Writers' Aid adalah nama sindikatnya. Petter memainkan peran sentralnya dalam dunia kesusastraan di sebagian besar daratan Eropa, sebagian kecil Amerika, dan beberapa negara di Asia.

Writers' Aid hanya sebuah nama. Tujuannya untuk mempermudah transaksi. Bagaimanapun juga, ungkapan untuk menyebut "sesuatu" dalam bentuk istilah dapat menambah keyakinan klien saat menandatangani kontrak perjanjian. Selebihnya, nama hanya sebuah nama.

Petter adalah penulis skrip; novel, buku ilmiah, film, teater, puisi juga prosa.

Lewat Writers' Aid, dia melambungkan nama samarannya; Si laba-laba. Jaringan skripnya menjalar ke mana-mana, memakan banyak korban. Sebagian besar adalah para penulis malas, penulis rajin yang kehilangan ide, atau para pemuda calon penulis yang memiliki semangat menggebu, tetapi minim gagasan dan tidak mau memulai.

Eminence Grise (pemain di belakang layar), Petter menamai dirinya. Ghost script writers atau king maker idea dalam istilah politiknya.

*

Buku ini salah satu karya gemilang novelis Jostein Gaader. Sebagian besar dari kita mengenalnya lewat karya feomenalnya, Dunia Sophie. Novel bertajuk filsafat itu memecahkan record dengan penjualan 40 juta eksemplar dan diterjemahkan dalam 60 bahasa sejak diterbitkannya pertama kali pada tahun 1991.

Pria kelahiran 8 Agustus 1982 ini merupakan seorang guru filsafat di Bergen, Norway. Tidak heran jika karyanya selalu berkaitan dengan ide-idel filsafat dan imajinasi. Dalam buku ini, Gaarder kembali bermain sangat apik tentang imajinasi. Lewat tokohnya bernama Petter, Gaarder menitip tokoh bayangan. Ini salah satu ciri khasnya.

Pada Sophie, dia menitip Alberto yang tidak lain ternyata ayahnya. Pada Anna, dia menitip Nova yang ternyata cicitnya di masa depan. Pada Georg, dia menitip Jan Olav yang ternyata juga ayahnya. Pada Cecillia, dia menitip Ariel malaikat pelindungnya. Pada Hans Thomas, dia menitip Joker sebagai karakter kartu yang memiliki peran menarik.

Di beberapa bukunya yang lain, Gaarder sesekali keluar dari gayanya. Masih tetap menarik, hanya saja seperti kebanyakan penulis yang berubah alur, dia kehilangan pijakan, seperti bukan Gaarder. Sebut misalnya dalam karyanya House Of Tales, dengan tokohnya Albert dan Airin, Gaarder ingin bermain teka-teki soal kematian.

Meski pesannya tersalurkan dengan baik, tetapi jika dilihat dari sudut pandang 'Gaarderian' buku House Of Tales bagi saya adalah salah satu buku yang “gagal”. Setidak-tidaknya, tidak semenarik karyanya yang lain.

Di tangan Gaarder, pembahasan filsafat seperti kerupuk yang dibasahi kuah bakso, lembek, receh. Memang asik dipelajari, tidak rumit dan membosankan, tetapi bagi saya ini membuat filsafat kehilangan rohnya, bak kerupuk yang kehilangan kerenyahannya, seperti tidak bernyawa, hilang pula kesakralannya.

Lewat tokohnya Patter-Si laba-laba, kita kembali diajak bermain imajinasi oleh Gaarder. Dia selalu punya cara yang menarik untuk menjelaskan sesuatu.

**

Terlepas dari narasi-narasi inspiratif dalam buku ini, kisah Petter berakhir menjijikan. Dia harus rela menanggung beban psikologis karena telah meniduri anak biologisnya yang tidak pernah ditemuinya selama 27 tahun.

Singkat cerita, Petter, lengkap dengan perangkat Writers' Aid, harus berkeliling dunia sebagai buronan karena Si laba-laba telah ketahuan memperjual-belikan skrip yang mengancam dunia kesusastraan Eropa.

Eropa kebanjiran novel, puisi, sastra di tahun yang sama. Penulis-penulis baru bermunculan seperti jamur usai musim penghujan. Memang gaya menulis ala Si laba-laba dapat diubah dengan mudahnya oleh Petter. Tapi sebagaimana manusia yang memiliki sidik jari, tulisan Petter tetap memiliki ciri khas yang bisa dikenali.

Para mafia, pun stakeholder yang merasa terancam dengan keberadaan skrip-skrip unggul dalam kepenulisan, mulai melakukan penyelidikan yang akhirnya bermuara pada satu nama; Petter.

Satu hal; Petter kecil memang seorang pemakan buku. Ensiklopedia, manuskrip tua, dan kitab-kitab klasik milik keluarganya dibaca habis saat anak seumurannya sedang asik bermain peta kumpet. Ini salah satu pesan tersiratnya, bahwa penulis hebat adalah "pemakan" buku. Kemandirian imajinasi Petter lahir dari sana, dari buku-buku bacaannya.

Petter juga menyukai musik klasik, dia bisa berdialog dengan pikirannya sendiri saat mendengarkan lagu klasik. Imajinasinya berlompatan ke sana-kemari seketika seiring dengan alunan musik klasik.

Lambat sedikit saja Petter menuliskan imajinasinya, ia akan ditimpali oleh imajinasi yang lain, yang tentu lebih fenomenal.

Wajar jika sisi lain dari Petter adalah seorang romantis, mampu menaklukan banyak perempuan. Ini sedikit banyak dipengaruhi oleh musik klasik kegemarannya. Yang menarik bahwa tipe perempuan yang ditaklukan oleh Petter tidak spesifik. Dia bisa dengan gampang menarik perempuan model apa saja di kasur empuknya.

Andai Petter hidup di Indonesia, dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari kebiasaan ini. Setidaknya Petter harus terbiasa mendengarkan lagu indie lalu membiasakan diri nongkrong menikmati kopi dan senja jika ingin mendapatkan gadis cantik. Rendahnya budaya literasi negara ini membuat buku atau pembaca buku terlihat seperti orang aneh yang pantas mendapat bulian.

Meski akhirnya Petter menemukan gadis yang memaksanya takluk. Gadis ini seperti cerminan diri Petter, memiliki imajinasi yang lebih liar dan luas. Seorang yang lebih tua 10 tahun darinya, seorang yang bisa membuat Petter berani mengesampingkan standar-standar hidupnya dalam berkomunikasi dan berbagi informasi.

Petter sebenarnya orang yang sangat berhati-hati dalam memberikan informasi apa pun, tetapi tidak berlaku untuk gadis ini.

Bagi Petter, gadis ini dikirim khusus untuknya. Semua imajinasi Petter dibeberkan dalam bentuk deskripsi wacana. Hebatnya, gadis ini bisa menghafal semua cerita yang disampaikan oleh Petter bahkan jika itu hanya sekali cerita.

Sayang, kisah cintanya tak berjalan mulus seperti skrip imajinasinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Petter harus melerai lara karena kehilangan gadis pujaannya. Gadis ini harus meninggalkan Norwegia untuk melanjutkan studi ke wilayah Georg.

Tetapi sebelum itu, sekali lagi, Petter dibuat tercengang oleh gadis ini. Ia diminta secara terang untuk menjadi ayah dari anak yang akan dilahirkannya. Perjanjiannya hanya satu, setelah membuahi rahim gadis ini, Petter harus berjanji untuk tidak pernah lagi menemui anak biologisnya dalam kesempatan apa pun.

Gadis Eropa, meski tidak bisa digeneralkan, karakter mereka memang selalu hadir berbeda dari kebanyakan perempuan lain di belahan bumi ini. Di beberapa novel Eropa lain, perempuan sana dijelaskan cukup gamblang; soal bagaimana mereka melihat laki-laki, menentukan kriteria, membangun hubungan, sampai cara mereka menikmati hidup.

Petualangan Writers’ Aid berlanjut. Petter terus menulis dalam pelariannya. Bukan lagi sebuah skrip untuk dijual, melainkan sebuah buku catatan harian tentang perjalanan hidupnya. Jaga-jaga, tahu-tahu maut menghampirinya dalam keadaan tiba-tiba.

Ini kali pertama Petter menulis untuk dirinya. Sejak awal ia memang tidak mau jadi penulis, atau setidak-tidaknya tidak ingin dikenal sebagai penulis. Writers’ Aid hanya sebagai wadah untuk menyalurkan imajinasi yang selalu datang tak terduga dan tak terkontrol.

Petter memunyai teman mimpi. Seorang laki-laki tua yang memiliki tinggi kurang lebih 1 meter, berjubah dan menggunakan topi sulap berwarna hijau. Seperti gambaran kurcaci di mitologi dunia peri. Kurcaci inilah yang terus menemani Petter-Si laba-laba dalam usaha pelariannya.

Kurcaci ini selalu muncul dalam mimpi Petter kecil. Sampai suatu ketika di pagi buta, Petter menemui kurcaci itu di ruang keluarga rumahnya dalam keadaan sadar. Sejak saat itu, kurcaci 1 meter ini tidak lagi muncul di dunia mimpi Petter, dia keluar dan berkeliaran di dunia nyata.

Kurcaci ini jugalah yang selalu mengilhami Petter dalam menghasilkan skrip fenomenal. Lelaki 1 meter ini mampu membuat Petter berdialektika dengan pikirannya sendiri hanya dengan melihatnya bergerak ke sana-kemari atau bertatap muka. Imajinasi Petter langsung berlompatan seiring dengan lompatan jenaka si kurcaci.

Dalam pandangan saya, kurcaci ini seperti pikiran (akal). Gaarder memang selalu menyoal posisi akal dalam beberapa bukunya. Dalam karyanya Dunia Cecillia, dia menjelaskan soal posisi akal dan ingatan serta menanyakan posisi imajinasi dalam otak manusia.

Begitu juga dalam karyanya House of Tales, Dunia Cecilia, dan Gadis Jeruk, dia kembali menyinggung soal mimpi dan imajinasi. Dari mana asal dan ke mana pikiran-pikiran itu saat sifat manusia mendominasi; lupa, salah, hilang, lalu mengingat kembali.

Menarik!

***

Kehadiran penulis seperti Gaarder di era modern ini memang menjadi berkah tersendiri. Kemajuan teknologi, kemudahan akses informasi kadang membuat kita menjadi manusia praktis.

Apa saja yang Anda butuhkan, tinggal search, tidak perlu membaca buku tebal dan menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari informasi potongan atau mempelajari sesuatu. Jika Anda butuh buah pikiran salah satu filsuf, mengetik nama tokohnya di mesin pencarian, maka Google akan memberikan semua informasi yang dibutuhkan. Praktis.

Ini bisa menjadi renungan, cara para penulis untuk menarik minat pembaca hingga rela menghabiskan waktu duduk membaca karyanya harus ditinjau ulang. Tentu di luar dari konteks kualitas tulisan yang dihasilkan. Yang satu ini wajib adanya.

Di luar dari efek menjadi recehnya filsafat di tangan Gaarder, ia hadir dengan gaya tulisan yang menakjubkan. Membuat tertarik para pembacanya dan dengan ikhlas kehilangan banyak waktu untuk menghabiskan buku karyanya.

Ini buku ke-9 dari sederet karya Gaarder yang memaksa saya duduk tenang menikmati alur ceritanya.

Bagi saya, Gaarder cukup pantas untuk menjadi contoh bagi penulis lain dari disiplin ilmu dan pembahasan apa pun. Dia bisa jadi kunci untuk menghadapi generasi abad 21 yang perlahan melihat buku sebagai benda asing.

  • Judul Buku: Princess of Tales
  • Penerbit: Mizan Pustaka, 2006
  • Penerjemah: A. Rahartati Bambang
  • Tebal Buku: 394 Halaman