"Anak gadis kok masih tidur?" Kata mereka membangunkanku sambil menggedor-gedor pintu rumah. Jam memang menunjukkan 09.12 pagi ini. Aku segera bangun, bangkit dari ranjang membuka pintu.

"Tadi aku sudah bangun jam enam pagi untuk salat subuh. Tapi, tidur lagi." Begitu alasanku sambil menguap, aku masih mengantuk. Aku semalam memang begadang di depan laptop, ditambah insomnia sedikit. Belum tahu mereka, aku bisa tidur sampai siang hari.

"Bagaimana jodohnya mau datang? Bangun tidur itu harus langsung buka jendela lebar-lebar, biar jodoh cepat datang." Kata mereka lagi. 

Aku jadi benar-benar terbangun. Kata-katanya "nyelekit" yang sering bahkan selalu aku dengar dari orang-orang. Anak gadis kalau bangun tidur itu harus segera membuka jendela lebar-lebar biar jodohnya segera datang.

Dan kalimat ini ada lagi dari keluargaku. Mereka adalah keluargaku yang datang berkunjung. Sedangkan aku baru saja bangun. Rese! Apa salahnya aku tidur sampai siang? Toh, jodohku memang belum datang?

Aku jadi ingin menjadi reinkarnasi Puteri yang "tertidur" selama 100 tahun, si Sleeping beauty. Si Sleeping Beauty alias si Aurora dikutuk oleh peri jahat agar tertidur. Si puteri bisa bangun ketika ada seorang pangeran melepaskan kutukan si puteri dengan ciuman. Sang puteri dan pangeran memang jodoh. Mereka menikah.

Sang Sleeping Beauty

Kenapa sih, membuka jendela di pagi hari membuat jodoh "anak gadis" datang? Bagaimana dengan "anak perjaka"? Apakah juga berlaku hal yang sama? Yang ada jika anak laki-laki bangun kesiangan, yah wajar. Mereka pun tidak perlu membuka jendela lebar-lebar.

Perempuan? Anak perempuan yang serumah dengan keluarganya "Wajib" bangun pagi, langsung membuka jendela, langsung kerja di dapur; mencuci piring, memasak air, menggoreng nasi, membuat teh dan atau kopi.

Ketika siang hari; membersihkan rumah, menyapu lantai, menunggu penjual sayur atau dan ke pasar membeli ikan, memasak lagi.

Ketika malam hari; menyediakan makan malam, menyetrika pakaian sambil menonton Tv, main hape... apalagi? (Tambahkan saja sendiri, girls!). Ribet!

Untungnya, aku tinggal sendiri. Aku bebas jadi diriku sendiri. Bebas melakukan semua hal yang kusuka. Mulai dari tidur, makan, bekerja, dan lain sebagainya. Alurnya; makan, tidur, makan, tidur, dan mengetik.

Jika tinggal sendiri itu, aku mau bangun jam berapa pun tidak ada yang melarang. Tidak harus segera bangun untuk bergegas membuka jendela. 

Ngomong-ngomong, sekali lagi, mereka yang suka bilang perempuan harus bangun pagi-pagi itu harusnya tahu. Si Sleeping Beauty yang rebahan terus saja bangun-bangun langsung bertemu jodohnya, dapat pangeran lagi.

Lalu, tidak ada yang sibuk menanyakan "Kapan menikah?" Palingan, dikomenin di media sosial, grup WhatsApp. Terus, aku mau masak apa pun, semuanya terserah aku. Tidak ada yang bilang; sayurmu kebanyakan garam, atau ikan masakmu kelebihan kunyit.

Kata ibuku, dulu di kampungku, Mandar, katanya, alasan keluarga perempuan menolak pernikahan karena dua hal; pertama, karena si perempuan masih sekolah. Kedua, karena si perempuan tidak tahu masak.

Waduh, alasan yang kedua ini bikin "sebel" lagi. Kata tanteku; maksud jika perempuan tidak bisa masak, dia (perempuan) tidak bisa menjaga makanan suaminya karena cinta perempuan salah satunya lewat masakan (makanan).

Lagi-lagi, mereka harusnya tahu, jika si Sleeping Beauty saja tidak bisa masak. Dia hanya tahu "piknik" di taman istana. Dia bermain dengan binatang-binatang lucu koleksinya. Atau dia menjadi "tersesat" di istananya yang besar dan megah.

Bukan gue banget. Aku ingin belajar buat kue tapi kayaknya lebih baik aku bikin tulisan di Qureta. Atau aku ingin belajar bikin Jalangkote tapi kayaknya tulisan untuk jurnalku belum beres.

Jadi, apa yang ingin kukerjakan hari ini? Kayaknya, aku melanjutkan menulis saja. Aku lagi menulis sebagai kontributor book chapter. Biar aku punya anak, hasil tulisan maksudnya. Bukankah tulisan juga merupakan hasil? Hasil pikiran dengan mencurahkan isi hati dan menguras otak. Maka jadilah, my baby...

Lama-lama, jariku yang lelah mengetik pun tertusuk oleh sengatan listrik dari laptop. Seperti sang Sleeping Beauty yang mencoba alat memintal lalu jarinya tertusuk alat pemintal tersebut. Kemudian dia jatuh tertidur. Dan aku pun jatuh tertidur seperti sang puteri.

Tiba-tiba, hapeku berbunyi. Aku refleks bangun dengan kaget. Kuliat yang menelpon "My Prince". Aku segera memperbaiki posisi, bangun dan duduk di depan laptop.

"Halo, siang..." kataku dengan pelan karena baru sadar.

"Siang, kak." katanya. "Bagaimana mi book chapter ta?" Tanyanya.

"Iye, lagi saya kerja mi ini. Kita iya?" 

"Saya lagi kumpulkan ide ini, kak..."  katanya.

Dan aku kembali melihat diriku sebagai Sleeping Beauty dalam sebuah kamar yang indah dalam istana. Aku tertidur dengan paras yang sangat cantik (tidur memang bikin cantik). Lalu, seorang dengan pakaian kebesaran, jubah hitam, terlihat gagah datang menghampiriku. Sang pangeran terlihat adalah orang yang menelpon tadi. 

Dia duduk di samping pembaringanku. Dia mendekatiku, mukanya hanya semeter dariku, baru saja dia ingin menciumku. Tapi...

"Halo kak. Tidak mengganggu ja ini?" Tanya si penelpon. 

"Ow, iye... " kataku gelagepan. Aku tadi memang sempat melamun. Akhirnya, aku sadar. Aku mungkin terlalu banyak menonton YouTube, Sleeping beauty atau terlalu banyak rebahan?

Setelah ini, aku mau rebahan lagi ah. Biar dapat mimpi yang sama, jadi Sleeping Beauty yang didatangin pangeran. Siapa tahu lamunan tadi jadi kenyataan... mmmuahhh.