Mahasiswa
2 tahun lalu · 1656 view · 4 menit baca · Filsafat postmo.jpg
Foto: technabob.com

Realitas dan Masyarakat Kontemporer

Memasuki abad 21, kehidupan manusia mulai berubah secara signifikan. Orang-orang kini lebih gandrung menghabiskan waktu sendirian daripada menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga. Orang-orang kini memiliki realitasnya sendiri, ada yang menempatkan realitasnya pada dunia luar seperti interaksi sosial biasa layaknya makhluk hidup biasa dan ada juga yang menempatkan reslitasnya pada berbagai ukuran layar kaca.

Jean Baudrillard memiliki konsep hyper-reality sebagai gambaran dari orang-orang yang terjebak pada realitas yang terdapat pada layar kaca tersebut. Namun, sebelum kita membahas mengenai apa itu hyper-reality, ada baiknya kita terlebih dahulu beranjak dan mengetahui konsep tentang apa itu realitas terlebih dahulu.

Realitas, apakah itu realitas? Realitas, apakah realitas itu adalah sesuatu yang real yang hanya dapat ditangkap indra saja? Dan apakah yang tidak dapa ditangkap oleh indra itu bukanlah realitas? Lalu, apakah realitas itu bersifat fisik atau non-fisik? Lalu, apakah yang nyata hanyalah yang dapat ditangkap oleh indra dan hal yang melampaui fisik (metafisik) dianggap tak nyata?

Kemudian, apakah realitas itu bersifat objektif (mengobjek) dan sementara yang tak memiliki kualitas objektif (metafisis) tidak dapat disebut sebagai realitas? Tercatat sejarah panjang di dalam perdebatan panjang mengenai realitas di dalam filsafat. Dimulai dari pertanyaan yang bersifat fundamental: Apa itu realitas?

Dalam sejarah filsafat, pandangan mengenai realitas yang harus bersifat materi dan objektif yang hanya dapat dikenali lewat mekanisme intuisi dan indra tentu akan membawa kita pada arah pandangan materialism. Sementara di sudut lain, penjelajahan mengenai adanya realitas yang lain di balik yang materi dan yang hanya bisa kita tangkap lewat kapasitas akal budi seperti ide, gagasan, Tuhan dan esensi membawa kita ke arah pandangan idealisme mengenai realitas.

Di masyarakat, biasanya realitas dipahami dan hanya dimaknai seperti oposisi biner: benar atau salah, baik atau buruk sampai hitam atau putih. Namun sebenarnya realitas lebih dari itu, realitas dalam kehidupan sesungguhnya justru menyediakan banyak sekali kemungkinan dan tidak hanya terjebak padadua pilihan yang bersebrangan. Namun, kini realitas sudah mencapai level yang lebih jauh.

Seorang filsuf kontemporer berkebangsaan Perancis, Jean Baudrillard memiliki konsep tentang realitas yang disebut simulacra dan hyper-reality. Ia menyebut simulacra adalah keadaan di mana realitas yang ada adalah realitas semu dan hyper-reality adalah keadaan dimana realitas yang ada adalah realitas buatan yang sebenarnya tak nyata namun kita menganggapnya nyata.

Dunia hyper-reality bak virus yang dengan sangat mudah menjebak masyarakat dan terbuai dengan segala bentuknya. Hyper-realitymembutakan masyarakat dengan mereproduksi berbagai macam realitas dengan berbagai cara. Tak hanya membutakan, hyper-reality juga membuat masyarakat kehilangan rasionalitasnya dengan menjebak masyarakat pada dunia virtual.

Sebagai contoh, banyak orang rela menghabiskan waktu sampai belasan jam untuk duduk di depan layar televisi atau monitor komputer hanya untuk bermain gim. Menghabiskan uang sampai puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah demi voucher yang dapat menambah durasi bermain atau mempermudah permaianan yang dimainkannya. Tak ayal, banyak kehidupan orang-orang hancur karenanya.

Fenomena hyper-reality ini sudah tercium oleh Baudrillard sejak beberapa dekade lalu dan apa yang dijabarkan oleh Baudrillard mengenai hyper-reality bahkan masih relevan sampai saat ini. Mengapa? Karena dunia kita hidup ini memliki banyak sekali informasi tetapi tak ada maknanya, begitulah dunia kita saat ini menurut Baudrillard. Dan fenomena hyper-reality seperti menjadi jalan baru yang memuluskan kapitalisme di era sistem informasi yang serbacepat ini.

Banyak orang bekerja siang dan malam untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan. Para kapitalis mereproduksi berbagai realitas lewat iklan dan  memanipulasi kebutuhan kita. Membuat kita justru membeli barang yang tidak terlalu kita butuhkan dibanding barang yang kita butuhkan. Atau, membeli jenis barang yang sama tapi dengan harga yang berkali lipat lebih tinggi padahal hanya karena berbeda merk saja.

Iklan-iklan yang terdapat pada berbagai media seperti televisi dan radio tak ubahnya seperti opium yang mengandung kekuatan dan candu untuk menarik massa untuk melihat dan berpetualang dalam  ruang  maya dalam waktu yang lama untuk  membeli barang yang muncul dalam  iklan.

Beralih pada kasus yang lain, kini orang-orang seperti terjebak dalam pseudo-existence atau eksistensi semu pada berbagai media sosial. Seperti kita tahu, media sosial kini telah berkembang dan menawarkan fitur yang berbeda-beda seiring dengan kemajuan zaman. Namun, kemajuan tersebut justru menambah rentetan keanehan yang muncul pada kehidupan masyarakat kontemporer.

Kini, muncul manusia-manusia yang haus akan eksistensi. Ada orang yang merasa gatal jika sehari saja tidak mengunggah swafotonya di Instagram, ada juga yang merasa harinya kurang lengkap jika tidak membuat status yang sebenarnya adalah suatu bentuk copy-paste dari para tokoh terkemuka bahkan sampai para filsuf di Facebook.

Bahkan yang lebih absurd, kini orang-orang ada yang sampai malas untuk mandi/makan jika belum mengunggah suatu informasi kapan ia bangun dan tidur pada media sosial Path. Padahal, siapa yang akan begitu peduli kapan ia bangun dan kapan tertidur?

Jika dibandingkan, semua media sosial memang memiliki sisi baik dan buruk. Tetapi, tetap saja media sosial merupakan sebuah media yang memperlihatkan kekonyolan-kekonyolan yang tiada henti yang dapat merenggut nyawa penggunanya.

Begitulah realitas masyarakat kita pada saat ini, tak ayal banyak orang hancur kehidupannya, tak ada cara lain untuk mencegah kehancuran kita selain menyadari dan mulai memilah-milah mengenai apa yang kita butuhkan dan tidak kita butuhkan. Dan juga, kita harus mulai sadar bahwa kini kita sedang berada di “kenyataan” yang mana? Kenyataan yang memang nyata atau hanya kenyataan semu?

Kita harus mulai melihat ke dunia yang lebih nyata dibanding dunia yang terlihat nyata namun sebenarnya itu hanyalah kenyataan semu yang menggiring kita pada dunia yang sebenarnya tak begitu “berguna”.

Artikel Terkait