Siaran radio membuka pagi Jakarta. Pagi itu semua tampak akan berjalan normal. Seperti hari-hari lain.

AKBP Ardi (Ario Bayu) menyiapkan sarapan untuk anak serta istrinya. Ardi adalah seorang polisi anggota unit khusus anti terorisme. Polisi lalu lintas Firman (Ade Firman Hakim) mengelilingi lintasan lari.

Dessy (Ardinia Rasti), perempuan pekerja yang mengejar rapat pagi, menyetir dengan terburu-buru hingga melanggar lampu merah. Dessy kemudian ditilang Firman. Mitha (Hana Malasan), perempuan pekerja yang sedang menyiapkan presentasi di gerai kopi.

Kisah yang lebih kompleks terlihat pada hubungan Anas (Ence Bagus) dan Hasan (Fanny Fadillah). Anas berusaha mencarikan kerja untuk kakaknya yang telah menganggur tujuh bulan. Hasan sebenarnya enggan bekerja di bawah orang lain. Semua karakter digambarkan dalam lima subplot yang bertemu pada tragedi bom di daerah Sarinah, Thamrin.

Kurang lebih selama 15 menit pertama, film ini terasa bertele-tele. Tidak terasa isyarat inti konflik film ini. Beberapa karakter yang nantinya akan diketahui sebagai teroris memang disorot. Namun sama sekali tidak ada tanda-tanda mereka merencanakan sesuatu yang besar. Figuran yang disorot juga terlalu banyak. 

Konflik batin para karakter dalam film ini sama sekali tidak digarap dengan wajar. Ardi hanya digambarkan sebagai polisi jagoan. Kegamangan batin yang bisa dieksploitasi lewat hubungan Ardi dengan putrinya dibiarkan begitu saja.

Demikian pula fragmen-fragmen karakter lain. Hanya hubungan Anas dan Hasan yang memperlihatkan kerentanan dalam hati keduanya. Itupun tidak maksimal.

Tentu yang paling buruk adalah tidak dijelaskannya konflik emosi para teroris. Tokoh-tokoh antagonis di situ hanya digambarkan mengeksekusi aksi teror. Tidak dijelaskan motif ideologis ataupun kerentanan emosi mereka.

Teknik pengambilan adegan maju-mundur-maju cukup menarik. Sudut pandang dalam lima subplot yang ditemukan dalam alur cerita ledakan besar. Tampaknya, sutradara Eugene Panji dan Myrna Paramita terinspirasi oleh Vantage Point (2008). Tata suara dan musiknya terasa mencekam. Kredit untuk Andi Rianto yang berhasil menambah seram adegan teror.

Sisi yang cukup menarik dalam film ini adalah ditampilkannya Standard Operation Procedure (SOP) penanganan teror yang meyakinkan. Film 22 Menit juga berusaha menampilkan citra polisi lalu lintas yang sigap, tegas, bersih sekaligus komunikatif dalam berhubungan dengan warga kota.

Para aktor dan aktris bermain cukup aman. Ario Bayu berhasil menampilkan karakter polisi gagah yang berani melawan teroris sekalipun tanpa helm pengaman. Caranya memegang senjata sangat meyakinkan. 

Kerapuhan Anas juga berhasil disajikan Ence Bagus. Sayang naskah cerita yang lemah gagal meledakkan potensi akting para pemeran lain seperti aktor senior Mathias Muchus.

Film 22 Menit, sepertinya, dirancang sebagai film penanda sejarah tragedi Bom Sarinah yang terjadi di Jakarta pada Januari 2016 lalu. Para penonton diharapkan akan dapat mengingat tragedi bom tersebut melalui film ini. 

Sayang, naskah cerita yang lemah, membuat film ini hanya terasa seperti reality show polisi 86 di NET TV. Tidak lebih. Penonton akan keluar bioskop tanpa memori apa pun terhadap film ini.

Official Trailer 22 Menit