Rebahan mungkin sudah bukan istilah asing lagi bagi telinga kita, khususnya generasi millennial. Kegiatan yang sangat sederhana dan juga paling mudah dilakukan ini tentunya menjadi salah satu kegiatan yang digemari oleh segala kalangan. 

Dilakukan sambil menonton bisa, sambil scroll media sosial juga bisa. Bahkan rebahan mungkin menjadi salah satu kegiatan yang membuat kita ketagihan.

Di masa pandemi ini rebahan telah menjadi hobi baru yang digemari oleh generasi millennial. Hingga tak jarang mereka membuat konten mengenai seberapa senangnya mereka melakukan kegiatan ini. Beberapa juga ada yang memberikan pendapat, mengapa mereka suka rebahan. Dan rata-rata alasan mereka sama yaitu malas untuk keluar rumah.

Namun bagi saya sendiri rebahan bukanlah sebuah hobi baru, sebab sedari dulu saya memang sudah gemar rebahan. Kegiatan apapun rasanya saya lakukan sambil rebahan seperti membaca novel, nonton drama korea, bahkan menulis buku diary pun saya lakukan sambil rebahan. Entah mengapa menurut saya kegiatan tersebut lebih nyaman dilakukan sambil rebahan.

Di masa sekarang rebahan tetap menjadi salah satu kegiatan yang semakin sering saya lakukan. Sebab, ketika sekolah tatap muka dahulu waktu untuk dapat rebahan tidak banyak. Maka dari itu, saya melakukannya dengan tujuan memuaskan dan mengistirahatkan diri. Hingga hampir setiap hari kegiatan yang saya lakukan hanyalah rebahan, rebahan dan rebahan tanpa melakukan kegiatan produktif apapun.

Semakin lama saya merasa rebahan bukan menjadi kegiatan yang sehat lagi, karena pada akhirnya saya lupa waktu akibat keasyikan rebahan. Bahkan dapat dihitung saya hanya keluar kamar enam kali sehari, sungguh miris bukan? Setiap harinya ibu saya tak hentinya menegur saya  agar produktif dan tidak hanya rebahan di kamar saja. Namun, saya selalu menjawab “Besok saja Bu,” padahal keesokan harinya saya tetap melanjutkan kegiatan rebahan saya seperti sebelumnya.

Pernah suatu waktu saya telah berencana untuk produktif dengan mencoba mengerjakan kegiatan yang bermanfaat. Namun faktanya, ketika sudah merencanakan suatu kegiatan saya teringat untuk membuka media sosial dan berakhir pada rebahan lagi. Tak dimungkiri sampai  saat ini, yang mana perkuliahan sudah mulai aktif dan tugas pun menjadi banyak mungkin banyak generasi muda termasuk saya yang masih saja memiliki waktu luang untuk rebahan. 

Padahal ada sesuatu yang saya sadari, bahwa dengan rebahan saya telah banyak membuang waktu dengan sia-sia.

Seharusnya saya bisa menggunakan waktu tersebut untuk mendapatkan banyak informasi terkini dari media sosial serta menjadi waktu pengembangan diri selama masih di rumah saja. Menghilangkan kebiasaan rebahan ini memang sangat sulit untuk dilakukan. Dengan  tersedianya fasilitas instan yang mendukung untuk kita terus rebahan, membuat kita malas beraktivitas. 

Namun, seperti yang kita ketahui bahwa terlalu banyak rebahan itu memang tidak baik. Karena dapat berdampak buruk pada diri kita sendiri tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga pada karakter kita. Terbiasa rebahan akan mengakibatkan kita kehilangan motivasi untuk beraktivitas. Sehingga penting bagi kita untuk mengurangi kuantitas rebahan. 

Saya pernah memiliki pengalaman yang cukup membuat saya menyesal karena keasyikan rebahan. 

Pada liburan kelulusan sekolah, saya memiliki target untuk bisa belajar bahasa asing dan mempersiapkan diri untuk mengikuti tes perguruan tinggi yang saya minati pada saat itu. Namun, karena keasyikan rebahan rencana saya tersebut gagal dan tidak terlaksana. Berdampak pada hasil tes yang kurang maksimal, sehingga saya tidak bisa lulus pada saat itu. 

Hal tersebut membuat saya belajar bahwa terlena akan rebahan itu benar-benar merugikan. Dari waktu yang terbuang sia-sia serta banyak peluang dan kesempatan yang kita lewatkan begitu saja. 

Sebenarnya kita bisa membuka peluang dengan menjadikan rebahan sebagai salah satu pintu keberhasilan. Dari rebahan bukan berarti kita pasrah pada keadaan.

Kita bisa mengubah pola pikir kita dengan membaca peluang yang ada. Meskipun kita rebahan, setidaknya ada manfaat yang kita peroleh.  

Jika generasi muda saat ini cenderung banyak menghabiskan waktunya untuk rebahan dengan menggunakan media sosial, seharusnya kita dapat memanfaatkannya sebagai tempat untuk kita produktif. Salah satunya, dengan mencari informasi baru mengenai hobi yang kita tekuni ataupun mengenai kegiatan yang kita gemari setiap saat.

Kalau saya sendiri, cara untuk bisa memanfaatkan hobi rebahan agar bermanfaat yaitu dengan mengikuti beberapa lomba desain secara online karena kebetulan saya suka mendesain. Lalu, berburu webinar gratis yang memberikan sertifikat, sehingga tidak hanya mendapat ilmu saja namun juga mendapat sertifikat yang nantinya bisa kita manfaatkan. Selain itu, biasanya saya juga suka menonton dan membuat konten video sebagai hiburan tersendiri.

Seperti yang telah saya sampaikan, faktanya memang sangat banyak kegiatan yang dapat dilakukan meskipun kita sedang rebahan.  Seperti menulis dan membuat karya berupa artikel, esai, desain grafis, lalu mengikuti berbagai perlombaan online dan juga seminar online

Di zaman serba digital ini, tentunya semua dapat dilaksanakan secara instan sambil rebahan pun juga bisa. Tak sedikit anak muda sekarang berusaha menghasilkan uang dengan berbisnis dan membuat konten video kreatif di media sosial seperti Instagram, Tik-tok, dan YouTube.

Tak hanya itu, ada kegiatan lain yang bisa kita lakukan sembari rebahan yaitu, membaca buku, berlatih bahasa asing, dan menonton film yang bermanfaat sehingga kita bisa mengambil pelajaran dan memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin. 

Dengan membaca buku dan mencari informasi di internet, tentunya dapat menambah wawasan kita. Dengan belajar bahasa asing, kita memiliki kemampuan yang lebih dalam berbahasa dan dengan menonton film, kita tidak hanya sekedar refreshing tetapi juga memperoleh informasi bahkan ilmu baru yang bermanfaat.

Maka dari itu mari kita manfaatkan waktu kita dengan sebaik mungkin. Rebahan pun tak apa asal jangan berlebihan. Kita jadikan kegiatan rebahan ini menjadi bernilai dan bermanfaat. Sehingga rebahan bukan berarti pasrahan.