Adalah sebuah fenomena unik ketika banyak mahasiswa berpikir terlalu jauh bahwa dirinya adalah seorang activist, sebagai individu perubahan (agent of change), dan pengontrol sosial (social control). Mereka berangan-angan sangat jauh dan utopis, yakni ingin mempersatukan nusantara yang sekarang sedang terfragmen-fragmen ini kemudian menggiringnya menuju kemajuan peradaban dan kebangkitan bangsa. Mereka yakin dengan slogan “berbakti dan mengabdi untuk negara” dan label “mahasiswa sang penyambung lidah rakyat” yang mereka gunakan.

Padahal definisi mahasiswa sangatlah sederhana, hanyalah insan yang sedang melanjutkan studinya di perguruan tinggi, tidak kurang dan tidak lebih. Namun bagaimana mungkin insan dengan definisi sesederhana itu dapat memberikan pengaruh yang sangat luar biasa dari masa ke masa di bumi nusantara ini?

Apa yang terlintas dibenak kita ketika mendengar kata mahasiswa? Pergerakan? Ya, Mahasiswa memang identik dengan pergerakan. Banyak perubahan-perubahan yang terjadi di bumi nusantara ini disebabkan oleh insan yang bernama mahasiswa. Mahasiswa sering melakukan pergerakan-pergerakan ke arah perubahan untuk kemajuan bangsa. Mereka adalah insan yang dianggap masih idealis dan bersikap independen serta penentu kemajuan masa depan sebuha bangsa.

Namun makhluk yang bernama mahasiswa ini seiring dengan berjalannya waktu terinstitusikan menjadi institusi tersendiri di dalam negara, sehingga ada elemen tersendiri yang bernama mahasiswa disamping ada elemen pemerintah, dan masyarakat biasa. Kini dengan mindset “kami adalah kaum terpelajar” di benak mereka, membuat mereka sombong akan pengetahuan yang mereka miliki.

Dengan menggunakan nametag “penyambung lidah masyarakat” mereka dengan percaya dirinya mengaspirasikan pendapat masyarakat kepada pemerintah agar dapat diakomodir. Tapi bagaimana mungkin mereka mau merakyat dan mengaspirasikan pendapat masyarakat sedangkan mereka saja enggan untuk menyentuh masyarakat, untuk menyapa saja pun merasa tak sepadan karena saking tingginya derajat “mahasiswa” menurut mereka. Rupanya insan dengan merk “mahasiswa” ini sangat terpesona dengan keindahan langit  fatamorgana hasil imajinasi mereka sehingga membuat mereka melupakan bumi tempat mereka berpijak.

Apakah kita harus menjadi mahasiswa terlebih dahulu, baru kita bisa bergerak menuju perubahan yang baik? Apakah kita harus menjadi mahasiswa terlebih dahulu barulah kita bisa mengabdi dan membantu masyarakat? Pergerakan itu tidak perlu titel, kawan! Tidak perlu menjadi mahasiswa terlebih dahulu untuk bergerak dan tidak perlu menjadi mahasiswa terlebih dahulu untuk membuat program kerja tentang pengabdian masyarakat. 

Oleh karena itu, segala identitas tentang “mahasiswa” sudah selayaknya dihilangkan, agar semua orang dapat meletakkan makna “pergerakan” berdasarkan versinya masing-masing, sehingga tidak ada lagi makhluk sombong yang melabeli dirinya “hanya kami di negara ini yang mampu melakukan pergerakan demi kemajuan bangsa”. Karena pergerakan sejatinya adalah milik orang-orang yang mau bergerak. The trouble is we think we are an activist. Tidak usah melabeli diri kita terlebih dahulu, kawan.

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali” - Tan Malaka

“Pergerakan sejatinya adalah milik orang-orang yang mau bergerak” - Andi Bhatara

Salam Pembebasan.