dari hal yang paling mendasar terlebih dahulu.

Mengidentifikasi Persoalan Internal

Dalam konteks ke-HMI-an, bahwa jika kader HMI ingin menjadi problem solver atas beragam permasalahan keumatan dan kebangsaan hari ini, maka analisis yang tajam berdasarkan data-data valid dan reliabel terhadap sejumlah permasalahan merupakan kunci untuk mewujudkannya.

Pada Silaturahmi Nasional Pimpinan HMI (Silatnaspim) tahun 2017 lalu, ada beberapa permasalahan internal HMI yang berhasil diidentifikasi.

Pertama, masih belum adanya database jumlah anggota yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, jumlah kader yang hilang setelah mengikuti LK I masih cukup tinggi.

Ketiga, rasio perbedaan antara jumlah kader yang sudah LK I dengan LK II dan LK III masih sangat tinggi. Keempat, masih kurangnya pemahaman terhadap tugas dan fungsi masing-masing aparatur organisasi HMI.

Kelima, kesadaran untuk melakukan monitoring, evaluasi dan laporan proses kaderisasi secara rutin masih kurang. Keenam, terbatasnya jumlah instruktur/mentor sebagai agen penggerak perkaderan.

Ketujuh, kurangnya kesadaran akan peran penting lembaga kekaryaan bagi proses kaderisasi. Kedelapan, kondisi finansial organisasi yang selalu mengalami defisit.

Delapan poin tersebut merupakan gambaran internal kondisi HMI yang bisa dikatakan relate. Namun bersifat permukaan. Maksudnya, diantara poin-poin di atas, hanyalah akibat dari kurangnya komitmen ber-HMI. Sehingga tidak terdapat upaya maksimal untuk antisipasi atau beranjak ke wilayah inovasi.

Hal itu tentu saja sangat mempengaruhi kinerja HMI untuk memberikan jawaban atas berbagai permasalahan umat dan bangsa. Kondisi tubuh yang tidak prima baik secara kejiwaan atau rasional akan sulit bergerak optimal.

Persoalan hari ini cenderung seperti mengurai benang kusut di tengah lumpur. Perlu kehati-hatian dan persiapan yang matang  dan waktu begitu panjang. Oleh karena itu, hasil proses kaderisasi hari ini yang sangat menentukan.

Dalam beberapa tahun mendatang, produk kaderisasi HMI hari ini akan mengisi berbagai pos-pos strategis di masyarakat. Makanya, di sanalah perlunya revolusi atau revitalisasi ghirah spiritual kader. Agar tidak melulu berkutat dalam logika untung-rugi. Atau dalam logika memperjuangkan hal-hal material.

Sebab, nantinya terlihat peran apa yang mampu dilakukan sebagai orang yang pernah berproses di HMI. Meskipun demikian, itu bukan berarti bahwa kader HMI hari ini hanya diam berpangku tangan menyaksikan tanpa melakukan atau berbuat apa-apa.

Ikhtiar Menuju Trendsetter Ummat

Meskipun dalam proses kaderisasi masih pada fase pengembangan, orientasi untuk menjadi salik menuju apa yang telah di alegorikan Buku Bintang Arasy, bahwa kader HMI digambarkan sebagai bintang yang menerangi bulan-maksud di sini adalah menerangi masyarakat, mesti mulai diupayakan laiknya ikhtiar semut-semut Nabi Ibrahim As.

Oleh karena itu, terdapat banyak hal yang dapat dilakukan kader HMI untuk menyikapi problematika keummatan dan kebangsaan. Minimal, dapat menguranginya dalam rangka ikhtiar kader HMI menuju trendsetter ummat. Diantaranya sebagai berikut.

Pertama, menjadi insan teladan atau panutan bagi orang-orang di sekitarnya. Baik dalam tutur kata, sikap dan pemikiran. Kedua, ikut serta berpartisipasi aktif mengisi dunia digital dengan konten-konten positif dan bermanfaat.

Ketiga, belajar sungguh-sungguh dan terencana untuk membekali diri secara maksimal untuk menghadapi dan mengemban peran di masa depan. Keempat, ikut serta menyebarkan narasi-narasi moderat untuk menjaga keseimbangan persatuan Indonesia. Kelima, membudayakan hidup jujur, bersih dan peduli sosial. Keenam, mengembangkan sikap kreatif dan visioner.

Begitu diantara indikator ikhtiar menuju trendsetter ummat. Namun, segala ikhtiar yang dilakukan jika hanya pada dimensi materil saja, pasti akan terjebak pada orientasi-orientasi yang bersifat sementara. Maka, sekali lagi perlu diimbangi nilai-nilai spiritual, atau "bernafaskan Islam" pada setiap ikhtiar HMI yang dilakukan untuk mewujudkan tujuannya.

Selamat Milad ke 74 Tahun HMI. Mengokohkan Komitmen Ke-Islaman dan Kebangsaan.