Pemandangan dalam penjara Shawshank membuat kita merasa miris; makanan berulat, manusianya teralienasi, homoseksual yang banal, bahkan pembunuhan terhadap narapidana oleh aparat tak dapat dihindari. Demikianlah nuansa film Shawshank Redemption yang berlatar lokasi di Ohio, Virgin Island, U. S.

Film yang dirilis tahun 1994 dengan melibatkan dua aktor ternama Tim Robins dan Morgan Freeman tersebut menampilkan kisah persahabatan Andy Dufresne (Tim Robins), mantan wakil direktur BANK Portland dan seorang Irlandia Ellis Boyd atau Red yang dibintangi Morgan Freeman. Alur dari film Shawshank Redemption ini dapat diringkas menjadi enam kata kunci; hukuman penjara, perjumpaan, perubahan situasi, pengharapan, pembebasan dan pemenuhan janji. Keenam kata kunci ini terjangkar dalam termin judul film ini, redemption! 

Uniknya judul film tersebut adalah Shawshank Redemption. Artinya termin redemption harus menjelaskan dinamika yang terjadi di dalam Penjara Shawshank. Kendati terdapat enam kata kunci seperti yang telah disebutkan, namun kata kunci pertama dan keenam sebetulnya adalah termin luar dari Redemption in Shawshank. Pertanyaannya dinamika seperti apakah yang terjadi di Shawshank yang dapat dipahami sebagai redemption? 

Manusia-manusia Shawshank

Manusia-manusia Shawshank adalah narapidana terhukum. Manusia-manusia yang keliru menggunakan kebebasannya hingga kebebasan mereka harus dikontrol, diatur bahkan distematisasikan oleh aparat berwenang, sebagaimana disebut di dalam film Tn. Hadley selaku Kapten Penjaga Penjara, dan Tn. Norton Kepala Penjara. Dapat dibayangkan bahkan yang sangat bertautan dengan kebutuhan hakiki manusia seperti makan, buang air besar maupun kecil hanya akan dapat dilakukan saat diperintahkan.

Menurut kesaksian dari Red “Malam pertama sangatlah berat, ….. Mereka membariskanmu tanpa pakaian seperti saat baru dilahirkan. Kulit dan mata terasa perih karena obat kutu. Dan saat mereka menaruhmu ke sel, dan saat sel itu ditutup, saat itulah kamu harus menghadapi kenyataan. Kebiasaan lama terhempas begitu saja, takan ada yang tersisa kecuali kenangan.

Apakah ini yang dimaksudkan dengan dilembagakan? Tidak, ini penjajahan. Penghisapan manusia oleh manusia. Penertiban manusia yang memanusiakan tidak harus mengasingkan manusia dari ke-dirian-nya.

Hal itu tampak dalam pengalaman Brooks (pegawai tua yang bekerja sebagai pegawai perpustakaan) yang menghabiskan separoh abad di dalam penjara kemudian dibebaskan dan ia merasa terasing dari dunia.

 “Di penjara ia orang penting. Dia orang berpendidikan. Di luar ia bukan apa-apa. Dia  hanyalah mantan narapidana yang mengalami radang sendi tangan. Mungkin ia tak bisa  mendapatkan kartu perpustakaan meski ia mencobanya.”

 Orangtua tersebut akhirnya mengakhiri hidup dengan menggantungkan diri. Demikianpun pengalaman konyol Red. Saat dibebaskan ia kemudian menjadi karyawan salah satu mini market. Ia harus selalu mengangkat tangan untuk memperoleh izin ke kamar kecil dan ditegur oleh kepala Supermarket.

Dari pengalaman Red dan Brooks, boleh jadi penjara Shawshank yang bertujuan memberdayakan orang-orang pidana untuk dapat terlibat lagi di lingkungan sosial rupanya kabur. Mereka merasa berarti bagi sesama justru di dalam penjara sedang di luar penjara mereka bukanlah siapa-siapa. Red mengatakan, “tempat ini lucu, awalnya kau membencinya, lalu kau terbiasa. Waktu demi waktu kau semakin tergantung. Itu namanya dilembagakan.” 

Dengan demikian, sejatinya pengahargaan, solidaritas rupanya menjadi berarti di dalam situasi penderitaan orang-orang yang bernasib. Maka benar kata orang bahwa hanya orang yang menderita yang dapat memahami artinya bersolider. Namun kenyamanan tersebut bukanlah hal yang dicari. Karena mereka adalah burung-burung bersayap yang harus selalu terbang. Kenyataannya, mereka tetaplah tahanan tanpa pernah mencoba mendugai masa depan. Lantas apa artinya kebebasan yang sungguh-sungguh bebas?

Berharap berarti dibebaskan

Setidaknya ada beberapa perubahan yang terjadi semenjak Andy masuk ke penjara Shawshank. Manusia yang kelihatannya dapat jatuh kala ditiup angin, demikian kata Red,  memiliki karisma menghadirkan kebebasan kendati tidak dalam situasi bebas, dan harapan kala dalam keputusasaan. Semuanya bermula kala Andy menawarkan Hadley jasanya yang dapat membantunya dalam krisis keuangan. 

Yang menarik adalah tawaran dari Andy, “Aku hanya meminta sebotol bir untuk setiap rekan kerjaku. Kurasa mereka akan lebih merasa dihargai. Jika mereka bisa mendapatkan sebotol bir. Sistem barter yang dibuat Andy bukanlah untuk kepentingannya melainkan sesama rekan pidananya.

Red mengisahkan, “dan begitulah detik-detik terakhir di hari itu. Para pidana yang telah melapisi atap pabrik di musim panas tahun 1949 duduk beristirahat tepat jam 10 pagi. Meminum beberapa bir, kesopanan yang pernah ada di penjara Shawshank. Kepala penjara terdengar sangat ramah. Kami duduk dan minum dan terasa seperti orang yang bebas. Rasanya seperti melapisi atap rumah kita sendiri. Kami adalah raja dari semua makhluk hidup. 

Pembaruan tidak berhenti disitu. Dengan menyalahi aturan penjara, Andy membuka rekorder  nyanyian ‘dua gadis italia yang bernyanyi  indah yang tak dapat dilukis dengan kata-kata. Membuat semua hati para napi nyaman. Suara yang melengking tinggi dan tinggi daripada yang bisa diimpikan. Seperti burung indah yang mengepakkan sayapnya di kandang kecil Shawshank dan membuat dindingnya hancur. Dan untuk sesaat setiap tahanan di Shawshank merasa bebas.”

Yang paling mengesankan sesaat setelah dihukum di dalam lubang karena kesalahan tersebut, Andy lalu berbicara mengenai arti dari sebuah harapan; “Musik itu ada di dalam sini (memori) dan di sini (hati). Itulah keindahan musik yang mereka tak bisa merenggutnya darimu. Apa kalian tak merasakannya? … ada banyak tempat di dunia ini yang tak terbuat dari batu. Ada sesuatu dalam dirimu yang mereka tak bisa renggut. Yang tak dapat mereka sentuh. Itu milikmu…. Harapan. 

Rasanya memberi harapan kepada mereka yang berhenti berharap berarti menjaring angin. Namun itulah harapan. Ia tak dapat dicatat dalam selembar kertas dan bisa menjadi bukti hitam di atas putih yang bisa disisipkan di dalam saku. Harapan adalah sebuah doa kala orang berani berteriak dalam kegelapan yang diam membisu dan sungguh yakin akan didengarkan meskipun tidak muncul jawaban dari sana (Horst G. Poehlmann: 1998).

Harapan itu tidak hanya sebuah gerakan keluar melainkan ke dalam. Andy akhirnya mengakui bahwa ialah yang menghantar kematian istrinya meskipun tidak menarik pelatuk Andy akhirnya membongkar kenyamanan solidaritas di dalam penjara dan mencoba suatu revolusi yang sungguh-sungguh membebaskan, lahir dan batin, individu dan sosial, “pilihannya sederhana, sibuk menikmati hidup, atau sibuk menikmati kesengsaraan”. yang dimaksudkan Andy rupa-rupanya penderitaan yang berlangsung lama di Shawshank telah memberikan suatu kenikmatan, kebiasaan hingga membuat orang bergantung dari padanya.

Harapan yang dihadirkan Andy akhirnya diakhiri dengan perjanjian antara dirinya dan Red; “Red, jika kau keluar dari sini, lakukanlah sesuatu untukku. Ada padang rumput besar di bukit Buxton… terdapat batu panjang dengan pohon oak besar diujung utaranya. 

Seperti yang digambarkan Robert Frost dalam puisinya…. Berjanjilah padaku Red, jika kau keluar dari sini, temukan tempat itu. Di sana kau akan menemukan batu yang tak seharusnya ada di padang rumput Maine. Batu kaca vulkanik berwarna hitam, sesuatu terkubur di dalamnya, aku ingin kau memilikinya.”  

Bila diperhatikan, terdapat sebuah kejanggalan. Sewaktu mengadakan perjanjian dengan Tn. Hadley, yang diminta Andy adalah kesejahteraan teman-temannya. Sedangkan dengan Red, sahabatnya, ia menyuruhnya untuk melakukan sesuatu demi dirinya. Pertanyaannya, apakah yang terdapat di dalam kotak itu? Masih misteri.

Setelah Andy melarikan diri dari penjara dengan membuat terowongan, janji tersebut kemudian berubah menjadi kerinduan. Kerinduan tersebut membuat Red mengambil jalan lain saat ia telah bebas, tidak seperti Brooks yang mati bunuh diri. Di akhir film ditayangkan, bahwa isi kotak itu adalah petunjuk untuk dapat berjumpa dengan Andy. Sebuah redemption yang berjalan suram di tahap-tahap awal menjadi jelas pada akhirnya.

Catatan Akhir  

Sulit menempatkan kekuatan transformatif film Shawshank Redemption yang amat kaya dalam analisis yang berdaya tampung terbatas, tak tersimpulkan, yang menyentuh seluruh sekaligus yang terlupakan di dalam narasi-narasi besar zaman ini, penjara. Penjara itu seperti medan laga, meminjam kata Heidegger, di mana seseorang bukanlah apa-apa; ia terlempar seolah tanpa tahu dari mana asal dan ke mana tujuannya (B. Hardiman:2016). 

Redemption di Shawshank “mengalir bagaikan kali kecil lewat padang pasir kehampaan keberadaan. Tampaknya tanpa tujuan dan dengan ketakutan yang mendalam bahwa seluruhnya akan hilang, meresap ke dalam pasir” (Horst. G. Poehlmann: 1998). Dan peziarahan yang dimulai dan bergerak dengan ketidakpastian adalah kematangan harapan mereka-mereka yang berada di penjara, yang tertindas, termarginalkan, para vegabonds, pelacur di emperan kali Code, orang-orang malang yang menantikan cahaya di ujung terowongan. Sampai pada titik ini, bukankah penebusan dalam keyakinan kristianipun bergerak dari yang samar-samar menuju ketidak pastian, dikukuhkan lewat perjanjian, dan berpuncak pada peristiwa salib: The Crucified God with The Crucified People?