Pernahkah terbayangkan oleh Anda menikmati sensasi berkeliling dunia tanpa perlu mendatangi tempatnya secara langsung ? Kini semuanya telah mungkin dengan adanya bantuan VR (Virtual Reality).

Virtual Reality atau VR merupakan teknologi yang dapat menayangkan sebuah objek, baik berupa pemandangan alam, suasana gedung, dan sebagainya. Cara kerja teknologi ini adalah mensimulasikan objek nyata ke dalam layar 360 derajat sehingga membuat penggunanya merasakan sensasi berada di suatu tempat dengan segala suasananya.

Wisatawan pada umumnya akan melakukan survei atau mencari informasi untuk kegiatan wisata yang hendak mereka lakukan. Hal ini sudah menjadi budaya wisatawan dalam pariwisata. Hingga pada akhirnya sebuah destinasi melakukan promosi dengan berlomba-lomba menunjukkan bahwa destinasi mereka patut dikunjungi.

Budaya mencari informasi sebelum melakukan kunjungan tersebut terus berkembang mengikuti zaman. Kini wisatawan dapat dengan mudah mendapat segala informasi melalui media sosial.

Tetapi, promosi secara langsung pun juga makin gencar dilakukan dengan menampilkan cara yang bervariasi. Salah satunya adalah menggunakan teknologi canggih terbarukan, yaitu VR.

VR kini telah memasuki dunia pariwisata. Hal ini tentunya dapat memberikan poin lebih bagi pariwisata karena telah berkembang mengikuti zaman yang serba-teknologi. VR dalam pariwisata dapat membantu mempromosikan tempat-tempat wisata yang terbilang cukup sulit dijangkau tetapi memiliki potensi yang besar untuk dijadikan tempat wisata.

Contoh penggunaan VR sebagai media promosi ada pada acara Travel Revolution 2018 di Singapura. Di acara tersebut, Indonesia berkesempatan untuk mempromosikan segala hal tentang Indonesia, baik berupa budaya, wisata alam, wisata buatan, dan sebagainya, kepada masyarakat Singapura menggunakan VR.

Dengan VR, masyarakat yang mencoba akan mendapatkan sensasi dan pengalaman seolah-olah berada di Indonesia sehigga membuat mereka tertarik untuk datang ke Indonesia. Setelah muncul ketertarikan untuk mengunjungi Indonesia, mereka diarahkan ke agen-agen wisata yang menyediakan berbagai paket wisata di Indonesia.

Selain digunakan untuk mempromosikan destinasi, VR dapat digunakan sebagai media untuk menyebarkan informasi tentang hotel dan travel agensi. Jika selama ini pihak hotel dan travel agensi hanya mengandalkan pamflet dan brosur dua dimensi, kini, dengan menggunakan VR, informasi yang diberikan lebih jelas dan menarik.

Dengan menggunakan VR, pihak hotel dapat mempromosikan hotelnya dengan cara menayangkan desain interior, hospitality, fasilitas, dan hal lainnya yang berkaitan dengan hotel dalam VR.

Contohya adalah jaringan Hotel Marriot yang mulai merambah teknologi Virtual Reality Tourism. Marriot mulai menawarkan layanan VRoom, di mana para pelancong yang menginap di hotel mereka kini dapat menikmati keindahan lokal tanpa harus meninggalkan kemewahan di kamar hotel yang mereka pesan.

VR juga bisa membantu kita selama traveling. Aplikasi ini dapat di-instal di smartphone turis yang berguna untuk mengidentifikasi di mana dia berada dengan bantuan teknologi GPS. Dalam hal ini, VR berperan sebagai asisten pribadi yang akan memberikan informasi tambahan terkait destinasi yang dikunjungi.

Pada umumnya, sebuah destinasi wisata memberikan brosur dan bantuan tour guide untuk memberikan informasi terkait tempat wisata tersebut. Kebiasaan lama ini cenderung membuat wisatawan mudah bosan dan malas memahami informasi yang ada. Dengan VR, informasi yang diberikan akan dikemas lebih menarik.

Selain dapat membantu dalam bidang pariwisata, VR sendiri masih menjadi kontroversi di beberapa kalangan karena ada sebagian orang yang menyalahgunakan fungsi VR. Sejatinya, VR digunakan sebagai alat bantu untuk mempromosikan sebuah tempat wisata dan bertujuan menarik wisatawan untuk datang berkunjung ke tempat wisata tersebut.

Konsep VR menjadi salah ketika pengguna beranggapan bahwa, setelah menggunakan VR, statusnya berubah menjadi seorang “wisatawan” dan dia merasa tidak perlu untuk mengunjungi tempat wisata tersebut.

Hal tersebut bertentangan dengan definisi dari pariwisata itu sendiri, yaitu aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh seseorang selama periode waktu tertentu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan alasan bukan untuk menetap atau mencari nafkah, melainkan hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang atau libur, serta tujuan-tujuan lainnya.

Peran dari wisata offline tidak bisa digantikan dengan wisata Virtual Reality (VR) karena esensi dari berwisata itu sendiri adalah pengalaman atau experience.

VR juga memiliki kekurangan, salah satunya adalah, dengan menggunakan VR, wisatawan tidak bisa mendapatkan pengalaman langsung tentang tempat wisata tersebut, seperti wisatawan tidak dapat mencicipi makanan khas tempat tersebut dan/atau wisatawan tidak dapat berkomunikasi dengan warga lokal secara langsung.

Hal lain juga yang masih menjadi penghambat VR, yaitu teknologi dan internet. Semua negara memiliki tingkat kemajuan teknologi dan internet yang berbeda-beda. Hal inilah yang membuat tingkat penyebaran VR tidak maksimal sehingga tidak menjangkau semua kalangan/negara.

Dengan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep dari berwisata itu sendiri adalah mengenai pengalaman atau experience, sehingga wisata offline tidak bisa digantikan dengan wisata VR. VR hanya sebagai alat terbarukan dalam budaya penentuan tujuan wisata oleh wisatawan dengan mempertimbangkan promosi-promosi.